Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Ending Novel yang Bikin Kamu Terus Berteori dan Overthinking

4 min read
4 Ending Novel yang Bikin Kamu Terus Berteori dan Overthinking
ilustrasi orang membaca novel fiksi (pexels.com/George Milton)
  • Cliffhanger menutup cerita saat konflik memuncak tanpa resolusi jelas, sehingga pembaca terus memikirkan nasib karakter dan jawaban yang ditunda.
  • Twist ending menghadirkan pengungkapan besar yang membalik ekspektasi, mendorong pembaca meninjau ulang adegan sebelumnya untuk mencari petunjuk tersembunyi.
  • Ambiguous dan bittersweet ending memicu perenungan lewat makna yang tak pasti atau kemenangan yang dibayar pengorbanan, menciptakan emosi kompleks setelah cerita selesai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak, selesai membaca novel, bukannya merasa puas atau lega, kamu malah kepikiran terus dengan ceritanya? Saat berkegiatan pun masih sibuk menciptakan teori sendiri di kepala. Kondisi itu wajar dialami oleh penikmat karya ketika menamatkan buku.

Namun, hal itu terjadi bukan karena cerita yang disajikan terbilang jelek, melainkan karena ceritanya berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca. Ada banyak cara bagi penulis untuk menutup kisah yang mereka tulis dalam novelnya, sejumlah ending tertentu dianggap lihai dalam memainkan emosi pembaca, membuat pembaca menerka-nerka, dan memicu overthinking. Penasaran apa saja jenis ending cerita tersebut? Yuk, simak ulasan berikut!

  1. 1. Cliffhanger ending

    ilustrasi orang membaca novel fiksi
    ilustrasi orang membaca novel fiksi (pexels.com/George Milton)

    Jenis ending pertama yang sering membuat pembaca mengalami overthinking adalah cliffhanger ending. Cliffhanger merupakan penyusunan alur cerita yang berakhir dengan ketegangan, tapi gak disertai dengan penyelesaian yang jelas atau resolusi. Novel yang mengusung ending ini biasanya menutup bab terakhir saat konflik mencapai puncaknya. Teknik ini kerap kali digunakan untuk film ataupun novel yang punya lanjutan cerita di sekuel mendatang. Contoh ending ini seperti, tokoh utama tiba-tiba ditikam dari belakang oleh seseorang, dan cerita berakhir sebelum diketahui apakah ia selamat, dan siapa yang membunuhnya.

    Cliffhanger memang ampuh menguras emosi pembaca karena membuat rasa penasaran mereka digantung. Ketika kamu selesai membaca novel dengan ending cliffhanger, alih-alih merasa puas, kamu justru greget karena gak ada jawaban pasti yang diberikan penulis saat itu juga. Alhasil, selama beberapa hari ke depan, kepalamu sibuk memikirkan nasib sang karakter.

  2. 2. Twist ending

    ilustrasi orang membaca novel fiksi
    ilustrasi orang membaca novel fiksi (pexels.com/Sam Lion)

    Twist ending adalah penyusunan alur cerita yang berakhir dengan kejutan besar yang membalikkan seluruh fakta atau ekspektasi pembaca. Jadi, sebuah kisah gak berjalan sesuai dugaan, melainkan ditutup dengan pengungkapan yang mengubah cara pembaca memahami cerita. Novel yang mengusung ending ini biasanya mengungkapkan informasi penting di akhir, menciptakan efek plot twist yang mendalam sehingga pembaca terkesima. Contoh ending ini seperti, sang pembunuh ternyata merupakan teman dekat tokoh utama.

    Twist ending dinilai ampuh memicu overthinking karena berhasil mengecoh pembaca. Saat buku ditutup, kamu pasti akan speechless, lalu mendadak membaca ulang adegan-adegan sebelumnya untuk mencari petunjuk tersembunyi. Novel-novel karya Tere Liye banyak menggunakan teknik twist ending dalam ceritanya, seperti Sesuk, Hujan, dan Ayahku (Bukan) Pembohong.

  3. 3. Ambiguous ending

    ilustrasi orang membaca novel fiksi
    ilustrasi orang membaca novel fiksi (pexels.com/Sam Lion)

    Ambiguous ending juga gak kalah sukses membuat pembaca overthinking. Ambiguous merupakan penyusunan alur cerita yang menutup kisahnya dengan keambiguan. Jenis ending cerita ini berbeda dengan open ending, ya.

    Melansir laman Good Dreamer, jika open ending merupakan akhir cerita yang gak memiliki kelanjutan yang jelas, ambiguous ending merupakan jenis ending yang banyak menyelipkan tanda tanya besar dalam setiap alurnya. Selain itu, ambiguous ending juga punya dua sisi sehingga pembaca akan dibuat gak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi.

    Jenis ending ini sering kali membuat pembaca menerka-nerka sendiri maksud dari akhir cerita yang dibacanya. Seusai membaca, kamu barangkali berdebat dengan pembaca lain soal makna di balik akhir cerita itu. Contoh ending ini seperti, kalimat terakhir novel menyiratkan tentang sesuatu yang besar, tapi gak dijelaskan secara eksplisit apa sebenarnya maksud dari kalimat itu.

  4. 4. Bittersweet ending

    ilustrasi orang membaca buku
    ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Iván Cauich)

    Terakhir, ada bittersweet ending. Sesuai dengan namanya, jenis ending ini menggabungkan antara kebahagiaan dan kesedihan. Misalnya, karakter utama memang berhasil mewujudkan impiannya atau sukses menyelesaikan konflik besar, tapi kemenangan itu harus dibayar dengan pengorbanan yang besar pula. Kenapa jenis ending ini ampuh memicu overthinking? Sebab, kamu akan terus dibuat merenung dan mempertanyakan berbagai hal yang telah terjadi dalam cerita. Kondisi ini lantas menciptakan emosi yang kompleks di hatimu, membuatmu gamon (gagal move on) berhari-hari.

    Secara spesifik, contoh ending ini seperti sang pahlawan berhasil menyelamatkan dunia, tapi harus kehilangan orang yang paling dicintainya. Atau, dua karakter akhirnya saling mengungkapkan perasaannya, tapi keadaan menuntut mereka untuk berpisah sehingga mereka tak bisa hidup bersama.

    Empat jenis ending cerita di atas memang dinilai paling jago membuat pembacanya overthinking. Ketika kisah selesai, pembaca diajak untuk terus menyelami maknanya, alih-alih langsung melupakan cerita. Nah, dari keempat jenis ending tersebut, akhir cerita mana yang paling sering membuat kamu sibuk merenung dan berteori, bahkan sampai terbawa mimpi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More