5 Buku Sejarah Indonesia yang Underrated, Fiksi dan Nonfiksi

- Artikel merekomendasikan lima buku sejarah Indonesia berbahasa Indonesia dari fiksi dan nonfiksi, sebagai alternatif bacaan di luar kepustakaan populer.
- Burung-Burung Manyar dan Lenyap mengangkat masa kolonial hingga pendudukan Jepang melalui perspektif Teto serta tawanan KNIL, tanpa meromantisasi perang.
- Sagu Papua untuk Dunia, Denyut Nadi Bumi, dan Kuntilanak Wangi membahas pangan sagu, geologi-politik Jawa, serta perjalanan organisasi perempuan hingga Orde Baru.
Butuh buku tentang sejarah Indonesia, tapi tak mau terjebak dalam kepustakaan populer saja? Tenang, banyak opsi yang menantimu. Kamu bisa coba tengok buku-buku dari penerbit independen yang sedang menjamur di Tanah Air seiring meningkatnya minat baca anak muda.
Mau fiksi atau nonfiksi, semuanya tersedia. Tinggal sesuaikan dengan selera saja. Beberapa rekomendasinya sudah dikurasi di bawah. Siapa tahu tertarik dan bisa jadi modal awal buat bikin daftar bacaanmu sendiri. Terbit dalam bahasa Indonesia, gak ada alasan buat gak melirik mereka, ya.
1. Burung-Burung Manyar (Y. B. Mangunwijaya)

Burung-Burung Manyar karya Y. B. Mangunwijaya (dok. Penerbit Buku Kompas/Burung-Burung Manyar) Burung-Burung Manyar adalah novel sejarah underrated yang memakai perspektif Teto, “anak kolong” yang ketika beranjak dewasa jadi pemuja pemerintah Hindia-Belanda. Sayang, pemerintah kolonial yang dipujanya itu berangsur-angsur melemah, digantikan oleh pendudukan Jepang, hingga akhirnya terbentuklah Republik Indonesia.
Tidak seperti orang-orang di sekitarnya yang optimistik melihat transformasi tersebut, Teto benar-benar kecewa dan tak habis pikir. Ia mengkritik dan mengeluhkan segala hal tentang rezim baru itu. Terdengar pesimis, tetapi kritiknya tidak sepenuhnya salah.
2. Lenyap (Richard Kemen)

Lenyap karya Richard Kemen (dok. Marjin Kiri/Lenyap) Seperti novel sebelumnya, Lenyap memilih perspektif yang jarang dipakai penulis Indonesia, yakni sejumlah tentara KNIL yang jadi tawanan Jepang pada era peralihan Hindia Belanda ke pendudukan Jepang. Saat diboyong dengan perahu dari Jawa ke Sumatra, mereka bertemu dengan seorang bocah kecil yang terpisah dari ibunya dan dijual oleh tetangganya sendiri kepada tentara Jepang untuk kerja paksa. Pada fase mengerikan itu, mereka membentuk koneksi bak keluarga. Tenang, tak ada romantisasi perang dan militer di novel ini, terlepas dari point of view yang dipakai sang penulis.
3. Sagu Papua untuk Dunia (Ahmad Arif)

Sagu untuk Papua karya Ahmad Arif (dok. Kepustakaan Populer Gramedia/Sagu untuk Papua) Dirilis sebagai seri yang membahas sumber pangan asli Nusantara, Sagu Papua untuk Dunia bakal mengubah perspektifmu tentang kebijakan pangan pemerintah selama ini. Didominasi beras, sagu ternyata salah satu sumber pangan alternatif potensial yang sayangnya terabaikan begitu saja. Buku ini juga akan mengubah apa yang selama ini kamu percaya tentang sagu, berbagai manfaat, dan bagaimana ia ikut mempengaruhi lanskap Papua secara langsung dan tak langsung.
4. Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa (Adam Bobbette)

Denyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa karya Adam Bobbette (dok. Marjin Kiri/Denyut Nadi Bumi) Diterbitkan dengan judul asli The Pulse of the Earth, buku ini mencoba menilik studi gunung api di Indonesia yang tidak terpusat pada perspektif Barat. Bobbette memadukan kearifan lokal, kepercayaan Jawa dan agama, hingga testimoni penduduk setempat untuk mengulas ulang apa yang selama ini diyakini oleh ilmuwan-ilmuwan kolonial dan Barat pada umumnya. Buku ini bisa mengubah opinimu selamanya tentang leluhur kita beserta legasi yang mereka turunkan.
5. Kuntilanak Wangi (Saskia E. Wieringa)

Kuntilanak Wangi karya Saskia E. Wieringa (dok. Komunitas Bambu/Kuntilanak Wangi) Dalam Kuntilanak Wangi, kamu akan diajak mengenal pergerakan organisasi perempuan sejak awal abad ke-20 sampai era Orde Baru. Bagaimana mereka terbentuk, diberangus karena dianggap radikal pada 1960-an, hingga akhirnya “dijinakkan” untuk jadi suporter ide-ide patriarki pada era Soeharto.
Kuntilanak Wangi bakal mengubah pandanganmu tentang pergerakan feminis di Tanah Air. Banyak fakta yang terasa relevan sekarang dan mungkin menjawab mengapa perdebatan sengit soal feminisme masih terjadi di sini.
Sadar, gak, sih, dengan membaca buku-buku sejarah underrated tadi, kamu sedang membuka brankas rahasia negeri ini. Ada banyak hal kita lewatkan dan akhirnya diulang lagi sebagai kesalahan yang sama. Ada banyak legasi kolonial dan sisi gelap rezim masa lalu yang tidak kita lawan dan justru terus lestarikan.





















