Tidak sembarang orang bisa duduk di posisi tertinggi sebagai pemimpin. Selain ada banyak kandidat lain yang harus dikalahkan, ia juga mesti memiliki kualitas diri yang mumpuni. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemimpin adalah orang yang hebat.
Kenapa Pemimpin Sulit Menerima Kritik? Ada Luka Masa Lalu

- Pemimpin bisa sulit menerima kritik karena luka masa lalu, kebiasaan dimanja, atau keyakinan bahwa dirinya selalu benar sejak kecil.
- Kritik dapat terhambat oleh orang kepercayaan, sementara sebagian pemimpin melihat pengkritik sebagai ancaman terhadap jabatan dan kompetensinya.
- Rasa takut kesalahan terbongkar, ambisi serta ego berlebihan, dan kecenderungan meremehkan isu membuat pemimpin semakin antikritik.
Meski demikian, jangan sampai seorang pimpinan lupa diri setelah memperoleh kepercayaan yang begitu besar dari banyak orang. Dia tidak boleh menjadi pemimpin yang antikritik. Ia dikritik sedikit saja langsung emosional.
Bahkan saat kritik ditujukan demi kebaikan bersama serta reputasinya sendiri. Kamu pasti heran ketika menjumpai pemimpin yang seperti menutup kedua telinga rapat-rapat terhadap kritik. Kenapa, sih, ada pemimpin sulit menerima kritik bahkan sekeras kepala itu?
1. Ada luka masa lalu yang belum sembuh

ilustrasi melempar dokumen (pexels.com/Pavel Danilyuk) Seorang pemimpin yang terlihat sangat gagah di depan publik atau anak buahnya tetap manusia biasa. Sama seperti orang-orang, dia juga bisa memiliki luka masa lalu atau trauma yang sukar sembuh. Itu memengaruhi sikapnya terhadap kritik.
Misalnya, ia selalu dikritik tajam oleh kedua orangtuanya. Dia sampai sakit hati dan malu, tapi tidak berani melawan. Setelah ia dewasa serta memegang jabatan penting, ia baru dapat dengan mudah menentang segala bentuk kritik yang ditujukan padanya.
2. Sejak kecil tidak terbiasa menerima kritik dan cenderung dimanja

ilustrasi marah (pexels.com/Andrea Piacquadio) Ini berkebalikan dengan poin pertama. Seseorang tidak trauma karena sering sekali dikritik, tapi juga gak terbiasa menerima kritik. Sejak kecil ia cenderung dimanjakan dan terlalu dilindungi oleh kedua orangtuanya.
Tindakannya yang keliru pun dibiarkan, bahkan dibela. Alhasil, kritik dari banyak orang setelah ia memimpin gak bakal digubris. Dia telanjur tumbuh dengan perasaan selalu benar.
3. Proteksi berlebihan dari orang-orang kepercayaannya

ilustrasi senior dan junior (pexels.com/Gustavo Fring) Seorang pemimpin biasanya memiliki beberapa orang kepercayaan. Makin besar lembaga yang dipimpinnya, makin besar pengaruh orang-orang kepercayaan terhadap caranya bersikap. Posisinya yang sangat tinggi dan berbeda dari sekian banyak orang yang dipimpin tak memungkinkan mereka bertemu serta berkomunikasi secara langsung.
Kalau orang-orang kepercayaannya tidak dapat menjembatani kritik dengan baik, ia tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi saat mereka dengan sengaja mencegah kritik sampai ke telinga pimpinan, ia gak bakal mengerti realitas di lapangan. Ini sebabnya terkadang orang yang menjerumuskan bukan musuh, melainkan justru tangan kanan sendiri.
4. Berpikir pengkritik mengancam kedudukannya

ilustrasi pimpinan marah (pexels.com/Yan Krukau) Pemimpin yang berusaha mempertahankan kedudukannya selama periode kepemimpinannya tentu tidak salah. Jangan sampai sebelum masa jabatannya habis, orang yang tidak suka berhasil menggoyang posisinya. Jika itu terjadi, dapat menimbulkan kekacauan di lembaga yang dipimpinnya.
Namun, saat ketakutannya berlebihan, ia berubah menjadi terlalu defensif terhadap kritik. Pikirnya, setiap kritik sekaligus pengkritiknya sangat berbahaya. Maka dari itu, sebisa mungkin pengkritik dibungkam.
5. Menindaklanjuti kritik dianggap kekalahan dan bukti kurangnya kompetensi

ilustrasi stres menghadapi kritik (pexels.com/Puwadon Sang-ngern) Kritik sebenarnya sangat wajar dalam segala bentuk interaksi antara dua orang atau lebih. Jangankan dalam kapasitas seseorang sebagai pemimpin lembaga besar. Antarteman dan saudara saja dapat saling mengkritik demi kebaikan.
Akan tetapi, ada tipe pemimpin yang khawatir kesediaannya untuk mendengarkan serta menindaklanjuti kritikan disamakan dengan kekalahan. Ia takut dinilai berada di bawah bayang-bayang pengkritik. Dia juga gak mau sedikit saja kepatuhannya terhadap orang yang dipimpin diartikan sebagai rendahnya kemampuannya dalam memimpin.
6. Takut semua ketidakbecusannya dikuliti

ilustrasi atasan marah (pexels.com/Yan Krukau) Pemimpin dengan beban moral akan lebih gelisah menghadapi kritik. Ia sebenarnya tahu kritik keras muncul karena ada kebijakan atau perilakunya yang tidak benar. Bahkan kesalahan itu tidak disengaja dan malah bagian dari kepentingan tertentu. Itu sebabnya ia merasa harus mati-matian melindungi diri serta kepentingan tersebut dengan bersikap antikritik.
7. Ambisi dan ego yang sangat besar sampai mengalahkan akal sehat

ilustrasi pimpinan kesal (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Semakin tinggi posisi seseorang, ia harus mewaspadai ambisinya yang mulai gak sehat serta ego yang ketinggian. Untuk menjadi pemimpin memang dibutuhkan ambisi dan kekuatan ego. Namun, itu tidak sama dengan dirinya yang terlalu ambisius serta egois.
Dua hal itu mesti dihindari karena ia dalam posisi pemimpin bagi banyak orang. Sikap kelewat ambisius dan egois akan menyeret orang-orang yang dipimpinnya jatuh dalam kesengsaraan. Semua hal yang dilakukannya ditujukan buat diri sendiri, bukan buat kepentingan bersama.
8. Meremehkan isu dan pengkritk

ilustrasi pimpinan marah (pexels.com/Craig Adderley) Pemimpin yang baik seharusnya memiliki kapasitas berpikir dan merasa yang lebih besar daripada orang pada umumnya. Sehingga tidak sulit baginya untuk memedulikan banyak hal. Namun, masih ada pemimpin yang kurang peduli bahkan meremehkan masalah yang memunculkan banyak kritik.
Dia menggampangkan persoalan berikut dampak-dampaknya. Hanya karena ia sendiri bebas dari masalah tersebut, dia kesulitan berempati pada orang-orang yang dipimpinnya. Sikapnya yang meremehkan akan makin hebat ketika pengkritik dianggap jauh di bawahnya dari segi pengalaman, kekuasaan, kekayaan, dan sebagainya.
Posisi pemimpin tidak berarti ia harus selalu didengar dan menolak untuk bergantian mendengarkan orang-orang yang dipimpinnya. Apalagi, seluruh tindakannya dianggap benar serta wajib diikuti. Pemimpin sulit menerima kritik ada baiknya mulai terbuka terhadap hal tersebut. Kritik untuknya bukanlah menjatuhkan, melainkan membuat kepemimpinannya lebih baik.






















