5 Mitos dan Fakta Soal Mental Health yang Sering Salah Dipahami

- Kesehatan mental dipengaruhi pengalaman hidup, tekanan, lingkungan sosial, dan kondisi biologis; masalah psikologis tidak menunjukkan kurangnya iman.
- Kemampuan tetap bekerja, kuliah, atau produktif tidak menandakan seseorang bebas masalah mental; kondisi emosional tidak selalu terlihat dari luar.
- Berpikir positif dan self-care bukan solusi universal; konsultasi psikolog atau psikiater dapat dilakukan tanpa menunggu kondisi memburuk.
Pembahasan soal mental health memang semakin dekat dengan percakapan sehari-hari. Di media sosial, kamu bisa menemukan konten tentang burnout, anxiety, depresi, dan trauma. Kesadaran seperti ini adalah hal yang positif karena semakin banyak orang berani membicarakan kondisi psikologisnya.
Namun, masih banyak mitos soal kesehatan mental yang gak cuma bikin seseorang salah memahami dirinya, tapi juga bikin orang lain malu ketika membutuhkan bantuan. Kalimat seperti "kurang bersyukur", "terlalu banyak pikiran", atau "semua orang juga capek" bisa membuat perasaan seseorang diremehkan. Karena itu, kamu harus tahu mana anggapan yang hanya mitos dan mana fakta yang memang memiliki dasar.
1. Orang dengan masalah mental berarti kurang beriman

ilustrasi lelah mental (pexels.com/olly) Salah satu anggapan yang familiar adalah seseorang mengalami masalah kesehatan mental karena dirinya tidak cukup beriman. Faktanya, kondisi mental seseorang tidak bisa diukur hanya dari seberapa kuat imannya dan cara dia menghadapi masalah. Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor.
Pengalaman hidup, tekanan berkepanjangan, lingkungan sosial, kondisi biologis, hingga berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi. Bahkan, seseorang yang terlihat sangat religius, dan mampu menyelesaikan banyak hal juga bisa mengalami masalah kesehatan mental. Dari luar mungkin dia terlihat baik-baik saja. Namun, apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan kondisi emosionalnya secara keseluruhan.
2. Kalau masih bisa beraktivitas, berarti tidak punya masalah mental

ilustrasi bekerja berlebih (pexels.com/ Nataliya Vaitkevich) Masih bisa bekerja, kuliah, nongkrong, atau membuat konten di media sosial sering dianggap seseorang baik-baik saja. Padahal, kondisi kesehatan mental tak selalu terlihat dari kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Ada orang yang tetap mampu menjalankan tanggung jawabnya meskipun sedang menghadapi masalah psikologis.
Seseorang bahkan bisa sangat produktif sambil menyimpan tekanan yang besar. Inilah salah satu alasan mengapa kita sebaiknya gak buru-buru menyimpulkan kondisi seseorang hanya berdasarkan penampilannya. Selain itu, setiap orang memiliki pengalaman dan kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda. Dua orang yang menghadapi situasi serupa belum tentu memberikan respons emosional yang sama.
3. Masalah mental bisa hilang kalau berpikir positif

ilustrasi berpikir (pexels.com/Vanessa Garcia) Berpikir positif memang bisa menjadi cara menghadapi situasi sulit. Memiliki harapan dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih realistis juga dapat membantu. Namun, kesehatan mental tidak sesederhana itu. Ketika seseorang mengalami masalah psikologis yang cukup berat, menyuruhnya untuk selalu berpikir positif justru bisa membuat pengalaman emosionalnya terasa tidak valid.
Misalnya, ketika seseorang sedang sangat tertekan, berpikir "jangan ngeluh terus" gak akan memberikan solusi apa pun. Bukan berarti pikiran positif tidak berguna. Masalahnya adalah ketika positivity digunakan untuk menutupi atau mengabaikan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan. Yang lebih penting adalah bagaimana emosi tersebut bisa dipahami dan dihadapi.
4. Pergi ke psikolog atau psikiater berarti punya gangguan jiwa

ilustrasi mental health specialist (pexels.com/Gustavo Fring) Stigma lain adalah anggapan bahwa orang baru perlu menemui psikolog atau psikiater ketika kondisinya sudah sangat buruk. Padahal, mencari bantuan tak harus menunggu sampai keadaan terasa tidak tertahankan. Seseorang bisa berkonsultasi ketika merasa kesulitan memahami emosinya, mengalami masalah yang mengganggu aktivitas sehari-hari, atau sekadar membutuhkan ruang aman untuk berbicara.
Mencari bantuan juga bukan tanda bahwa kamu gagal menyelesaikan masalah. Justru, keputusan tersebut dapat menunjukkan bahwa kamu menyadari bahwa kamu butuh bantuan. Tentu, jenis bantuan yang dibutuhkan setiap orang berbeda. Profesional kesehatan mental dapat menilai dan menentukan langkah yang sesuai dengan kondisimu.
5. Semua masalah mental bisa diselesaikan dengan self care

ilustrasi berkeringat sehabis olahraga (pexels.com/Ketut Subiyanto) Istilah self care semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari pakai skincare, menonton film, berlibur, olahraga, sampai membeli makanan favorit sering disebut sebagai bentuk self care. Aktivitas tersebut memang bisa menjadi bagian dari menjaga kesejahteraan diri.
Namun, itu juga bukan solusi universal untuk semua persoalan kesehatan mental. Tidur cukup atau pergi liburan mungkin membantu mengurangi rasa lelah, tapi tak berarti semua masalah psikologis otomatis selesai. Karena itu, jangan merasa gagal ketika sudah mencoba berbagai bentuk self care tapi masih merasa tidak baik-baik saja.
Mitos soal mental health masih sering ditemukan di masyarakat. Padahal, kesehatan mental jauh lebih kompleks daripada itu. Jangan mudah menghakimi pengalaman diri sendiri maupun orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Berani mengakui kamu sedang tidak baik-baik saja bisa menjadi langkah penting untuk mulai merawat diri.









![[QUIZ] Kuis Gambar Ini Mengajakmu Bertemu Versi Diri yang Jarang Kamu Tahu](https://image.idntimes.com/post/20241123/1000057145-99a83272f9010317982b89aac9ec1a00-0da7b57139fb8b9226d593906627b377.jpg)












