“AI menjadi berbahaya ketika individu-individu cerdas yang sadar AI menciptakan varian AI baru yang melanggar etika, seperti pelanggaran privasi seperti manipulasi wajah dan sebagainya. Itulah bahaya yang menakutkan,” jelas Professor Ridi Ferdiana saat Sekolah Wartawan pada Senin (26/6) dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM).
5 Alasan Kamu Gak Harus Ikutan FOMO Tren Foto AI

- Tren foto AI bergaya lawas berisiko memicu pelanggaran privasi dan manipulasi wajah jika teknologi digunakan tanpa etika atau kehati-hatian.
- Mengikuti tren tidak otomatis membuat seseorang diterima; FOMO berkaitan dengan keinginan merasa menjadi bagian kelompok dan memperoleh penerimaan sosial.
- Foto yang diunggah dapat memperpanjang jejak digital serta berpotensi disalahgunakan, sementara tren cepat berganti dan bukan sarana mencari validasi diri.
Baru-baru ini kembali muncul tren foto AI terbaru. Media sosial diramaikan oleh deretan unggahan foto-foto yang sudah diedit oleh AI menjadi foto bergaya jadul. Dalam tren foto AI ini, pengguna meminta AI untuk mengubah foto mereka menjadi potret bergaya lawas dari busana, riasan, hingga background-nya.
Sayangnya, tren foto AI sebenarnya memiliki dampak dan risiko, lho. Meskipun teknologi generative AI menampilkan visual yang menarik, nyatanya tren ini gak selalu mendatangkan efek yang positif, lho. Ini dia beberapa alasan kenapa kamu gak harus ikut FOMO tren foto AI.
1. Tren foto AI rentan akan pelanggaran privasi seperti manipulasi wajah

ilustrasi ChatGPT (pexels.com/Sanket Mishra) Tren mengedit foto menggunakan Artificial Intelligence (AI) sebenarnya memiliki risiko tersendiri. Kehadiran AI nyatanya seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, AI memberikan beragam kemudahan tapi AI juga bisa bersifat mengancam dan membahayakan.
Pengajar dan peneliti di bidang rekayasa perangkat lunak ini mengungkapkan bahwa AI memang membuat pekerjaan manusia lebih mudah dan produktif. Tapi, AI juga bisa melanggar etika, terlebih bila digunakan dengan tidak hati-hati.
2. Ikut atau gak ikut tren gak langsung bisa memberikan perasaan diterima

ilustrasi fomo (freepik.com/cookie_studio) Mungkin, kamu sudah lama mendengar istilah FOMO atau Fear of Missing Out. Istilah psikologis ini mengungkapkan kondisi di mana seseorang merasa takut tertinggal dari orang lain dalam hal apa pun itu. Nah, orang-orang yang merasa FOMO ini sebenarnya ingin dilibatkan.
“Manusia ingin merasa diikutsertakan, merasa menjadi bagian dari suatu kelompok,” kata Erin Vogel, Ph.D, seorang psikolog sosial dan profesor di University of Oklahoma Health Sciences Centre.
Seseorang bisa mersa lebih baik terhadap dirinya sendiri ketika mereka menjadi bagian dari suatu komunitas atau dia mendapatkan penerimaan dari orang lain. Sebaliknya, manusia bisa berpikir lebih buruk tentang dirinya sendiri kalau tidak ada penerimaan.
3. Trennya sudah hilang tapi jejaknya masih ada

Ilustrasi foto ditaman (magnific.com/prostooleh) Alasan ketiga mengapa kamu gak harus FOMO ikut tren foto AI adalah hati-hati memberikan data atau dokumen kepada perusahaan AI. Meskipun trennya sudah memudar dan tidak lagi populer, kamu sudah terlanjur mengirimkan foto kepada perusahaan AI tersebut. Artinya, foto itu sebenarnya tetap "bekerja" untuk perusahaan AI tersebut. Pasalnya, kata sandi memang bisa diubah tapi wajah tidak bisa.
"Ini adalah tambang emas bagi sistem AI yang bergantung pada aliran data berkelanjutan untuk melatih modelnya, dan sistem tersebut akan tetap aktif dalam jangka waktu lama setelah tren viral itu mereda. Hasil akhirnya bisa berupa serangan phishing yang sangat canggih, termasuk penyalahgunaan data biometrik," ujar Tarun Pathak, Direktur Riset di Counterpoint Research, kepada Times Now Tech dalam Latestly.
Untuk itu, akan lebih baik pengguna menggunakan prompt yang sifatnya umum, lalu periksa lagi pengaturan dari aplikasi AI. Foto yang diunggah ke AI berpotensi memperluas jejak digital hingga memfasilitasi penipuan berkedok identitas.
4. Tren AI cepat berganti

Ilustrasi AI sebagai asisten (unsplash.com/Zulfugar Karimov) Popularitas suatu tren biasanya gak bertahan lama. Apalagi tren AI selalu berkembang secara dinamis dan selalu ada hal-hal baru yang muncul. Apa yang sedang tren saat ini, bisa jadi minggu depan sudah menghilang.
Nah, gak semua tren harus kamu ikuti. Dengan selalu mengikuti suatu tren, bisa menyebabkan kelelahan pada suatu hal yang sifatnya sementara. Dengan melewatkan satu tren, gak akan membuatmu menjadi kurang relevan dalam lingkungan sosial.
5. Tren AI bukan tempat mencari validasi

ilustrasi mencari validasi (pexels.com/SHVETS Production) Kamu gak perlu FOMO mengikuti setiap tren foto AI. Pasalnya, konten asli tetaplah punya nilai yang lebih berharga dan bermakna daripada editan AI. Kamu bisa berbangga hati atas setiap hasil karyamu, hasil fotomu sendiri yang dibaliknya menyimpan banyak cerita. Justru, media sosial bisa menjadi tempat untukmu membagikan hal-hal yang memang kamu sukai dan banggakan.
Tren foto AI juga bukan suatu hal yang bisa kamu jadikan tempat mencari validasi. Kamu tetap bisa menghargai dan mengakui nilai dirimu tanpa ada pengakuan dari orang lain. Jadi, kebahagiaanmu tidak terletak pada jumlah likes atau komentar dari setiap unggahan di media sosial.
Jadi, itu dia beberapa alasan mengapa kamu gak harus FOMO ikut tren foto AI. Justru, kamu harus lebih berhati-hati dalam menggunakan AI, ya.




![[QUIZ] Kuis Gambar Ini Mengajakmu Bertemu Versi Diri yang Jarang Kamu Tahu](https://image.idntimes.com/post/20241123/1000057145-99a83272f9010317982b89aac9ec1a00-0da7b57139fb8b9226d593906627b377.jpg)
















