Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Motif di Balik Penggunaan Istilah Psikologi untuk Membela Sikap Buruk

5 min read
5 Motif di Balik Penggunaan Istilah Psikologi untuk Membela Sikap Buruk
ilustrasi wanita menggunakan HP (pexels.com/Ivan S)
  • Istilah psikologi dapat disalahgunakan untuk membenarkan perilaku merugikan, padahal memahami penyebab emosional tidak menghapus tanggung jawab atas dampak tindakan.
  • Trauma, batasan pribadi, atau label seperti toxic dan narsistik bisa dijadikan cara menghindari kritik, mengendalikan percakapan, serta mempertahankan citra diri.
  • Tren kesehatan mental di media sosial berisiko mendorong pelabelan tanpa konteks demi dukungan sosial, alih-alih evaluasi diri dan penyelesaian konflik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Istilah psikologi semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika seseorang membahas hubungan, konflik pertemanan, atau masalah emosional. Istilah seperti trauma, toxic, gaslighting, dan self-love memang dapat membantu seseorang memahami pengalaman batin dengan lebih baik. Namun, ketika istilah tersebut digunakan secara sembarangan, ada kemungkinan seseorang justru menjadikannya tameng untuk membenarkan perilaku yang merugikan orang lain.

Pernah gak kamu menemukan seseorang yang berkata sedang menjaga kesehatan mental, padahal ia terus mengabaikan perasaan orang lain tanpa mau berdiskusi? Atau, seseorang yang menyebut dirinya memiliki attachment issue setiap kali perilakunya yang menyakitkan dipertanyakan? Yuk, pahami lima motif di balik penggunaan istilah psikologi untuk membela sikap buruk agar kamu bisa membedakan upaya memahami diri sendiri dari kebiasaan mencari pembenaran!

  1. 1. Mencari pembenaran atas perilaku yang merugikan

    ilustrasi wanita menggunakan HP
    ilustrasi wanita menggunakan HP (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Salah satu motif penggunaan istilah psikologi secara keliru adalah keinginan untuk membuat perilaku pribadi terlihat lebih masuk akal. Seseorang mungkin mengakui bahwa dirinya mudah marah, sering mengabaikan pesan, atau bersikap dingin ketika menghadapi konflik, tetapi ia buru-buru mengaitkannya dengan kondisi emosional tertentu. Alih-alih mengevaluasi dampak tindakannya, ia justru menggunakan penjelasan tersebut untuk meyakinkan orang lain bahwa perilakunya dapat dimaklumi.

    Contohnya, seseorang yang berulang kali berbicara kasar kepada pasangannya bisa berdalih bahwa dirinya memiliki anger issue sehingga sulit mengendalikan emosi. Padahal, mengenali kesulitan mengatur amarah seharusnya menjadi langkah awal untuk memperbaiki perilaku, bukan alasan untuk terus menyakiti orang lain. Penjelasan psikologis memang dapat membantu memahami penyebab suatu tindakan, tetapi memahami penyebabnya gak otomatis menghapus tanggung jawab atas dampaknya.

  2. 2. Menghindari tanggung jawab dengan berlindung di balik trauma

    ilustrasi wanita menggunakan HP
    ilustrasi wanita menggunakan HP (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, menghadapi tekanan, dan merespons situasi yang terasa mengancam. Karena itu, sebagian orang mungkin menggunakan pengalaman masa lalu untuk menjelaskan mengapa mereka sulit memercayai orang lain atau cenderung menarik diri ketika menghadapi masalah. Persoalannya muncul ketika trauma selalu dijadikan alasan untuk menolak bertanggung jawab atas perilaku yang menyakiti orang lain.

    Misalnya, seseorang yang pernah dikhianati mungkin merasa takut ketika pasangannya berinteraksi dengan teman lawan jenis. Perasaan takut tersebut bisa dipahami, tetapi terus memeriksa ponsel pasangan, membatasi pergaulannya, atau menuntut akses terhadap privasinya tetap dapat merusak hubungan. Pengalaman masa lalu memang layak mendapat perhatian, tetapi proses pemulihan juga membutuhkan kesediaan untuk mengenali pola perilaku yang tidak sehat dan mencari cara yang lebih baik dalam menghadapinya.

  3. 3. Mengendalikan orang lain melalui pelabelan psikologis

    ilustrasi wanita menggunakan HP
    ilustrasi wanita menggunakan HP (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Istilah psikologi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mendominasi percakapan dan melemahkan posisi orang lain. Ketika terjadi perselisihan, seseorang mungkin langsung menyebut lawan bicaranya narsistik, toxic, atau manipulatif tanpa memahami situasi secara menyeluruh. Label tersebut kemudian dipakai untuk membuat pendapat pihak lain terlihat tidak masuk akal, bahkan sebelum persoalan sebenarnya dibicarakan.

    Sebagai contoh, seseorang yang ditegur karena ingkar janji bisa membalas dengan menyebut temannya terlalu controlling atau suka mengatur. Akibatnya, pembicaraan bergeser dari persoalan janji yang dilanggar menjadi perdebatan tentang karakter orang yang memberikan teguran. Pola seperti ini membuat penyelesaian konflik semakin sulit karena istilah psikologi gak lagi digunakan untuk memahami perilaku, melainkan untuk membungkam kritik dan mempertahankan kendali atas situasi.

  4. 4. Menjaga citra diri agar selalu terlihat benar

    ilustrasi menggunakan HP dan laptop
    ilustrasi menggunakan HP dan laptop (pexels.com/SHVETS production)

    Keinginan untuk mempertahankan citra diri dapat membuat seseorang lebih sibuk menjelaskan alasan tindakannya daripada mengakui kesalahan. Dalam situasi tertentu, istilah psikologi memberikan kesan bahwa seseorang memiliki pemahaman emosional yang mendalam dan mampu mengenali dinamika hubungan. Namun, kemampuan menyebut berbagai istilah psikologi gak selalu sejalan dengan kemampuan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Contohnya, seseorang yang mengaku memahami batasan pribadi atau boundaries mungkin merasa berhak mengakhiri percakapan kapan saja tanpa memberikan penjelasan, bahkan ketika ia sedang menghindari pembicaraan penting yang menjadi tanggung jawabnya. Padahal, batasan pribadi berkaitan dengan pengelolaan kebutuhan dan kapasitas diri, bukan kebebasan untuk mengabaikan kesepakatan bersama tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ketika istilah psikologi hanya digunakan untuk mempertahankan citra sebagai pihak yang paling dewasa, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk belajar dari kesalahannya sendiri.

  5. 5. Memanfaatkan tren psikologi agar mendapat dukungan sosial

    ilustrasi wanita menggunakan HP
    ilustrasi wanita menggunakan HP (pexels.com/Ivan S)

    Popularitas konten kesehatan mental di media sosial membuat istilah psikologi semakin mudah ditemukan dan digunakan oleh berbagai kalangan. Informasi tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, tetapi penyederhanaan konsep yang rumit juga berisiko menimbulkan pemahaman yang keliru. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin menggunakan istilah yang sedang populer agar ceritanya lebih mudah diterima dan memperoleh dukungan dari lingkungan sekitar.

    Misalnya, seseorang mengunggah cerita tentang konflik pertemanan lalu langsung menyebut pihak lain sebagai gaslighter hanya karena memiliki pandangan berbeda tentang suatu kejadian. Penggunaan label tersebut dapat memancing simpati dari pembaca, meskipun mereka belum mengetahui konteks lengkap dari konflik yang terjadi. Ketika istilah psikologi digunakan demi mendapatkan pembelaan sosial, percakapan yang seharusnya membantu memahami masalah justru berisiko berubah menjadi ajang mencari dukungan tanpa mengevaluasi perilaku sendiri.

    Pada akhirnya, istilah psikologi dapat membantu seseorang memahami emosi, mengenali pola perilaku, dan membangun hubungan yang lebih sehat jika digunakan secara tepat. Namun, istilah tersebut kehilangan manfaatnya ketika dijadikan tameng untuk menghindari tanggung jawab, mengendalikan orang lain, atau mempertahankan citra diri. Memahami kesehatan mental bukan hanya tentang mengetahui banyak istilah, melainkan juga berani mengevaluasi diri, menghargai perasaan orang lain, dan memperbaiki perilaku yang merugikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More