Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Realita Sosial yang Membungkam Suara Korban Pelecehan

5 Realita Sosial yang Membungkam Suara Korban Pelecehan
ilustrasi membungkam mulut (pexels.com/MART PRODUCTION)

Kasus pelecehan bukan hanya tentang tindakan yang terjadi. Namun, juga tentang bagaimana korban diperlakukan setelahnya. Sayangnya, banyak korban justru menghadapi tekanan sosial yang membuat mereka memilih diam.

Bukan karena mereka tidak ingin bicara, tetapi karena lingkungan sering kali tidak memberi ruang aman untuk itu. Berikut lima realita sosial yang kerap membungkam suara korban pelecehan. Apakah kita masih menormalisasi lingkungan demikian ini?

1. Budaya victim blaming

ilustrasi menghakimi kesalahan (pexels.com/Yan Krukov)
ilustrasi menghakimi kesalahan (pexels.com/Yan Krukov)

Salah satu realita paling menyakitkan adalah kecenderungan masyarakat untuk menyalahkan korban. Pertanyaan dan pernyataan yang bersifat menghakimi sering muncul. Seolah-olah tanggung jawab berpindah dari pelaku ke korban.

Padahal, tidak ada satu pun alasan yang membenarkan pelecehan. Namun, budaya ini begitu mengakar sehingga korban merasa takut untuk berbicara. Mereka khawatir akan dihakimi, dipermalukan, atau bahkan tidak dipercaya.

2. Minimnya dukungan dalam ruang sosial

ilustrasi bersedih (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi bersedih (pexels.com/Liza Summer)

Lingkungan terdekat seharusnya menjadi tempat paling aman bagi korban untuk bersandar. Namun, realitanya tidak selalu demikian. Ada korban yang justru tidak mendapatkan dukungan dari teman ruang sosial terdekat.

Respons seperti "sudahlah, lupakan saja” atau “jangan dibesar-besarkan” bisa terasa sangat melukai. Alih-alih mendapatkan empati, korban justru merasa diabaikan. Ketika orang-orang terdekat tidak memberikan dukungan emosional, korban cenderung menarik diri dan memilih diam.

3. Perlakuan lingkungan sosial yang justru menghancurkan reputasi

ilustrasi bullying (pexels.com/Cottonbro studio)
ilustrasi bullying (pexels.com/Cottonbro studio)

Banyak korban khawatir bahwa berbicara akan merusak reputasi mereka. Dalam beberapa kasus, korban justru menjadi bahan gosip atau perbincangan publik yang tidak sehat. Rasa takut ini semakin besar ketika pelaku memiliki posisi sosial yang lebih kuat, seperti orang yang dihormati atau memiliki hierarkis lebih tinggi.

Korban merasa suaranya tidak akan didengar, bahkan berisiko berbalik merugikan diri sendiri. Akhirnya, demi menjaga nama baik atau menghindari konflik, korban memilih untuk bungkam. Ini menunjukkan bahwa tekanan sosial sering kali lebih kuat daripada keinginan untuk mencari keadilan.

4. Sistem yang belum sepenuhnya berpihak

ilustrasi merasa tertekan (unsplash.com/Ivan Aleksic)
ilustrasi merasa tertekan (unsplash.com/Ivan Aleksic)

Selain faktor sosial, sistem yang ada juga sering kali belum sepenuhnya mendukung korban. Proses pelaporan yang rumit, kurangnya perlindungan, hingga pengalaman tidak menyenangkan oleh lingkungan terdekat menjadi hambatan besar.

Korban bisa merasa lelah secara emosional ketika harus mengulang cerita traumatis berkali-kali. Belum lagi jika mereka merasa tidak dipercaya oleh pihak yang seharusnya membantu. Kondisi ini membuat banyak korban berpikir dua kali sebelum melapor.

5. Normalisasi pelecehan dalam kehidupan sehari-hari

ilustrasi bergosip (pexels.com/Ron Lach)
ilustrasi bergosip (pexels.com/Ron Lach)

Tanpa disadari, pelecehan sering kali dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Candaan yang merendahkan, komentar tidak pantas, atau sikap yang melecehkan sering dianggap hal biasa. Ketika perilaku seperti ini terus dibiarkan, batas antara yang wajar dan tidak menjadi kabur.

Korban menjadi ragu apakah yang mereka alami benar-benar salah, atau hanya sebuah tindakan berlebihan. Normalisasi ini membuat korban merasa suaranya tidak penting. Mereka takut dianggap terlalu sensitif atau mencari perhatian.

Membungkam korban bukan selalu dilakukan secara langsung. Tetapi sering kali melalui tekanan sosial yang halus namun kuat. Lima realita di atas menunjukkan bahwa diamnya korban bukan tanda kelemahan. Melainkan hasil dari lingkungan yang belum sepenuhnya aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us