Korban Pelecehan Grup Chat FH UI Sudah Tahu Sejak 2025, Tapi Takut Bersuara

- Puluhan mahasiswa dan dosen FH UI menjadi korban pelecehan dalam grup chat berisi 16 orang, dengan percakapan yang berlangsung sejak 2024 dan baru terungkap ke publik pada 2026.
- Korban sebenarnya sudah mengetahui isi grup sejak 2025, namun memilih diam karena takut terhadap tekanan sosial dan respons publik yang sering meremehkan kasus serupa.
- Isi percakapan dinilai melewati batas kewajaran dengan unsur pelecehan serta penghinaan, melibatkan sekitar 20 korban termasuk tujuh dosen yang sebagian mengalami tindakan saat proses belajar mengajar.
Jakarta, IDN Times - Puluhan mahasiswa dan dosen Fakultas Hukum (FH) UI diduga menjadi korban pelecehan serta penghinaan dalam sebuah grup chat yang melibatkan 16 orang.
Kuasa hukum korban, Timotius Rajagukguk, mengungkapkan percakapan tersebut telah berlangsung sejak 2024 dan mulai diketahui korban pada 2025, sebelum akhirnya dibongkar ke publik karena dinilai semakin tidak etis dan melampaui batas.
Ia menegaskan dalam konferensi pers Aliansi BEM se-UI, di Pusgiwa UI, Selasa (14/4/2026).
1. Korban sudah mengetahui sejak 2025, namun memilih diam karena takut

Timotius menjelaskan sebagian korban sebenarnya sudah mengetahui adanya percakapan yang mengarah pada pelecehan sejak 2025. Namun, mereka memilih untuk tidak langsung melapor karena berbagai pertimbangan, termasuk tekanan sosial.
“Dari sebelum itu sudah tahu. Makanya dari tahun 2025 mereka sudah tahu, tapi ya mereka menahan. Mereka mungkin berpikir, ya sudah sabar saja. Mereka menganggap mungkin ini hal yang wajar,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketakutan korban bukan tanpa alasan. Respons publik yang kerap meremehkan kasus serupa menjadi salah satu faktor utama yang membuat korban memilih diam.
“Kalau dilihat dari respons publik saat ini, kan beragam. Tidak semuanya menyatakan bahwa ini harus ditindak. Ada juga yang menganggap ini obrolan biasa,” lanjutnya.
2. Isi percakapan dinilai tidak lagi wajar, mengandung pelecehan dan penghinaan

Alasan utama kasus ini akhirnya diungkap ke publik karena isi percakapan dalam grup chat sudah melewati batas kewajaran.
“Ini sudah bukan untuk obrolan cowok-cowok biasa. Jadi sudah lebih… ada unsur-unsur yang tidak bisa ditoleransi tadi,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa korban tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa perempuan, tetapi juga laki-laki dan bahkan dosen.
“Sejauh ini korbannya perempuan, tapi ada juga sebetulnya laki-laki. Ada yang pelecehan, ada yang penghinaan juga. Dua-duanya,” jelasnya.
3. Korban mencapai puluhan orang, termasuk dosen yang mengajar di kelas

Dalam penanganan sementara, Timotius menyebut jumlah korban cukup besar dan berpotensi bertambah seiring pendalaman bukti.
“Kalau yang saya tangani ada 20 korban. Untuk dosen, dari informasi yang saya dengar sekitar 7 orang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, beberapa tindakan yang diduga sebagai pelecehan bahkan terjadi dalam konteks pembelajaran di kelas.
“Dan benar, dosen-dosen ini adalah yang mengajar mereka di kelas. Bahkan dalam beberapa konteks, perilaku itu terjadi saat proses belajar berlangsung di kelas,” lanjutnya.
Saat ini, pihaknya menekankan bahwa fokus utama adalah penanganan kasus dan perlindungan korban, mengingat dampak psikologis yang dialami tidak bisa dianggap sepele.


















