Kepedulian terhadap isu sosial kini gak hanya diwujudkan melalui aksi nyata, tetapi juga lewat unggahan di media sosial. Mulai dari membagikan informasi tentang ketidakadilan, menggunakan hashtag dukungan, hingga mengikuti kampanye publik, semua itu dapat menjadi cara untuk menyuarakan aspirasi. Namun, pernahkah kamu bertanya apakah tindakan tersebut benar-benar lahir dari kepedulian atau sekadar keinginan untuk terlihat peduli di hadapan orang lain?
Fenomena ini dikenal sebagai performative activism, yaitu tindakan mendukung suatu isu sosial yang lebih berorientasi pada citra diri daripada upaya menciptakan perubahan berarti. Masalahnya, batas antara menyebarkan kesadaran dan mencari pengakuan terkadang sulit dikenali, terutama ketika respons publik menjadi tolok ukur kepuasan pribadi. Yuk, kenali lima tandanya agar kamu dapat mengevaluasi cara menunjukkan kepedulian tanpa terjebak dalam perlombaan mencari validasi sosial!
