Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Kiat Mengatur Budget Bukber Tanpa Bikin Dompet Menangis

6 Kiat Mengatur Budget Bukber Tanpa Bikin Dompet Menangis
ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Ramadan selalu identik dengan momen kebersamaan. Salah satunya lewat acara buka bersama alias bukber. Dari teman sekolah, kuliah, rekan kerja, sampai komunitas, undangan bukber bisa datang bertubi-tubi. Rasanya gak enak kalau menolak terus, tapi kalau semua diiyakan tanpa perhitungan, dompet bisa ikut berpuasa lebih dulu sebelum azan Magrib berkumandang.

Bukber memang menyenangkan, tapi tetap perlu strategi agar keuangan tetap aman sampai lebaran. Jangan sampai niatnya silaturahmi malah berujung stres finansial. Supaya tetap bisa kumpul tanpa bikin saldo terkuras, berikut 6 kiat mengatur budget bukber tanpa bikin dompet menangis yang bisa diterapkan.

1. Tentukan batas anggaran khusus bukber sejak awal Ramadan

ilustrasi uang (pexels.com/Yan Krukau)
ilustrasi uang (pexels.com/Yan Krukau)

Langkah paling penting adalah membuat pos khusus untuk bukber. Jangan mencampurnya dengan uang kebutuhan pokok, tabungan, atau dana darurat. Misalnya, dari total anggaran hiburan Ramadan, alokasikan jumlah tertentu hanya untuk acara buka bersama.

Dengan cara ini, kita punya batas yang jelas. Ketika dana bukber sudah hampir habis, bisa mulai selektif memilih undangan yang benar-benar prioritas. Prinsipnya sederhana, silaturahmi itu penting, tapi kestabilan finansial jauh lebih penting.

2. Buat skala prioritas undangan

ilustrasi catatan (pexels.com/ylanite koppens)
ilustrasi catatan (pexels.com/ylanite koppens)

Realitanya, kita mungkin menerima lebih dari satu atau dua undangan bukber. Di sinilah pentingnya membuat skala prioritas. Misalnya, dahulukan keluarga dan sahabat dekat, lalu rekan kerja atau komunitas yang memang punya kedekatan emosional.

Tidak semua undangan harus dihadiri. Kita berhak memilih mana yang paling bermakna dan sesuai dengan kondisi finansial. Jika memang tidak memungkinkan, bisa menyampaikan penolakan secara sopan dan jujur. Ingat, kualitas pertemuan lebih penting daripada kuantitasnya.

3. Pilih tempat yang ramah di kantong

ilustrasi suasana buka bersama (pexels.com/PNW Production)
ilustrasi suasana buka bersama (pexels.com/PNW Production)

Sering kali, budget membengkak karena lokasi bukber yang terlalu fancy. Restoran dengan paket Ramadan memang menggoda. Apalagi kalau suasananya estetik dan Instagramable. Namun, harga paket bukber di tempat seperti itu bisa jauh lebih mahal.

Sebagai alternatif, kita bisa mengusulkan tempat makan yang lebih terjangkau atau konsep potluck. Jika ingin tetap di restoran, pilih tempat dengan menu satuan agar bisa menyesuaikan pesanan dengan budget. Banyak pilihan tempat makan lokal yang enak namun masih ramah di kantong.

4. Hindari sikap gengsi saat memesan

ilustrasi makanan (pexels.com/Robin Stickel)
ilustrasi makanan (pexels.com/Robin Stickel)

Kadang pengeluaran membengkak bukan karena tempatnya mahal. Tapi karena kita ingin terlihat tidak pelit. Akhirnya memesan menu paling mahal, tambah minum, tambah dessert, atau ikut patungan lebih dari porsi seharusnya.

Padahal, tidak ada yang salah dengan memesan sesuai kebutuhan dan kemampuan. Kita tetap bisa menikmati momen bukber tanpa harus berlebihan. Jangan sampai gengsi sesaat membuat kita menyesal di akhir bulan. Dengan mindset seperti ini, kita akan lebih bijak dalam mengambil keputusan saat melihat daftar menu.

5. Manfaatkan promo dengan bijaksana

ilustrasi belanja makanan (unsplash.com/Jarritos Mexican Soda)
ilustrasi belanja makanan (unsplash.com/Jarritos Mexican Soda)

Bulan Ramadan biasanya penuh promo. Banyak restoran dan aplikasi pembayaran digital menawarkan diskon atau cashback. Ini bisa jadi peluang untuk menghemat, asalkan tetap terkontrol. Sebelum berangkat bukber, cek apakah ada promo yang bisa dimanfaatkan.

Namun, jangan sampai promo justru membuat kamu belanja lebih dari kebutuhan. Diskon 20% tetap saja berarti kamu mengeluarkan 80% dari harga asli. Gunakan promo sebagai alat bantu, bukan alasan untuk konsumtif. Gunakan promo sebagai alat bantu, bukan alasan untuk konsumtif.

6. Siapkan dana cadangan kecil untuk biaya tidak terduga

ilustrasi uang (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Kadang ada biaya tambahan yang tidak terduga. Seperti pajak restoran, service charge, parkir, atau bahkan patungan untuk teman yang mendadak kekurangan uang. Hal-hal kecil ini bisa membuat total pembayaran membengkak.

Untuk mengantisipasi, siapkan dana cadangan kecil di luar budget utama bukber. Tidak perlu besar, yang penting cukup untuk menutup biaya tambahan tersebut. Jika tidak terpakai, sisanya bisa kamu masukkan kembali ke tabungan.

Bukber adalah momen hangat yang sayang untuk dilewatkan. Ia menjadi ruang untuk tertawa bersama, bernostalgia, dan mempererat hubungan. Namun, di balik keceriaannya, tetap ada tanggung jawab finansial yang perlu dijaga. Mengatur budget bukber bukan berarti pelit atau tidak menghargai kebersamaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kirana Mulya
EditorKirana Mulya
Follow Us