Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perjalanan Achmad Irfandi dan Misinya Melawan Kecanduan Gawai pada Anak

Perjalanan Achmad Irfandi dan Misinya Melawan Kecanduan Gawai pada Anak
Achmad Irfandi, Pendiri Desa Sejahtera Astra Lali Gadget (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Achmad Irfandi mendirikan Desa Sejahtera Astra Lali Gadget di Sidoarjo untuk mengatasi kecanduan gawai anak melalui permainan tradisional dan aktivitas edukatif sejak 2018.

  • Program desa ini berhasil mengurangi screen time hingga ratusan jam per tahun, sekaligus menumbuhkan minat anak bermain di alam serta memperkuat nilai budaya lokal.

  • Gerakan ini berkembang menjadi model berkelanjutan dengan empat pilar: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan, bahkan meraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2021.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Setiap gerakan besar lahir dari sebuah keresahan. Bagi Achmad Irfandi, keresahan itu datang ketika ia melihat semakin banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan gawai dibandingkan bermain di lingkungan sekitarnya.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen lainnya sudah mengakses internet. 

Hal itulah yang akhirnya mendorong Achmad Irfandi untuk mendirikan Desa Sejahtera Astra Lali Gadget di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada 2018 silam, sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk kembali bermain, belajar, dan bersosialisasi.

1. Permainan tradisional sebagai pintu masuk pendidikan

Saat program Desa Sejahtera Astra Lali Gadget pertama kali berjalan, kondisi anak-anak di sana tidak jauh berbeda dengan daerah lain yang telah tersentuh internet dan teknologi digital. Waktu bermain di luar rumah berkurang karena banyak anak lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawai.

Alih-alih melarang penggunaan gawai secara langsung, Irfandi memilih pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak-anak, yaitu bermain. Baginya, permainan tradisional menjadi sarana efektif untuk mengajak mereka kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar sekaligus mengenalkan nilai-nilai kehidupan yang mulai terlupakan.

"Semua anak pasti suka bermain. Dari situlah kami masuk. Permainan tradisional menjadi pintu masuk untuk mendidik anak-anak sekaligus melestarikan budaya," ujarnya.

2. Memberikan beragam pilihan bermain untuk anak-anak

34 x 24 q.jpg
Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di Desa Sejahtera Astra Lali Gadget (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)

Setiap hari Minggu, Desa Sejahtera Astra Lali Gadget menghadirkan referensi bermain yang beragam. Aktivitasnya mulai dari menanam padi, membuat makanan tradisional, hingga yang paling favorit menangkap ikan di kolam.

Aktivitas-aktivitas tersebut dirancang agar anak memahami proses dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang menurut Irfandi semakin jarang dialami generasi saat ini yang tumbuh di era serba instan.

Melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, Desa Sejahtera Astra Lali Gadget berusaha menghadirkan alternatif yang menyenangkan bagi anak-anak. Hasilnya, anak-anak kini memiliki lebih banyak referensi bermain selain menggunakan gawai.

Irfandi mengungkapkan, perubahan yang paling terlihat bukan hanya berkurangnya screen time, tetapi juga keberanian anak-anak untuk kembali bermain di alam terbuka. Anak-anak yang sebelumnya enggan bermain lumpur atau turun ke sawah kini mulai menikmati aktivitas tersebut.

Bahkan, menurut data dari Sustainability Report Desa Sejahtera Astra Lali Gadget Tahun 2024, jumlah durasi yang berhasil dicapai komunitas untuk menghindari screen time pada anak adalah 536 jam dalam setahun.

3. Mengembangkan desa lewat empat pilar keberlanjutan

34 x 24 zy.jpg
Desa Sejahtera Astra Lali Gadget yang menghadirkan berbagai program berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)

Berbekal semangat untuk mengembalikan ruang bermain anak di tengah gempuran gawai, komunitas ini berkembang menjadi Desa Sejahtera Astra Lali Gadget yang menghadirkan berbagai program berkelanjutan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. 

Dampaknya pun tak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Di bidang pendidikan, Desa Sejahtera Astra Lali Gadget kini aktif mendorong sekolah dan PAUD di sekitar wilayahnya untuk mengadopsi permainan tradisional sebagai metode pembelajaran. 

Sementara di bidang kesehatan, mereka kerap menggelar edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga program yang secara tidak langsung meningkatkan konsumsi protein pada anak-anak. Salah satu program tersebut adalah menangkap ikan. Menariknya, kegiatan ini ternyata berdampak pada meningkatnya minat anak untuk mengonsumsi ikan.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh komunitas, aktivitas tersebut membuat anak-anak lebih lahap makan ikan, bahkan ada beberapa anak yang sebelumnya tidak menyukai ikan, kini mulai mau mengonsumsinya.

Di bidang lingkungan, anak-anak diajarkan memilah sampah dan memanfaatkan limbah sederhana. Adapun dari sisi ekonomi atau kewirausahaan, kehadiran Desa Sejahtera Astra Lali Gadget turut mendorong tumbuhnya UMKM lokal dan produk-produk suvenir khas desa yang berkembang seiring meningkatnya jumlah pengunjung.

4. Tantangan mengubah pola pikir masyarakat

latar belakang 1.JPG
Kegiatan anak-anak di Desa Sejahtera Astra Lali Gadget (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)

Perjalanan Irfandi dalam mendirikan Desa Sejahtera Astra Lali Gadget pun tak selalu mulus. Pria lulusan Universitas Negeri Surabaya ini juga menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti mengubah pola pikir masyarakat dan mencari sumber daya manusia yang memiliki visi serupa.

“Pada awalnya, tidak semua warga mendukung program tersebut. Ada yang bersikap acuh, ada yang mempertanyakan tujuan komunitas, bahkan ada yang mencurigai sumber pendanaan kegiatan. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai melihat manfaat yang dihasilkan, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi,” ungkap Irfandi.

Menurutnya, keberlanjutan sebuah gerakan sosial bergantung pada tiga hal utama, yaitu sumber daya manusia, program yang terus berkembang, dan dukungan pendanaan.

Oleh karena itu, Desa Sejahtera Astra Lali Gadget kini mengembangkan konsep sociopreneur atau wirausaha sosial agar manfaat sosial dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

5. Titik balik bersama SATU Indonesia Awards

jejak perkembangan 2021.png
Penghargaan 12th SATU Indonesia Awards 2021 yang diperoleh Achmad Irfandi di Bidang Pendidikan (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)

Pada tahun 2021, Irfandi memutuskan mendaftar SATU Indonesia Awards dengan motivasi untuk mengukur sejauh mana gerakan yang ia bangun telah melangkah. Tak disangka, ia terpilih menjadi salah satu penerima apresiasi di Bidang Pendidikan dari belasan ribu pendaftar kala itu.

"Saya sangat bersyukur dan bangga. Melalui penghargaan ini, kami mendapatkan masukkan dari juri, bisa berjejaring dengan senior penggerak di seluruh Indonesia, dan yang paling terasa adalah publikasi media yang bertubi-tubi," ungkapnya.

Selain itu, ajang ini juga membuka kesempatan untuk belajar dari para penggerak sosial lain dan memperluas jejaring kolaborasi. Dampaknya, semakin banyak pihak yang ingin bermitra dan berkolaborasi. Popularitas Desa Sejahtera Astra Lali Gadget meroket, membuka peluang kemitraan yang lebih luas. 

“Berkat jejaring publikasi dari Astra, tokoh-tokoh publik dan selebritas nasional seperti Luna Maya, Erika Carlina, Marianne Rumantir, hingga Giring Ganesha sempat berkunjung langsung untuk melihat keunikan kampung ini,” kata Irfandi.

6. Pesan Achmad Irfandi untuk kamu yang ingin ikut 17ᵗʰ SATU Indonesia Awards 2026

KLG00537.JPG
Achmad Irfandi, Pendiri Desa Sejahtera Astra Lali Gadget (Dok. Desa Sejahtera Astra Lali Gadget)

Kini di tahun 2026, Astra kembali membuka kesempatan untuk kamu yang ingin mengikuti 17ᵗʰ SATU Indonesia Awards. Sebagai alumni, Irfandi menitipkan pesan penting untuk para pemuda di luar sana yang memiliki program berdampak nyata bagi masyarakat.

Pertama, jangan mudah menyerah. "Saya sendiri mendaftar sampai tiga kali baru bisa lolos mendapat penghargaan. Jadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Dan yang terpenting, menang atau tidak menang, gerakan sosialmu harus tetap berjalan," tegasnya.

Kedua, carilah mentor dan perbanyak jejaring. "Jangan merasa hebat sendiri karena di atas langit masih ada langit. Carilah mentor untuk belajar bagaimana membesarkan gerakan dan memahami peta kompetisi dengan lebih baik," tutup Irfandi.

SIA26_KV__Logo Mitra-Landscape.jpg
Poster 17ᵗʰ SATU Indonesia Awards 2026 (Dok. Astra)

Punya program yang menghubungkan banyak aksi dan membawa dampak nyata bagi Indonesia seperti Achmad Irfandi? Saatnya tunjukkan aksimu dan daftarkan diri atau rekomendasikan sosok inspiratif di sekitarmu dalam 17ᵗʰ SATU Indonesia Awards 2026.

Yuk, daftar langsung lewat tautan berikut: https://s.astra.id/RegistSIA_IDN! (WEB/AMS)

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Asri Muspita Sari
EditorAsri Muspita Sari

Related Articles

See More