ilustrasi wanita fokus depan laptop (pexels.com/yankrukov)
Setelah sebuah asumsi terbentuk, kita juga bisa tanpa sadar lebih memperhatikan informasi yang mendukungnya. Jika sejak awal menganggap seseorang gak menyukai kita, sikapnya yang sedikit cuek mungkin langsung dianggap sebagai bukti. Sebaliknya, sikap ramah yang bertentangan dengan anggapan tersebut bisa saja gak terlalu kita perhatikan.
Mengutip dari Monasy University, pola ini berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan lebih memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki. Akibatnya, perilaku tertentu bisa terlihat seperti pembenaran atas prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya. Padahal, masih ada kemungkinan bahwa perilaku tersebut memiliki alasan lain yang gak berkaitan dengan dugaan kita.
Prasangka pun dapat membentuk lingkaran yang semakin sulit disadari. Kita membuat dugaan, menemukan sesuatu yang terlihat mendukungnya, lalu semakin yakin bahwa penilaian awal memang benar. Karena itu, coba berhenti sejenak dan pertimbangkan kemungkinan lain sebelum menganggap prasangka sebagai fakta.
Gak semua hal yang terlintas di pikiran merupakan fakta, termasuk prasangka terhadap orang lain. Jadi, coba beri jeda dan cari tahu keadaannya sebelum buru-buru mengambil kesimpulan.