Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Psikologis Anak Sebaiknya Tidak Melihat Penyembelihan Kurban
Ilustrasi makna kurban dalam perayaan idul adha (pixabay.com/anilsharma26)

Momentum Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Prosesi ini menjadi ibadah yang dapat diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk anak-anak. Namun, muncul pertanyaan, apakah anak-anak boleh melihat proses penyembelihan hewan kurban secara langsung?

Kekhawatiran tersebut berhubungan dengan kondisi psikologis anak dan terpaparnya anak-anak pada syariat yang mungkin belum dipahami sepenuhnya. Untuk itu, pahami kondisi ini dari sisi psikologis bagi orangtua sebagai bentuk pertimbangan terkait kesiapan emosional, serta bagaimana anak merespons situasi di sekitarnya.

1. Bolehkah anak melihat penyembelihan hewan kurban?

ilustrasi panitia kurban (pexels.com/Aminu Fahd)

Menurut Pakar Psikologi Universitas Ahmad Dahlan, Alif Muarifah dalam laman Suara Muhammadiyah, anak-anak yang menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa takut berlebih dan perilaku agresif. Pengaruh psikologis ini berhubungan dengan stimulus yang masuk ke otak anak dan akan sangat memengaruhi perilakunya. Tindakan atau kegiatan yang dilihat oleh anak menjadi stimulus yang terekam di area memori, terlebih juga terdapat emosi yang menyertainya.

Alif juga menyebut, penyembelihan hewan kurang baik untuk perkembangan anak, "Anak kecil melihat hewan disembelih itu sebenarnya tidak bagus dalam perkembangan. Karena anak itu kan baru dunia fabel. Mereka sayang dengan dunia binatang. Jadi dikhawatirkan mereka akan muncul ketakutan atau hal lainnya. Apalagi melihat hewan disembelih."

2. Paparan terhadap hal yang kurang sesuai tahap perkembangan, bisa ganggu piskologis

ilustrasi kerbau untuk hewan kurban (pexels.com/ERIK DING)

Menyadari hal tersebut, Alif menekankan agar orangtua dapat memberikan pemahaman kepada anak terkait dengan penyembelihan hewan kurban. Sebab, sebagai Kepala Program Studi jurusan PAUD di UAD, Alif menyebut mendidik anak hendaknya harus mengedepankan aspek psikologis.

Untuk itu, paparan yang diterima oleh anak sebaiknya diseleksi, yakni perbanyak hal yang positif. Sebab, paparan positif akan menjadi dasar perilaku positif.

Alif menambahkan, "Mendidik itu harus sesuai dengan usia perkembangannya. Penanaman akidah memang sejak kecil, sejak bayi sudah ditanamkan akidah. Namun caranya harus tepat. Jadi, penanaman akidah selain diucapkan, dilatih, kemudian dia juga melihat, diyakinkan."

3. Di usia berapa anak boleh melihat penyembelihan hewan kurban?

ilustrasi hewan kurban (pexels.com/Alwi Hafizh Al Mumtaz)

Alif menjelaskan, tak semua anak mampu melihat proses penyembelihan kurban. Sebaiknya, orangtua mamahami tahap perkembangan anak, sehingga dapat mengukur apakah anaknya dinilai sudah cukup kematangan untuk memahami peristiwa yang tengah terjadi atau belum.

Menurut Alif, anak-anak di bawah usia 7 tahun belum layak untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban karena dapat menghadirkan berbagai gangguan psikologis.

"Anak-anak, apalagi kalau masih kecil itu perkembangannya berbeda-beda. Kognisinya akan berkembang bisa memahami benar atau salah ketika dia berusia 7 tahun. Maka, tuntunan sholat itu di usia berapa? 7 tahun," terangnya, namun ia juga mengungkap, anak-anak bisa dilatih untuk membedakan hal baik dan buruk.

Orangtua sebaiknya melakukan pengawasan dan bimbingan kepada anak. Paparan yang diterima anak akan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya.

Editorial Team

Related Article