Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Retail Therapy Burnout Bikin Doom Spending
ilustrasi retail therapy bisa berujung doom spending (pexels.com/Sam Lion)

Habis pekan yang berat di kantor atau kampus, wajar kalau kamu merasa kelelahan mental secara berlebihan alias burnout. Di momen kayak gini, sering kali belanja online jadi hiburan buat merilis stres. Fenomena retail therapy ini emang terasa sebagai penyelamat kilat karena bisa bikin suasana hati langsung terangkat. Sayangnya, kalau retail therapy dilakukan tanpa kesadaran penuh, pelarian ini malah berujung pada doom spending alias belanja impulsif berlebihan yang menguras tabungan tanpa kendali.

Kalau kebiasaan ini terus dibiarkan, bukan cuma dompet kamu yang bakalan 'menangis' di akhir bulan. Rasa bersalah akibat impulsive buying justru bisa menumpuk beban emosional baru yang bikin tingkat stres kamu makin melonjak tinggi, lho. Bukannya sembuh dari burnout, kamu malah terjebak dalam lingkaran setan masalah finansial yang bikin makin cemas. Tenang, kamu gak sendirian menghadapi masalah ini, dan setidaknya ada lima cara nyata yang bisa kamu lakukan buat mengerem kebiasaan ini sebelum finansialmu berantakan.


1. Pahami pemicu emosi sebelum menekan tombol beli

ilustrasi menunda belanja di toko online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengenali dengan pasti emosi apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan saat membuka aplikasi e-commerce. Sering kali, dorongan buat belanja itu timbul bukan karena kamu butuh barangnya, melainkan karena otakmu sedang mencari distraksi instan dari rasa cemas. Saat kamu sadar bahwa dorongan tersebut murni emosional, kamu bisa mulai melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum melakukan pembayaran. Mengidentifikasi perasaan diri secara jujur jadi kunci penting agar kamu gak terjebak pelarian yang salah.

Coba bikin aturan "jeda 24 jam" setiap kali kamu ingin memasukkan barang ke keranjang belanjaan. Dalam rentang waktu tunggu tersebut, alihkan perhatianmu ke aktivitas lain yang lebih menenangkan jiwa, seperti jalan-jalan sore, mendengarkan musik favorit, atau sekadar minum teh hangat. Kamu bakal kaget begitu sadar kalau keinginan membeli barang itu sering kali menguap begitu saja setelah emosimu stabil.


2. Batasi akses pembayaran serba instan di aplikasi

ilustrasi belanja online (pexels.com/Leeloo The First)

Kemudahan teknologi seperti fitur one-click payment atau layanan pinjaman paylater sering jadi biang kerok utama yang mempercepat tindakan doom spending. Saat pikiran lagi penuh dan capek, otak bakal kesulitan berpikir panjang untuk memperhitungkan dampak finansial di masa depan. Akibatnya, kamu jadi gampang mengeklik tombol bayar tanpa sadar berapa total rupiah yang sudah melayang. Menghapus akses pembayaran serba praktis ini bisa memberikan benteng tambahan bagi impulsivitasmu.

Kamu bisa mulai dengan menghapus data kartu kredit atau kartu debit yang tersimpan secara otomatis di berbagai platform belanja online favoritmu. Kalau perlu, hilangkan dulu aplikasi e-commerce dari layar utama HP kamu untuk sementara waktu saat kondisi mental sedang drop. Menambah "hambatan" kecil seperti harus mengetik nomor kartu secara manua juga bakal memberi otak kamu cukup waktu buat berpikir rasional kembali. Percaya, deh, sedikit kerepotan di awal ini bakal menyelamatkan saldo rekeningmu dari kebangkrutan yang gak perlu.


3. Ganti dopamine hit belanja dengan aktivitas gratis

ilustrasi menulis jurnal harian untuk menghilangkan keinginan berbelanja (pexels.com/Katya Wolf)

Satu alasan kenapa belanja rasanya nagih saat stres adalah karena adanya lonjakan hormon dopamin secara instan di otak. Otak membaca proses memilih barang dan menunggu paket datang sebagai bentuk reward setelah lelah bekerja keras. Sayangnya, dopamine hit dari belanja ini sifatnya cuma sementara dan bakal cepat menghilang, meninggalkan rasa penyesalan. Oleh karena itu, kamu perlu mencari alternatif sumber dopamin lain yang jauh lebih sehat dan gak menguras kantong.

Banyak kegiatan seru dan gratis yang bisa memberikan efek bahagia serupa buat meredakan burnout, kok. Kamu bisa mencoba berolahraga ringan seperti yoga, merawat tanaman, menulis jurnal emosi, atau maraton menonton serial favorit di rumah. Aktivitas fisik atau hobi kreatif terbukti secara ilmiah mampu menurunkan hormon stres kortisol secara alami tanpa merusak keuanganmu, lho. Jadi, mulai sekarang cari hiburan pengganti yang bikin hati tenang sekaligus dompet aman, ya.


4. Buat anggaran khusus hiburan yang terpisah dan jelas

ilustrasi mengatur tujuan anggaran keuangan (pexels.com/Karolina Grabowska)

Menghentikan kebiasaan belanja secara total saat stres memang terasa sangat menyiksa dan sering kali berakhir gagal total. Daripada melarang diri sendiri secara ekstrem, lebih baik kamu mengalokasikan anggaran khusus hiburan atau self-reward setiap bulannya secara realistis. Dengan menetapkan batas nominal yang jelas sejak awal, kamu tetap bisa menikmati retail therapy dalam kadar yang aman, kok. Prinsip yang harus kamu pegang adalah memberi ruang untuk bersenang-senang tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok.

Gunakan metode pemisahan rekening atau dompet digital khusus yang terpisah dari rekening tabungan utama dan biaya hidup harian. Kalau uang di dalam dompet khusus hiburan itu sudah habis, artinya jatah bersenang-senangmu bulan ini memang sudah selesai dan gak bisa diganggu gugat. Cara ini mengajarkan kamu untuk lebih selektif dalam memilih barang apa yang benar-benar memberikan nilai kebahagiaan, lho.


5. Cari bantuan profesional jika stres makin tak terkendali

ilustrasi berbicara dengan psikolog (pexels.com/cottonbro studio)

Jika kamu merasa dorongan untuk doom spending sangat sulit dikendalikan hingga mengganggu kelangsungan hidupmu, jangan ragu buat mencari bantuan. Burnout yang sudah memicu perilaku impulsif berlebihan kerap menjadi sinyal bahwa kesehatan mentalmu membutuhkan penanganan yang lebih dalam. Mengaku bahwa diri kamu sedang gak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menyayangi diri sendiri, kok.

Berkonsultasi dengan psikolog atau konselor profesional bisa membantumu menemukan akar masalah psikologis yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka akan memberikan strategi coping yang tepat dan sesuai dengan kondisi kepribadianmu tanpa harus melarikan diri ke perilaku konsumtif. Selain itu, kamu juga bisa berdiskusi dengan perencana keuangan untuk membenahi kembali alur finansialmu yang sempat berantakan. Ingat, kesehatan mental dan kesehatan finansialmu adalah dua hal berharga yang harus berjalan seimbang, lho.

Melakukan retail therapy saat burnout memang terasa menyenangkan, tapi jangan sampai berakhir jadi doom spending yang membebankan masa depanmu, lho. Mulai belajar mendengarkan sinyal tubuhmu dengan baik, sayangi kesehatan mentalmu, dan rawat finansialmu secara bijak mulai hari ini, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article