Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Novel Fantasi dengan Narator Non-Manusia yang Unik

2 min read
4 Novel Fantasi dengan Narator Non-Manusia yang Unik
ilustrasi baca buku (pexels.com/cottonbro studios/)
  • Empat novel fantasi dan mitologi menghadirkan narator non-manusia untuk mengeksplorasi kemanusiaan, kesepian, serta batas kebaikan dan kejahatan.
  • Frankenstein dan Grendel menempatkan monster sebagai pencerita, menyoroti penolakan, isolasi, eksistensi, dan kritik terhadap perilaku manusia.
  • Circe mengikuti dewi yang diasingkan karena sihirnya, sedangkan The Book Thief memakai Sang Kematian untuk mengisahkan harapan Liesel di Jerman Perang Dunia II.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Membaca novel fiksi dengan narator manusia tentu sudah biasa. Namun, pernahkah kamu membayangkan bagaimana sudut pandang seekor monster, dewi minor mitologi, atau bahkan sesosok entitas gaib saat memperhatikan dinamika kehidupan?

Melalui kacamata karakter non-manusia, para penulis menyajikan pengalaman membaca yang unik sekaligus mendalam. Kita diajak mempertanyakan ulang apa artinya menjadi manusia, bagaimana rasa kesepian bersemi, hingga batas antara kebaikan dan kejahatan. Berikut empat rekomendasi novel mitologi dan fantasi yang dipandu oleh sudut pandang tokoh utama non-manusia.

  1. 1. Frankenstein karya Mary Shelley

    Frankenstein karya Mary Shelley (amazon.com)
    Frankenstein karya Mary Shelley (amazon.com)

    Meskipun tajuk novel ini diambil dari nama sang ilmuwan, Victor Frankenstein, porsi narasi paling membekas justru datang dari makhluk ciptaannya. Novel gotik klasik ini memberi ruang bagi sang "monster" untuk menceritakan kepedihannya sendiri saat terbangun di dunia yang menolaknya. Lewat observasinya yang jujur dan sunyi, kita diajak merasakan dorongan murni untuk dicintai sekaligus keputusasaan akibat penolakan masyarakat.

  2. 2. Grendel karya John Gardner

    Grendel karya John Gardner (amazon.com)
    Grendel karya John Gardner (amazon.com)

    Jika kamu familiar dengan wiracarita klasik Beowulf, novel ini menawarkan pembalikan sudut pandang yang sangat menarik. John Gardner menceritakan ulang kisah legendaris tersebut lewat kacamata Grendel, monster raksasa yang selama ini dicap sebagai musuh jahat. Narasi Grendel dipenuhi perenungan filosofis tentang eksistensi, isolasi, dan keanehan tingkah laku manusia yang sering kali jauh lebih serakah dan destruktif daripada dirinya.

  3. 3. Circe karya Madeline Miller

    Circe karya Madeline Miller (amazon.com)
    Circe karya Madeline Miller (amazon.com)

    Diangkat dari mitologi Yunani, novel ini menelusuri kisah hidup Circe, putri Titan Helios yang lahir tanpa daya magis mencolok seperti dewa-dewi lainnya. Karena keanehan dan kemampuannya menguasai sihir herbal fana, ia diasingkan ke Pulau Aiaia. Melalui penuturan Circe sebagai dewi immortal, pembaca diajak menyelami perjalanannya yang penuh lika-liku, rasa kehilangan, serta kekagumannya pada daya tahan manusia yang fana.

  4. 4. The Book Thief karya Markus Zusak

    The Book Thief karya Markus Zusak (amazon.com)
    The Book Thief karya Markus Zusak (amazon.com)

    Berlatar belakang Jerman pada masa Perang Dunia II, novel ini memiliki narator yang sangat tidak biasa, yaitu Sang Kematian (Death). Meski bertugas menjemput nyawa manusia di tengah kekejaman perang, Sang Kematian justru tampil sebagai sosok pengamat yang sensitif dan mudah tersentuh. Lewat sudut pandangnya yang melintasi ruang dan waktu, ia menceritakan kisah Liesel Meminger, seorang anak perempuan yang menemukan perlindungan dan harapan di balik lembaran buku.

    Menelusuri dunia dari sudut pandang entitas non-manusia memberi kesegaran tersendiri bagi penikmat literatur. Dari keempat judul di atas, mana yang paling menarik perhatianmu untuk masuk ke daftar bacaan selanjutnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More