Burnout sering kali dianggap sebagai masalah kelelahan yang bisa selesai setelah seseorang mengambil cuti, pergi berlibur, atau menghabiskan beberapa hari tanpa membuka laptop. Liburan memang dapat memberikan kesempatan untuk beristirahat dan menjauh sejenak dari tekanan. Namun, ketika seseorang mengalami systemic burnout, persoalannya bisa jauh lebih kompleks karena sumber kelelahan tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga dari sistem, lingkungan, budaya kerja, atau pola kehidupan yang terus menghasilkan tekanan.
Istilah systemic burnout digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika kelelahan berkaitan dengan faktor yang lebih luas daripada kemampuan seseorang mengatur waktu atau menjaga dirinya sendiri. Beban kerja yang tidak realistis, kurangnya kendali, tuntutan untuk selalu tersedia, budaya kerja yang mendorong produktivitas tanpa batas, hingga ketidakjelasan peran dapat membuat seseorang kembali mengalami tekanan setelah masa istirahat selesai. Nah, berikut ini beberapa alasan systemic burnout tidak bisa diatasi hanya dengan liburan. Scroll di bawah ini!
