Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel tentang Perempuan Pelaku Pembunuhan, Bukan Thriller Biasa!

5 Novel tentang Perempuan Pelaku Pembunuhan, Bukan Thriller Biasa!
Alias Grace dan Honey (dok. Bloomsbury/Alias Grace | dok. Penguin Random House/Honey)
  • Artikel menyoroti perbedaan motif pembunuhan berdasarkan gender: pelaku perempuan lebih sering menyasar orang terdekat dengan alasan finansial, balas dendam, atau membela diri.
  • Lima novel yang direkomendasikan menampilkan perempuan pelaku pembunuhan dalam beragam konteks, dari konflik keluarga, kampus, hingga kasus nyata Kanada tahun 1834.
  • Kisah-kisah tersebut memakai pembunuhan untuk mengkritik masyarakat yang kerap memaafkan pelaku kekerasan, menyalahkan korban, dan meremehkan kemungkinan perempuan sebagai pelaku kejahatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Secara umum, data di beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, menunjukkan bahwa perbandingan persentase pembunuh bergender pria jauh lebih banyak daripada yang bergender perempuan, termasuk pembunuh berantai. Motif mereka pun berbeda jauh.

Menurut data yang dikumpulkan oleh beberapa periset dari Pennsylvania State University at Harrisburg, pembunuhan terhadap pria lebih banyak didasari oleh fantasi seksual dan keinginan untuk mendominasi. Tak pelak, korban mereka cukup acak.

Sebaliknya, pembunuh perempuan lebih sering menyasar orang terdekat. Menurut Jane Monroe, agen FBI dalam wawancara dengan A&E Crime + Investigation, motif pembunuh perempuan pun lebih praktikal, seperti alasan finansial (ingin menguasai harta korban), membalas dendam, atau membela diri.

Gak heran, ketika diadopsi ke ranah sastra sebagai produk hiburan, novel-novel tentang perempuan pelaku pembunuhan punya kekhasan sendiri. Ini bukan soal insting berburu acak, melainkan sebuah kritik sosial yang menampar pembaca.

  1. 1. My Sister, the Serial Killer (Oyinkan Braithwaite)

    My Sister, the Serial Killer karya Oyinkan Braithwaite
    My Sister, the Serial Killer karya Oyinkan Braithwaite (dok. Penguin Random House/My Sister, the Serial Killer)

    Tidak ditulis dari perspektif detektif atau pembunuhnya secara langsung, point of view (POV) yang dipakai Braithwaite untuk novelnya adalah Korede. Anak tertua dari dua bersaudara dari keluarga kelas menengah atas Nigeria, Korede, hidup cukup nyaman, berpendidikan bagus, dan kariernya sebagai nakes pun lancar.

    Sampai satu hari, adik perempuan yang amat disayanginya, Ayolah, meminta bantuan yang tak biasa. Ayolah ternyata memohon kepada sang kakak untuk membantunya membereskan jenazah pacar barunya yang tewas di tangannya. Masalahnya, pacar Ayolah adalah sosok yang selama ini dikagumi Korede. Apa alasan Ayolah membunuh pria itu? Apakah ia korban pertama Ayolah?

  2. 2. Honey (Imani Thompson)

    Honey karya Imani Thompson
    Honey karya Imani Thompson (dok. Penguin Random House/Honey)

    Honey adalah cerita Yrsa, dosen pembimbing sekaligus mahasiswi doktoral di sebuah kampus yang mulai muak dengan drama di tempat kerjanya. Satu hari, ketika tahu teman baiknya menjadi korban dari sosok dosen senior yang tak hanya menjadikannya selingkuhan, tetapi juga mencuri ide risetnya, muncul keinginan balas dendam dalam dirinya. Ia membiarkan dosen itu tewas karena alergi dengan sengaja tak segera memanggil pertolongan ketika pria itu sekarat. Akankah insiden ini berdampak pada karier dan kehidupan personal Yrsa?

  3. 3. How to Kill Men and Get Away With It (Katy Brent)

    How To Kill A Men and Get Away With It  karya Katy Brent
    How To Kill A Men and Get Away With It karya Katy Brent (dok. HarperCollins/How To Kill A Men and Get Away With It)

    Kitty Collins adalah influencer yang punya nama baik, sampai ia secara impulsif membunuh sesosok pria yang ia percaya akan memperkosa dan membunuhnya. Menariknya, sejak itu, ia jadi tak lagi ragu untuk membunuh pria-pria yang dianggapnya berbahaya bagi masyarakat.

    Kitty bukannya malaikat, ia bisa membuat kesalahan, dan wataknya pun ternyata dipengaruhi oleh trauma masa lalu. Apa itu dan bagaimana kelanjutan petualangan Kitty? Siap-siap tertampar, sih, karena Kitty berhasil menyingkap sisi tergelap dari sifat manusia, sekaligus menyajikan fakta miris di lapangan.

  4. 4. They Never Learn (Layne Fargo)

    They Never Learn karya Layne Fargo
    They Never Learn karya Layne Fargo (dok. Penguin/They Never Learn)

    Scarlet adalah dosen di sebuah kampus yang diam-diam adalah pembunuh berantai. Seperti Kitty, ia menargetkan pria-pria bejat di sekelilingnya.

    Scarlet memanfaatkan kebiasaan masyarakat yang tak mencurigai perempuan sebagai pelaku kejahatan, tetapi juga mengingatkan kita betapa mudahnya pria lepas dari hukuman setelah melakukan tindakan tak bermoral. Di sisi lain, masih di kampus yang sama, seorang mahasiswi baru terobsesi untuk membalaskan dendam teman baiknya yang menjadi korban kekerasan seksual di sebuah pesta.

  5. 5. Alias Grace (Margaret Atwood)

    Alias Grace karya Margaret Atwood
    Alias Grace karya Margaret Atwood (dok. Bloomsbury/Alias Grace)

    Terinspirasi oleh kasus pembunuhan nyata di Kanada pada 1834, Margaret Atwood mencoba mereka ulang kejadian tersebut lewat POV seorang dokter yang penasaran dengan salah satu pelaku. Grace namanya, seorang pembantu yang membunuh majikan dan kepala rumah tangga.

    Ketika ditanya motifnya, Grace menyebut seorang pembantu lain bernama Mary. Di sinilah, beberapa teka-teki mulai tersingkap. Siapa Mary dan apa hubungannya dengan kemarahan Grace yang berujung pada pembunuhan sadis? Mengapa pula Grace dapat ampunan, sementara pelaku lain yang membantunya dihukum mati?

    Meski mengusik moral, cerita fiktif tentang perempuan pelaku pembunuhan tadi punya kritik sosial yang kuat. Gak heran, beberapa justru dikategorikan sebagai satir dengan muatan feminisme ketimbang thriller. Ini bukan soal keinginan perempuan untuk mengambil alih peran dominan, tetapi sebuah tamparan untuk masyarakat kita yang kerap memaafkan pelaku kekerasan dan menyalahkan korban.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More