Comscore Tracker

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, Ini Kata Jurnalis Senior Uni Lubis

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, perhatikan 4 poin ini

Jakarta, IDN Times - Sebagai generasi yang dibesarkan di era teknologi dan digital, Millennial & Gen Z memiliki akses yang sangat mudah untuk memperoleh segala macam informasi serta sumber daya yang diperlukan. Sebagian besar dari mereka telah mulai memasuki angkatan kerja, berkecimpung bersama Generasi Y, X, bahkan Baby Boomers! Demikian juga dengan Uni Lubis. Sebagai salah seorang jurnalis senior yang kini menjadi Editor-in-Chief IDN Times, Uni banyak mempelajari karakteristik Millennial & Gen Z di dunia kerja, kemudian membagikan pengalamannya dalam bekerja bersama mereka.

1. Awal mula bergabung dengan IDN Times

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, Ini Kata Jurnalis Senior Uni LubisUni Lubis, Editor-in-Chief IDN Times (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Saat itu, IDN Media masih bisa dikategorikan sebagai bisnis media yang sangat baru: segala sesuatunya masih belum terorganisasi sebaik sekarang. Mengajak Uni untuk bergabung dengan IDN Media, Winston Utomo, CEO IDN Media, mulai banyak berdiskusi mengenai jenis konten yang Millennial & Gen Z sukai, bersama dengan jurnalis senior tersebut. “Saat itu, saya bilang pada Winston. Millennial & Gen Z itu generasi kritis, mereka mau baca hard news, seperti korupsi, kriminal, dan yang lain, kok,” tegasnya.

Hanya saja, sebut Uni, media zaman sekarang harus pandai-pandai mengatur sudut pandangnya saat menyampaikan berita. Ia melanjutkan, “Perhatikan sudut pandangnya bagaimana, kemasannya seperti apa. Mereka suka visual yang apik, seperti infografis, video, foto. Selain itu, jadwal mereka yang padat, baik untuk kerja maupun sekolah, menuntut mereka untuk menyukai sesuatu yang ringkas. Nah, dengan format listicle, mereka akan mendapatkan inti sari dari sebuah berita hanya melalui beberapa subhead yang ada.”

2. Menekan secara psikis bukan pendekatan yang relevan

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, Ini Kata Jurnalis Senior Uni LubisIndonesia Memasak by Yummy (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

“Dahulu, ketika saya masih menjadi jurnalis junior, apabila tulisan saya dinilai kurang bagus, sudah pasti kertas draft itu disobek-sobek. Ditekan sekali,” ujar Uni, mengenang masa lalu. Namun, memahami kecenderungan Millennial & Gen Z, Uni mengaku bahwa hal-hal yang ia alami ketika masih menjadi reporter junior sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan. Menegaskan kembali pernyataannya, Uni mengungkapkan, “Sudah pasti mereka tidak akan bisa menerima pendekatan semacam itu.”

Millennial & Gen Z bukan lagi dikepung oleh banjir informasi, melainkan tsunami informasi! Untuk itu, Uni percaya, tak ada pihak yang bisa memonopoli informasi. “Sumber informasi sekarang sudah serba terbuka. Referensi ada banyak, itu artinya mereka bisa lakukan studi komparasi dengan sangat mudah. Oleh karenanya, Millennial & Gen Z juga harus manfaatkan privilege ini. Mereka yang memanfaatkan hak istimewa tersebut kerap kali muncul dengan ide dan wawasan yang brilian. Kalau yang tidak memanfaatkan, ya, ketinggalan,” katanya.

3. Birokrasi jangan bertele-tele

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, Ini Kata Jurnalis Senior Uni LubisUni Lubis, Editor-in-Chief IDN Times (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Sistem dan suasana kerja di IDN Media masih dibilang masih sama seperti startup. Meski sudah berusia tujuh tahun, birokrasi yang ada di dalam perusahaan tersebut tidaklah berbelit-belit. “Ini dia salah satu hal baik yang saya sukai dari IDN Media. Can-do-it spirit-nya masih menyala dengan sangat terang. Ini jadi kesempatan buat Timmy untuk terus berimprovisasi karena tiap usulan yang mereka berikan akan selalu dikonsiderasi, ditimbang, sebelum akhirnya diputuskan untuk dieksekusi bersama. Birokrasinya tidak bertele-tele, bahkan IDN Media sering jadi fasilitator bagi Timmy untuk tampil, kok. Why not?” terang Uni.

Uni menceritakan pengalamannya saat mengadakan sesi 1:1 bersama dengan salah seorang Timmy yang saat itu sedang bercerita dan berkeluh-kesah tentang skripsi yang tengah digarapnya. “Intinya, skripsi itu berisikan observasi mengenai kejadian bunuh diri. Saya tertarik mendengar cerita dia, makanya saya bilang, ‘Coba jadikan skripsi ini sebagai buku dan kita terbitkan di Indonesia Writers Festival 2019.’ Ia hanya memiliki waktu 30 hari saat itu. Sempat pesimis, tentu saja, tapi saya yakinkan pasti bisa: hanya perlu tambahkan sedikit poin, wawancara dengan beberapa pihak lagi. Perjuangan itu pun tak sia-sia,” ungkap Uni.

4. Walk the talk

Bekerja dengan Millennial & Gen Z, Ini Kata Jurnalis Senior Uni LubisIDN Pictures (Dok. IDN Media/Herka Pangaribowo)

Bekerja dengan Millennial & Gen Z itu, menurut Uni, harus walk the talk. “Jadilah teladan bagi mereka dulu. Imbangi teori dengan praktik. Saat itu, ketika kebijakan work from home pertama kali diterapkan, kami memang tidak adakan liputan. Namun, pasti ada beberapa hal fundamental yang tetap harus kita liput,” terang Uni. Belum tega melepas anak buahnya ke lapangan, Uni pun menjadi orang pertama di dalam timnya yang turun ke lapangan. Katanya, “Saya turun tangan untuk meliput kondisi makam, serta para penggali kubur yang masih harus bekerja sampai pukul 12 malam karena jumlah jenazah yang begitu banyak saat itu.”

Dengan menerapkan protokol kesehatan secara sangat ketat, Uni pun mengambil gambar prosesi pemakaman dari jarak jauh. Ia juga mencatat nomor telepon para penggali kubur, dinas pemakaman setempat, ambulans. “Saya olah berita dari apa yang saya dapatkan hari itu, tapi foto-foto dan nomor dari pihak-pihak yang bersangkutan saya serahkan pada tim untuk mereka eksplorasi lebih jauh lagi,” Uni menceritakan.

Sekali lagi: walk the talk. “Apabila kita ingin teman-teman disiplin, hadir tepat waktu, ya beri contoh yang demikian juga. Standby juga untuk mereka: misalnya, apabila ada jumpa pers di KPK pukul 1 pagi, saya akan tetap terjaga untuk mengawasi mereka. Meski sudah tidak menulis banyak, sebagai Editor-in-Chief, saya ingin agar kehadiran saya dapat memotivasi mereka, memberi tahu mereka bahwa mereka tidak sendirian,” tutupnya.

Topic:

  • Amelia Rosary

Berita Terkini Lainnya