Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Emotional Numbness: Mengapa Kamu Merasa Hidup Kosong dan Datar?

4 min read
Emotional Numbness: Mengapa Kamu Merasa Hidup Kosong dan Datar?
ilustrasi emotional numbness (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Emotional numbness membuat seseorang sulit merasakan, mengenali, atau mengekspresikan emosi, sehingga kabar baik maupun pengalaman menyakitkan dapat terasa datar.
  • Kondisi ini dapat muncul akibat stres berkepanjangan, trauma, perubahan hidup besar, atau kondisi kesehatan mental, sebagai respons pikiran menghadapi tekanan berat.
  • Jika berlangsung lama, mati rasa emosional bisa mengganggu kepuasan hidup dan hubungan; akui kondisi, amati pemicu, menulis jurnal, serta pertimbangkan bantuan profesional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada kalanya kita gak sedang menangis, marah, atau terlihat sedih, tapi juga tidak benar-benar merasa bahagia. Semuanya seperti datar. Mendapat kabar baik terasa biasa saja, kehilangan sesuatu yang penting pun gak langsung bereaksi. Bahkan ketika orang lain bertanya apa yang sedang dirasakan, kamu mungkin hanya bisa menjawab, “Gak tahu.”

Kondisi seperti ini bisa berkaitan dengan emotional numbness atau mati rasa secara emosional. Kondisi ini bukan berarti kamu memang gak punya perasaan atau sengaja bersikap dingin. Dalam situasi tertentu, mati rasa justru bisa menjadi cara pikiran melindungi diri ketika emosi yang dihadapi terasa terlalu berat. Masalahnya, kalau kondisi ini berlangsung cukup lama, tentu tak baik jika terus diabaikan.

  1. 1. Apa sih emotional numbness?

    Mati rasa
    ilustrasi perempuan melamun (unsplash.com/mxsh)

    Emotional numbness adalah kondisi ketika seseorang merasa sulit merasakan, mengenali, atau mengekspresikan emosi seperti biasanya. Perasaannya seolah menjadi lebih tumpul. Bukan cuma sedih yang sulit dirasakan, tapi juga rasa senang, antusias, marah, bahkan kedekatan dengan orang lain juga bisa terasa berkurang. Kondisi ini berbeda dengan sekadar sedang bad mood atau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

    Misalnya, kamu mendapatkan kabar bahwa sesuatu yang sudah lama diinginkan akhirnya terwujud. Secara logika, kamu seharusnya merasa senang. Namun, respons emosional yang muncul justru datar. Kamu mungkin tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu menjalani aktivitas seperti biasa. Hal serupa bisa terjadi ketika menghadapi pengalaman apa pun termasuk menyakitkan. Kamu tak bereaksi banyak, lalu melanjutkan kehidupan.

  2. 2. Kenapa emotional numbness ini bisa terjadi?

    Melamun
    ilustrasi wanita melamun (pexels.com/olly)

    Tidak ada satu penyebab pasti yang berlaku untuk semua orang. Emotional numbness bisa muncul sebagai respons terhadap tekanan yang berat, pengalaman traumatis, perubahan besar dalam hidup, maupun kondisi kesehatan mental tertentu. Salah satu pemicunya adalah stres yang berlangsung terus-menerus. Ketika seseorang terlalu lama menghadapi tekanan tanpa henti, pikiran bisa merasa kewalahan.

    Dalam kondisi tertentu, emosi akhirnya terasa seperti “dikecilkan”. Sehingga, seseorang bisa tetap menjalani aktivitas meskipun sebenarnya sedang menghadapi sesuatu yang berat. Pengalaman traumatis juga dapat berperan. Misalnya, mengalami kehilangan, kekerasan, perundungan, hubungan yang penuh tekanan, atau peristiwa lain yang membuat tidak aman. Mati rasa bisa menjadi salah satu respons terhadap pengalaman tersebut.

  3. 3. Apa dampaknya bagi kesehatan mental dan hubungan?

    Bullying
    ilustrasi bullying (pexels.com/keira-burton)

    Emotional numbness yang berlangsung lama dapat membuat kehidupan terasa seperti kehilangan warna. Aktivitas yang sebelumnya menyenangkan tidak lagi memberikan rasa puas. Kamu bisa aja tetap melakukan hobi, berkumpul dengan teman, menonton film, atau pergi ke tempat favorit, tapi rasanya tidak benar-benar nyaman. Dari sisi kesehatan mental, kondisi ini juga dapat membuat kamu semakin sulit memahami kebutuhan diri.

    Ketika sulit mengenali apakah sedang sedih, kecewa, marah, takut, atau lelah, menentukan apa yang sebenarnya dibutuhkan menjadi lebih rumit. Dampaknya bisa terasa dalam hubungan dengan orang lain. Kamu menjadi lebih sulit menunjukkan kasih sayang, merespons cerita teman, atau merasa dekat dengan pasangan. Bukan karena gak peduli, tapi karena kamu sendiri sedang kesulitan mengakses atau memahami perasaan yang ada di dalam diri.

  4. 4. Bagaimana cara menyikapi dan mengatasinya?

    Duduk sendirian
    ilustrasi duduk sendirian (pexels.com/Piotr Arnoldes)

    Hal pertama yang bisa dilakukan adalah kamu harus berhenti memaksa diri untuk langsung merasa normal. Kalau saat ini kamu memang merasa kosong, tak perlu berpura-pura sangat bahagia hanya supaya terlihat baik-baik saja. Memberikan ruang untuk mengakui kondisi diri itu penting. Kamu juga bisa mulai memperhatikan perubahan kecil dalam keseharian.

    Coba ingat lagi sejak kapan perasaan ini muncul? Apakah ada kejadian tertentu yang mendahuluinya? Apakah kamu sedang mengalami tekanan yang cukup besar? Bagaimana pola tidur, aktivitas, dan hubunganmu dengan orang lain belakangan ini? Menulis jurnal bisa membantu kamu ketika sulit mengungkapkan perasaan secara langsung. Kalau perasaan ini berlangsung lama sampai mengganggumu, pertimbangkan untuk berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental, ya!

    Emotional numbness bukan sekadar persoalan “kurang bersyukur” atau terlalu cuek. Di balik perasaan kosong dan respons yang datar ini, bisa ada pikiran yang sedang berusaha menghadapi tekanan yang tidak ringan. Karena itu, kondisi ini layak dipahami dengan empati, bukan dihakimi.

    Mengalami kekerasan atau perlakuan salah bukanlah kesalahanmu sedikit pun. Kamu berhak merasa aman dan didengar. Jika kamu membutuhkan bantuan atau sekadar tempat bercerita, cobalah untuk mulai terbuka kepada teman dekat atau orang yang paling kamu percayai. Jangan ragu juga untuk menghubungi layanan bantuan resmi dan pendampingan berikut:

    • SAPA 129 (KemenPPPA): Call Center 129 / WhatsApp 08111-129-129

    • LBH APIK: 0813-8882-2669

    • Komnas Perempuan: 021-3903963

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More