- Sering meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahannya.
- Terlalu berusaha menyenangkan orang lain (people-pleasing).
- Terus mencari validasi atau persetujuan dari orang lain agar merasa diterima dan berharga.
- Kesulitan mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya sendiri.
- Takut menyampaikan pendapat atau perasaannya karena khawatir membuat orang lain kesal.
- Menyembunyikan atau menekan emosi yang sebenarnya dirasakan.
- Selalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan diri sendiri.
- Memberikan pujian atau sanjungan berlebihan kepada orang lain.
- Kesulitan menetapkan batasan pribadi yang sehat.
- Sulit mengatakan "tidak" kepada teman, guru, atau figur otoritas lainnya, meski hal tersebut merugikan dirinya sendiri.
Apa Itu Fawning pada Remaja? Kenali Tanda-tandanya!

- Fawning adalah respons stres di mana remaja berusaha menyenangkan orang lain untuk merasa aman, sering kali mengabaikan kebutuhan dan perasaan diri sendiri.
- Tanda-tanda fawning meliputi sering meminta maaf, sulit menolak permintaan, mencari validasi terus-menerus, serta takut mengungkapkan pendapat atau emosi pribadi.
- Dalam jangka panjang, fawning dapat memicu kecemasan dan harga diri rendah; orangtua disarankan membantu remaja mengenali perasaan, menetapkan batasan sehat, dan mencari bantuan profesional bila perlu.
Pernahkah kamu melihat remaja yang selalu mengiyakan permintaan orang lain, jarang menolak, dan tampak baik-baik saja dalam segala situasi? Sekilas, sikap seperti ini memang terlihat positif. Mereka dianggap sopan, penurut, dan mudah bergaul.
Namun di balik perilaku tadi, ada kemungkinan mereka sedang mengalami fawning, yaitu respons stres yang membuat seseorang berusaha menyenangkan orang lain demi merasa aman. Nah, kira-kira seperti apa itu fawning pada remaja dan cara mengatasinya? Yuk, langsung saja cari tahu lewat artikel berikut ini!
1. Apa itu fawning?

Fawning adalah salah satu respons terhadap stres atau ancaman, selain fight (melawan), flight (menghindar), dan freeze (membeku). Respons ini membuat seseorang berusaha menyenangkan orang lain, menghindari konflik, dan selalu berusaha mendapatkan persetujuan demi menjaga hubungan tetap aman.
Menurut Chelyan McComas, seorang terapis, dikutip dari Parents, remaja yang melakukan fawning sering memandang kemarahan atau ketidaksenangan orang lain sebagai ancaman. Akibatnya, mereka lebih memilih menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain daripada mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dan lama-kelamaan menjadi lebih bergantung pada penilaian orang lain daripada diri sendiri.
2. Cara mengenali fawning pada remaja

Fawning sering kali sulit dikenali karena sekilas terlihat seperti sikap yang sopan, ramah, dan mudah diajak bekerja sama. Padahal, menurut Sarah VerLee, direktur klinis Program Kekerasan Keluarga di The Center for Family Safety and Healing, Nationwide Children's Hospital, dikutip dari Parents, fawning merupakan respons trauma yang lebih umum terjadi daripada yang banyak orang sadari.
Remaja yang mengalami fawning sering melakukan berbagai hal demi menyenangkan orang lain dan menghindari konflik atau penolakan. Menurut Dr. VerLee, berikut beberapa tanda fawning pada remaja yang perlu diperhatikan.
Jika beberapa tanda ini muncul secara konsisten, bisa jadi remaja tersebut bukan hanya sedang bersikap baik. Mereka mungkin sedang berusaha mendapatkan rasa aman dengan mengabaikan kebutuhan dan perasaan diri sendiri.
3. Perbedaan antara fawning dan people-pleasing

Sekilas, fawning memang mirip dengan people-pleasing karena sama-sama melibatkan keinginan untuk menyenangkan orang lain. Namun, keduanya memiliki motivasi yang berbeda.
People-pleasing biasanya dilakukan untuk mendapatkan penerimaan atau persetujuan dari orang lain. Sementara itu, fawning lebih berkaitan dengan upaya melindungi diri dari ancaman yang dirasakan. Jadi, seseorang yang melakukan fawning bukan hanya ingin disukai, tetapi juga merasa perlu menyenangkan orang lain agar tetap aman dan terhindar dari konflik.
"Dalam people-pleasing, tujuan utamanya adalah mencari persetujuan. Dalam fawning, tujuan utamanya adalah melindungi diri. Fokus mereka sepenuhnya tertuju pada ancaman yang mereka rasakan," kata Emily Waitt, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, dikutip dari Parents.
4. Dampak fawning pada remaja

Jika terus berlangsung, fawning dapat membuat remaja kehilangan hubungan dengan perasaan dan kebutuhan mereka sendiri. Mereka menjadi terlalu fokus pada apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain hingga lupa mendengarkan diri sendiri.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecemasan, harga diri rendah, depresi, hingga hubungan yang tidak sehat. Sebagian remaja bahkan bisa merasa kewalahan karena terus berusaha memenuhi harapan semua orang. Akibatnya, mereka rentan mengalami kelelahan emosional dan kesulitan menentukan identitas diri yang sebenarnya.
“Fawning menciptakan stres yang berlangsung terus-menerus dan sulit dikelola oleh remaja,” ujar Hamilton Gaiani, seorang psikiater bersertifikasi ganda di Firepit Health, dikutip dari Parents.
5. Tips untuk orangtua

Ketika melihat anak yang selalu mengalah atau sulit mengatakan "tidak", banyak orangtua mungkin ingin segera mengubah perilaku tersebut. Padahal, menurut Emily Waitt, orangtua justru perlu membantu remaja lebih mengenali perasaan dan kebutuhan dirinya terlebih dahulu. Jika kamu mulai melihat tanda-tanda fawning pada anak, beberapa langkah berikut bisa dicoba:
1. Validasi perasaan mereka
Pastikan remaja tahu bahwa emosi, kebutuhan, dan pendapat mereka penting untuk didengar. Dengan begitu, mereka tidak merasa harus selalu mengutamakan orang lain demi diterima.
2. Berikan contoh batasan yang sehat
Tunjukkan bahwa mengatakan "tidak" atau menetapkan batasan bukanlah hal yang buruk. Ini bisa membantu remaja memahami bahwa menjaga diri sendiri bukan berarti egois.
3. Dorong mereka lebih mandiri
Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengambil keputusan dan menyampaikan pendapatnya sendiri. Semakin sering mereka melakukannya, semakin besar pula rasa percaya diri yang terbentuk.
4. Cari bantuan profesional bila diperlukan
Jika fawning mulai memengaruhi kesehatan mental atau kehidupan sehari-hari mereka, jangan ragu mencari bantuan profesional. Dukungan dari terapis dapat membantu remaja membangun strategi koping yang lebih sehat.
Fawning bukan sekadar sikap terlalu baik atau sulit menolak orang lain. Memahaminya sejak dini bisa membantu remaja belajar menghargai diri sendiri tanpa harus terus-menerus menyenangkan semua orang.


















