Lima penerima apresiasi 17ᵗʰ SATU Indonesia Awards 2026 memiliki fokus kontribusi yang berbeda. Namun, semuanya berangkat dari semangat untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Andi Rizki Tenryayu dari Bone, Sulawesi Selatan, dikenal sebagai pejuang gizi anak yang berupaya menekan angka stunting melalui Gerakan Intervensi Gizi Menuju Zero Stunting (GIZI, GO!).
Program ini menggunakan pendekatan Satu Anak, Satu Profil, yaitu setiap anak memiliki profil elektronik atau e-profiling untuk menentukan penanganan sesuai kebutuhannya. Intervensi yang diberikan mencakup pemenuhan gizi, penanganan medis, hingga perbaikan sanitasi lingkungan.
Bersama bidan desa dan kader Posyandu, GIZI, GO! telah menjangkau 982 balita di 10 desa. Hasilnya, jumlah anak stunting turun sebesar 45 persen, sedangkan anak berisiko stunting berkurang hingga 60 persen.
Berasal dari Pekanbaru, Riau, Hari Novar mendedikasikan diri untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil melalui Indonesian Youth Education & Social (IYES) Mengajar.
Ia mengajak ratusan anak muda dari perkotaan untuk menjadi relawan melalui media sosial. Mereka kemudian terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari mengajar siswa, melatih guru, hingga memperbaiki fasilitas sekolah.
Salah satu wilayah yang dijangkau adalah kawasan Suku Talang Mamak di Riau, yang memiliki tantangan akses dan bahkan mencakup kampung tanpa listrik.
Dalam dua tahun, relawan IYES telah menjalankan kegiatan di sembilan sekolah yang tersebar di lima kabupaten.
Ahmad Fahrezi dari Jawa Tengah menghadirkan solusi untuk persoalan limbah pasar melalui Gumregah Nata Bumi. Ia mengolah limbah sayuran dari Pasar Cepogo, Boyolali, yang sebelumnya dibuang begitu saja menjadi pupuk bernilai ekonomi.
Dengan memanfaatkan pendekatan bioteknologi, Ahmad mengolah sekitar dua ton limbah pasar setiap hari menjadi pupuk yang digunakan petani di enam kabupaten.
Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah lebih dari 50 persen, tetapi juga mendukung pemulihan kesuburan tanah. Hasilnya, bobot panen petani yang memanfaatkan pupuk tersebut dapat meningkat hingga 40 persen.
Afif Alfianto menjadi penggerak ekonomi perempuan melalui pengembangan potensi biji tamanu di Desa Karangduwur, Kebumen, Jawa Tengah.
Melalui Koperasi Produsen Sinergi Mekarsari Lestari, ia memberdayakan perempuan desa untuk mengolah biji tamanu menjadi minyak sebagai bahan kosmetik.
Proses ini dilakukan tanpa harus menebang pohon tamanu, sehingga potensi ekonomi dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Setiap bulan, inisiatif tersebut menghasilkan sekitar 30 kilogram biji tamanu yang diolah menjadi produk bernilai jual. Upaya ini turut mendorong tambahan pendapatan hingga 40 persen per bulan bagi perempuan yang terlibat.
Feri Ramanda dari Medan, Sumatra Utara, mengembangkan Farmloka, sistem peternakan modern yang menggabungkan Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan aplikasi seluler.
Berbekal pengalamannya sebagai peternak, Feri menghadirkan teknologi yang memungkinkan peternak memantau kondisi kandang secara real time dari jarak jauh. Dengan begitu, mereka dapat mengantisipasi gangguan dan mengelola produksi berdasarkan data.
Saat ini, Farmloka telah digunakan oleh sekitar 824 peternak, dengan peningkatan hasil panen hingga 93 persen. Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi untuk membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor peternakan.