ilustrasi bertahan (pexels.com/Sarah Chai)
Bertahan biasanya masih menyisakan gambaran tentang tujuan yang ingin dicapai. Walaupun jalannya tidak mudah, seseorang masih tahu alasan mengapa ia berada di sana. Ada arah yang jelas meski prosesnya panjang. Perasaan lelah tetap ada, tetapi tidak menghapus keyakinan terhadap tujuan tersebut.
Sebaliknya, memaksakan diri sering membuat seseorang kehilangan arah. Hari demi hari dijalani hanya karena sudah terbiasa menjalaninya. Ketika ditanya ingin sampai ke mana, jawabannya mulai sulit ditemukan. Jika alasan untuk tetap melangkah semakin kabur sementara beban terus bertambah, mungkin yang perlu dievaluasi bukan kemampuannya untuk bertahan, melainkan tujuan yang sedang dikejar sejak awal.
Memilih bertahan atau berhenti bukan perkara siapa yang lebih kuat. Terkadang keputusan paling bijak justru datang setelah berani mengakui bahwa sesuatu tidak lagi berjalan ke arah yang diharapkan. Jadi, saat menghadapi situasi yang menguras banyak tenaga, apakah yang sedang dilakukan benar-benar bertahan atau malah memaksakan diri?