Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagi Anak Muda, Merdeka Bisa Berarti Terbebas dari 5 Hal Ini

Bagi Anak Muda, Merdeka Bisa Berarti Terbebas dari 5 Hal Ini
ilustrasi kemerdekaan Indonesia (unsplash.com/Hobi Industri)
  • Bagi anak muda, kemerdekaan kini juga berarti lepas dari tekanan lingkungan, media sosial, dan diri sendiri yang membuat masa muda terasa seperti perlombaan.
  • Tekanan produktivitas, kebiasaan membandingkan hidup, serta FOMO dapat mendorong anak muda mengikuti standar atau aktivitas yang tidak selalu mereka inginkan.
  • Kemerdekaan personal mencakup tidak bergantung pada validasi, berani mengakui kondisi emosional, serta memberi ruang untuk beristirahat dan menentukan hal yang penting bagi diri sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap tahunnya, kemerdekaan Indonesia selalu dirayakan dengan berbagai macam cara. Ada yang upacara hingga lomba di lingkungan tempat tinggal. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, mungkin kata "merdeka" memiliki arti yang berbeda bagi anak muda saat ini. Anak muda sekarang memang gak lagi hidup di bawah penjajahan, tetapi tidak sepenuhnya bebas dari tekanan.

Tekanan tersebut biasanya muncul dari lingkungan, media sosial, bahkan dari diri sendiri. Anak muda sering kali dihadapkan dengan perasaan ingin selalu produktif dan membuat masa muda terasa seperti perlombaan. Lantas, apa saja hal yang membuat anak muda ingin "merdeka"?

  1. 1. Merdeka dari tuntutan produktif

    ilustrasi produktif (pexels.com/AndreaPiacquadio)
    ilustrasi produktif (pexels.com/AndreaPiacquadio)

    Anak muda sekarang dihadapkan dengan istilah hustle culture, di mana kesibukan kadang dianggap sebagai bukti bahwa seseorang sedang berkembang. Anak muda dapat merasa harus terus belajar, bekerja, mengikuti berbagai kegiatan., membangun side hustle, atau mengembangkan kemampuan lainnya agar waktunya dianggap tidak terbuang. Padahal, tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda setelah digunakan beraktivitas sepanjang hari.

    "Generasi milenial muda dan gen Z tumbuh dengan banyak tekanan untuk menjadi orang yang berprestasi tinggi, tetapi mereka memulai karier di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian," ujar Debbie Sorensen, psikolog dari Denver, dikutip dari CNBC.

    Karena itu, beristirahat tanpa merasa bersalah juga bisa menjadi kemerdekaan kecil. Sebab, hidup bukan perlombaan yang mengharuskan seseorang terus bergerak hanya agar gak tertinggal.

  2. 2. Merdeka dari kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain

    ilustrasi membandingkan diri di media sosial (freepik.com/freepik)
    ilustrasi membandingkan diri di media sosial (freepik.com/freepik)

    Dengan hanya scroll media sosial beberapa menit saja, kita akan melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru, lulus kuliah, menikah, atau mencapai prestasi. Semua pencapaian tersebut muncul di waktu yang bersamaan sehingga mudah sekali merasa hidup tertinggal. Banyak anak muda yang sering kali membandingkan diri dengan versi terbaik orang lain. Hal ini membuat pencapaian sendiri masih terasa kurang.

    Padahal, media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan seseorang saja. Karena itu, bukan hanya soal terlalu sering scroll sosial media, tapi juga bagaimana seseorang memaknai apa yang dilihat. Jadi, merdeka gak berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Kemerdekaan bisa dimulai dengan berhenti menganggap kehidupan orang lain sebagai standar yang wajib dikejar.

  3. 3. Merdeka dari rasa takut ketinggalan (FOMO)

    Ilustrasi fomo (pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi fomo (pexels.com/cottonbro studio)

    Pernah merasa harus mengikuti sesuatu tren atau acara karena merasa takut ketinggalan momen yang akan dibicarakan semua orang? Perasaan ini sering dikenal dengan Fear of Missing Out atau FOMO. Pada anak muda, FOMO semakin mudahh muncul karena media sosial membuat kita bisa melihat berbagai aktivitas orang lain dalam satu waktu.

    Akibatnya, seseorang bisa mengikuti berbagai kegiatan bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut menjadi satu-satunya orang yang gak ikut. Merdeka dari tuntunan FOMO ini berarti anak muda berani melewatkan sesuatu tanpa otomatis merasa hidup tertinggal. Karena tidak semua pengalaman harus dimiliki hanya agar masa muda terasa lengkap.

  4. 4. Merdeka dari keharusan mendapat validasi

    ilustrasi validasi orang lain (freepik.com/ pressfoto)
    ilustrasi validasi orang lain (freepik.com/ pressfoto)

    Sekarang ini, media sosial menjadi ruang untuk membuat citra diri. Media sosial membuat banyak aktivitas sehari-hari berubah menjadi sesuatu yang harus ditampilkan. Karena lama-kelamaan, validasi dari orang lain dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.

    Gak semua hal dalam hidup harus mendapatkan respons dari banyak orang. Merdeka dari validasi orang lain adalah ketika anak muda masih bisa menikmati sesuatu tanpa membutuhkan pengakuan orang lain.

  5. 5. Merdeka dari keharusan terlihat baik-baik saja

    ilustrasi 'baik-baik saja' (pexels.com/Artem Podrez)
    ilustrasi 'baik-baik saja' (pexels.com/Artem Podrez)

    Masa muda sering kali dianggap masa yang paling menyenangkan dalam hidup. Karena itu, ketika anak muda merasa lelah, sedih, gagal, atau belum memiliki arah tujuan hidup, ia bisa merasa dirinya sedang melakukan sesuatu yang salah. Merdeka dari hal ini berarti bisa memberikan ruang kepada diri sendiri untuk mengakui bahwa hidup sedang gak baik-baik saja tanpa merasa harus menyembunyikannya.

    Psikolog Lee Bare, Ph.D. menulis dalam Psychology Today, "Memiliki emosi berarti mengalami sisi positif dan negatif dan gak apa-apa untuk merasa gak baik-baik saja."

    Kemerdekaan mungkin gak selalu hadir dalam bentuk yang besar atau heroik. Bagi anak muda saat ini, merdeka juga bisa berarti berhenti merasa harus produktif atau harus terlihat baik-baik saja. Anak muda bisa mulai mengenali mana yang memang benar-benar penting untuk dirinya. Merdeka bukan berarti hidup tanpa tuntutan atau tanggung jawab, melainkan punya ruang untuk bernapas di tengah semuanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More