ilustrasi hustle culture (pexels.com/SHVETS production)
Ada orang yang menganggap wajar kalau karyawan harus membalas chat tentang kerjaan pada tengah malam. Ada pula yang merasa kurang tidur, terus-menerus cemas soal uang, atau tidak punya waktu untuk keluarga, yang merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari ketika sudah dewasa. Karena melihat banyak orang menjalani keadaan serupa, kita akhirnya menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan. Padahal, sesuatu yang sering terjadi belum tentu baik atau pantas untuk terus dibiarkan.
Pola pikir ini bisa membuat kita menerima keadaan yang sebenarnya layak dipertanyakan. Kalau semua orang di kantor terbiasa lembur tanpa bayaran yang layak, bukan berarti kebiasaan lembur otomatis adil. Kalau banyak pekerja harus mengambil pekerjaan tambahan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan berarti persoalannya selesai dengan meminta mereka lebih produktif. Kita memang tidak bisa mengubah semua keadaan seorang diri, tetapi setidaknya kita tidak perlu ikut membenarkan sesuatu hanya karena sudah lama berlangsung. Ada perbedaan antara memahami bahwa hidup punya kesulitan dan menganggap setiap kesulitan sebagai sesuatu yang harus ditanggung tanpa boleh dipersoalkan.
Kesalahan berpikir sering muncul ketika kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa masalah orang lain pasti disebabkan oleh pilihan mereka sendiri. Kita melihat orang berutang, lalu langsung menganggapnya boros; melihat orang miskin, lalu menuduhnya malas; melihat pekerja kelelahan, lalu menyuruhnya mencari pekerjaan tambahan. Padahal, sebelum menilai, ada baiknya kita bertanya apakah kita benar-benar memahami keadaan yang sedang mereka hadapi? Lantaran, ada banyak bahaya kesalahan berpikir dalam kehidupan sehari-hari yang tentu merugikan orang lain dan dirimu sendiri.