Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Tips Mengajak Anak Tetap Aktif Bermain saat Musim Kemarau

5 min read
6 Tips Mengajak Anak Tetap Aktif Bermain saat Musim Kemarau
ilustrasi ayah dan anak bermain (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Orang tua dapat menjaga anak tetap aktif saat kemarau dengan memilih waktu pagi atau sore, serta memindahkan kegiatan ke dalam ruangan bila cuaca terlalu panas atau kualitas udara buruk.
  • Permainan indoor, aktivitas rumah yang aman, dan permainan air dengan pengawasan bisa membuat anak tetap bergerak, sekaligus melatih motorik, koordinasi, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi.
  • Sediakan minum dan jeda istirahat rutin, pantau tanda kepanasan, serta tawarkan permainan menarik sebagai alternatif waktu layar tanpa mengabaikan keamanan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musim kemarau sering membuat orang tua perlu memutar otak untuk mengajak anak tetap aktif bermain. Cuaca yang panas membuat anak lebih cepat berkeringat, mudah merasa haus, bahkan enggan keluar rumah. Akibatnya, anak bisa lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi, bermain gim, atau menonton video di ponsel.

Padahal, anak tetap membutuhkan aktivitas fisik untuk mendukung perkembangan motorik, menjaga kebugaran, dan melatih kemampuan bersosialisasi. Kabar baiknya, bermain aktif gak harus selalu dilakukan di luar rumah atau membutuhkan banyak peralatan. Orang tua bisa menyesuaikan jenis permainan, waktu bermain, dan kondisi lingkungan agar anak tetap bergerak tanpa terlalu kepanasan.

  1. 1. Pilih waktu bermain saat udara belum terlalu panas

    Ilustrasi seorang ibu mendampingi anak menyusun puzzle di meja sebagai kegiatan bermain dan belajar bersama.
    ilustrasi ibu dan anak bermain puzzle (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Waktu bermain sangat menentukan kenyamanan anak selama musim kemarau. Hindari mengajak anak melakukan aktivitas fisik berat ketika matahari sedang terik, terutama sekitar pukul 10.00 hingga 16.00. Sebagai gantinya, kamu bisa mengajak anak bermain pada pagi hari atau menjelang sore ketika kondisi cuaca lebih memungkinkan.

    Misalnya, ajak anak berjalan santai di sekitar rumah, bermain bola ringan, atau bersepeda di tempat yang aman pada pagi hari. Perhatikan juga kondisi cuaca setempat karena suhu dan paparan matahari bisa berbeda setiap harinya. Jika udara masih terasa sangat panas atau kualitas udara sedang buruk, sebaiknya pindahkan kegiatan ke dalam ruangan yang sejuk.

  2. 2. Ciptakan permainan aktif di dalam rumah

    Seorang ibu dan anak duduk bersama sambil bermain game, menggambarkan aktivitas hiburan keluarga di rumah.
    ilustrasi ibu dan anak bermain game (pexels.com/Nicola Barts)

    Anak tetap bisa bergerak aktif meskipun cuaca di luar sedang panas. Kamu bisa memanfaatkan ruang keluarga atau area lain yang cukup luas untuk membuat permainan sederhana. Contohnya, mengajak anak menari mengikuti lagu favorit, berjalan mengikuti garis yang dibuat dari selotip kertas, atau melakukan permainan meniru gerakan hewan.

    Supaya anak gak cepat bosan, variasikan permainan setiap beberapa waktu dan sesuaikan dengan usia serta kemampuan fisiknya. Kamu juga bisa membuat tantangan ringan, seperti melompat beberapa kali, berjalan jinjit, atau mengambil benda berdasarkan warna tertentu. Pastikan area bermain bebas dari benda tajam, lantai licin, dan perabot yang berisiko membuat anak tersandung.

  3. 3. Manfaatkan permainan air dengan pengawasan

    Seorang anak bermain di luar rumah di area terbuka, menggambarkan aktivitas anak yang aktif dan ceria pada siang hari.
    ilustrasi seorang anak bermain di luar rumah (pexels.com/Kampus Production)

    Bermain air bisa menjadi pilihan menyenangkan untuk membantu anak merasa lebih segar saat cuaca panas. Kamu gak harus memiliki kolam renang untuk melakukannya. Anak bisa bermain menuang air menggunakan gelas plastik, memindahkan air dari satu wadah ke wadah lain, atau menyiram tanaman bersama orang tua.

    Meski terlihat sederhana, permainan tersebut juga melatih koordinasi tangan dan mata serta kemampuan anak mengendalikan gerakan. Namun, jangan meninggalkan anak sendirian saat bermain air, bahkan ketika airnya dangkal. Kosongkan wadah setelah selesai digunakan agar gak menjadi tempat penampungan air yang berisiko bagi anak maupun menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

  4. 4. Ajak anak melakukan aktivitas rumah yang menyenangkan

    Seorang ibu dan anak duduk berdampingan sambil bermain gim bersama menggunakan perangkat elektronik di dalam rumah.
    ilustrasi ibu dan anak bermain game (pexels.com/Alex Green)

    Aktivitas rumah juga bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk bergerak tanpa merasa sedang diminta berolahraga. Kamu bisa mengajak anak merapikan mainan, menyusun buku, memindahkan pakaian ringan ke keranjang, atau membantu menyiram tanaman menggunakan alat yang sesuai dengan usianya. Agar lebih menarik, ubah kegiatan tersebut menjadi permainan kecil yang memiliki tujuan sederhana.

    Sebagai contoh, ajak anak mengumpulkan mainan berdasarkan warna atau berlomba merapikan benda dengan gerakan yang aman. Selain membuat tubuh tetap aktif, kegiatan ini membantu anak belajar bertanggung jawab dan mandiri. Hindari memberikan tugas yang terlalu berat atau melibatkan benda panas, tajam, dan bahan pembersih rumah tangga yang berbahaya.

  5. 5. Berikan jeda minum dan istirahat secara teratur

    Ilustrasi anak bermain tebak kata sebagai aktivitas edukatif yang melatih kemampuan bahasa dan berpikir.
    ilustrasi anak bermain tebak kata (pexels.com/Artem Podrez)

    Saat asyik bermain, anak terkadang lupa bahwa tubuhnya membutuhkan cairan dan waktu untuk beristirahat. Karena itu, orang tua perlu menyediakan air minum yang mudah dijangkau dan menawarkan minum secara berkala, terutama setelah anak banyak bergerak atau berkeringat. Jangan menunggu sampai anak mengeluh haus untuk mengingatkannya minum.

    Perhatikan pula tanda-tanda anak mulai kepanasan, seperti wajah memerah, keringat berlebihan, kelelahan yang gak biasa, sakit kepala, atau merasa pusing. Jika tanda tersebut muncul, hentikan aktivitas dan pindahkan anak ke tempat yang lebih sejuk. Bantu anak beristirahat dan minum jika ia sadar penuh serta mampu menelan dengan baik. Jika anak mengalami kebingungan, pingsan, atau kondisi yang mengkhawatirkan, segera cari pertolongan medis.

  6. 6. Batasi waktu layar dengan menawarkan pilihan permainan

    Seorang ibu berdiri mengawasi anak kecil yang bermain bersama seekor anjing di halaman rumah pada siang hari.
    ilustrasi seseorang ibu mengawasi anak bermain bersama anjing (pexels.com/Jep Gambardella)

    Ketika cuaca panas, anak mungkin lebih tertarik bermain ponsel atau menonton televisi karena terasa lebih nyaman daripada bergerak di luar rumah. Kamu gak perlu langsung melarang seluruh waktu layar. Cobalah menawarkan pilihan aktivitas lain yang menyenangkan agar anak punya alasan untuk beranjak dan mencoba permainan yang berbeda.

    Misalnya, setelah menonton satu tayangan, ajak anak bermain tebak gerakan, menyusun balok, membuat jalur rintangan sederhana dari bantal, atau bermain peran sebagai penjual dan pembeli. Libatkan diri kamu sesekali agar anak merasa kegiatan tersebut lebih menarik. Jika anak diberi pilihan permainan yang sesuai dengan minatnya, ia biasanya lebih mudah diajak bergerak tanpa harus terus-menerus diingatkan.

    Musim kemarau bukan alasan untuk menghentikan aktivitas bermain anak. Orang tua hanya perlu menyesuaikan waktu, tempat, dan jenis permainan agar anak tetap bisa bergerak dengan nyaman. Aktivitas sederhana di dalam rumah pun bisa memberikan pengalaman menyenangkan sekaligus mendukung perkembangan anak.

    Kamu juga gak harus menyiapkan permainan baru setiap hari atau membeli banyak perlengkapan. Manfaatkan benda yang sudah tersedia di rumah dan jadikan waktu bermain sebagai kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak. Selama kebutuhan minum, istirahat, keamanan, dan kenyamanan anak tetap diperhatikan, bermain aktif bisa menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas sehari-hari meskipun musim kemarau sedang berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More