Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Tanda Pasangan Kurang Punya Dorongan untuk Berkembang

4 min read
6 Tanda Pasangan Kurang Punya Dorongan untuk Berkembang
ilustrasi pasangan sedang berdiskusi (pexels.com/gustavo-fring)
  • Dorongan berkembang dalam hubungan tidak hanya soal karier atau penghasilan, tetapi kemauan belajar dari pengalaman, memperbaiki kebiasaan, memahami emosi, dan menerima masukan.
  • Tanda kurangnya dorongan berkembang terlihat saat pasangan banyak berencana tanpa tindakan, sulit mengakui kesalahan, menolak kritik, serta enggan mencoba perspektif atau hal baru.
  • Sikap meremehkan pencapaian orang lain dan menghindari tantangan dapat menghambat pertumbuhan; proses berkembang menuntut keberanian menghadapi kegagalan, penolakan, dan ketidaknyamanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Punya pasangan dengan pekerjaan mapan memang terasa meyakinkan, tetapi hubungan yang sehat gak hanya bergantung pada penghasilan atau pencapaian karier. Kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mengambil langkah nyata demi kehidupan yang lebih baik, juga gak kalah penting. Karena itu, dorongan untuk berkembang perlu kamu perhatikan dalam hubungan.

Ambisi sering kali dianggap sebatas keinginan meraih jabatan tinggi atau gaji besar. Padahal, ambisi juga terlihat dari cara seseorang menghadapi masalah, menerima masukan, dan mendukung perkembangan orang lain. Yuk, kenali tanda pasanganmu kurang punya dorongan untuk berkembang berikut ini!

  1. 1. Gak tertarik memperbaiki diri

    ilustrasi pasangan yang sedang mengadu berargumen
    ilustrasi pasangan yang sedang mengadu berargumen (pexels.com/keira-burton)

    Salah satu tanda pasangan kurang punya dorongan untuk berkembang adalah gak mau belajar dari pengalaman dan memperbaiki kebiasaan. Misalnya, ia terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa mencari penyebabnya atau enggan mengevaluasi diri setelah konflik. Padahal, mengenali kekurangan dan berusaha memperbaikinya merupakan bagian penting dari proses bertumbuh.

    Keinginan berkembang gak harus berkaitan dengan karier atau pencapaian besar, tetapi juga bisa terlihat dari usaha memahami emosi dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Dikutip dari SELF, Keisha Saunders-Waldron, LCMHCS, terapis spesialis dinamika hubungan, menjelaskan bahwa ambisi berkaitan dengan pertumbuhan, bukan sekadar pencapaian. Karena itu, perhatikan apakah pasangan mau memperbaiki diri, bukan hanya pencapaian yang sudah diraihnya.

    “Ambisi berkaitan dengan pertumbuhan, bukan sekadar pencapaian,” ujar Keisha Saunders-Waldron.

  2. 2. Sering membicarakan rencana, tetapi gak mengambil tindakan

    ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)
    ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)

    Pasangan mungkin sering membicarakan keinginan untuk menabung, mencari pekerjaan lebih baik, atau menjalani gaya hidup sehat. Namun, jika semuanya hanya menjadi wacana tanpa langkah nyata, hal ini patut kamu perhatikan. Sebab, dorongan untuk berkembang gak cukup hanya dengan rencana, tetapi juga perlu tindakan.

    Dikutip dari SELF, Ciara Bogdanovic, LMFT, seorang terapis dan pendiri Sagebrush Psychotherapy di Los Angeles, menjelaskan bahwa orang yang kurang ambisius cenderung menunggu sesuatu terjadi daripada mengambil inisiatif. Sikap ini terlihat ketika pasangan terus menunda langkah yang sebenarnya bisa mulai dilakukan secara bertahap. Meski gak semua rencana harus langsung terwujud, perhatikan apakah ia berusaha menepati komitmennya sendiri.

    “Mereka menunggu sesuatu terjadi pada diri mereka, alih-alih mengambil inisiatif sendiri,” ujar Ciara Bogdanovic.

  3. 3. Sulit menerima kritik dan mengakui kesalahan

    ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/alexgreen)
    ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/alexgreen)

    Dalam hubungan, pasangan yang kurang punya dorongan untuk berkembang biasanya sulit menerima masukan tanpa merasa diserang. Saat menghadapi masalah, ia cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan daripada mengevaluasi diri. Jika terus berulang, sikap ini bisa membuatnya sulit belajar dari kesalahan dan memperbaiki hubungan.

    Sebaliknya, orang yang mau berkembang, akan berusaha mencari hal yang bisa diperbaiki saat menghadapi konflik atau kegagalan. Ia gak harus selalu setuju dengan kritik, tetapi bersedia mempertimbangkannya sebelum merespons. Karena itu, perhatikan apakah pasangan mau mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman, bukan sekadar mencari pembenaran.

  4. 4. Gak memiliki rasa ingin tahu terhadap hal baru

    ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)
    ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

    Rasa ingin tahu menjadi salah satu tanda bahwa seseorang ingin terus berkembang. Hal ini terlihat dari kesediaannya mempelajari keterampilan baru, mendengarkan sudut pandang berbeda, atau mencoba pengalaman baru. Sebaliknya, pasangan yang selalu menolak hal baru tanpa berusaha memahaminya, mungkin kurang terbuka terhadap kesempatan belajar.

    Keinginan belajar gak harus dibuktikan lewat gelar akademik atau pengetahuan luas. Seseorang juga bisa menunjukkannya dengan membaca, mengajukan pertanyaan, dan mencoba memahami pengalaman orang lain. Jika pasangan selalu merasa paling benar dan enggan mempertimbangkan perspektif berbeda, sikap ini bisa menghambat perkembangannya.

  5. 5. Meremehkan pencapaian orang lain

    ilustrasi pasangan sedang berdebat  (pexels.com/yankrukov)
    ilustrasi pasangan sedang berdebat (pexels.com/yankrukov)

    Pasangan yang kurang punya dorongan untuk berkembang, mungkin merasa gak nyaman melihat keberhasilan orang lain. Misalnya, ia menganggap pencapaian temanmu hanya karena keberuntungan atau meremehkan usahamu karena menganggapnya mudah. Jika terus berulang, sikap ini bisa membuatmu merasa gak dihargai saat mengejar tujuan pribadi.

    Keberhasilan pasangan seharusnya gak dianggap sebagai ancaman atau bahan perbandingan. Hubungan yang suportif memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk merayakan pencapaian dan mengembangkan potensi masing-masing. Karena itu, perhatikan apakah pasangan menghargai usahamu meski kalian memiliki tujuan dan proses berkembang yang berbeda.

  6. 6. Selalu menghindari tantangan dan ketidaknyamanan

    ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional (pexels.com/shvetsproduction)
    ilustrasi pasangan berkonsultasi dengan profesional (pexels.com/shvetsproduction)

    Proses berkembang gak selalu berjalan mulus karena seseorang perlu menghadapi kegagalan, penolakan, atau situasi yang gak nyaman. Pasangan yang terus menghindari tantangan mungkin memilih menyerah saat kesulitan atau enggan mencoba karena takut gagal. Akibatnya, ia bisa terus berada di zona nyaman tanpa berusaha mengembangkan kemampuannya.

    Ciara Bogdanovic menjelaskan bahwa proses memperbaiki diri melibatkan kegagalan, pembelajaran yang gak selalu mudah, dan penolakan. Karena itu, perhatikan cara pasangan menghadapi kesulitan, bukan hanya keberhasilannya saat semuanya berjalan lancar. Kesediaan untuk mencoba kembali, belajar dari pengalaman, dan menghadapi tantangan secara bertahap bisa menunjukkan keinginannya untuk berkembang.

    Dorongan untuk berkembang gak selalu diukur dari pencapaian besar, tetapi juga dari kemauan belajar, memperbaiki diri, dan menghadapi tantangan. Jadi, perhatikan apakah kamu dan pasangan bisa saling mendukung untuk tumbuh bersama tanpa harus membandingkan proses masing-masing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More