Ilustrasi Rencana Anggaran Keuangan (freepik.com/wirestock)
Uang tunai juga bisa dijadikan alat sederhana untuk membatasi anggaran. Seseorang dapat menentukan jumlah uang yang akan dibawa sebelum pergi berbelanja. Misalnya, hanya membawa Rp50 ribu untuk membeli kebutuhan tertentu. Dengan begitu, jumlah uang yang tersedia secara otomatis menjadi batas pengeluaran.
Metode ini cukup mudah diterapkan karena tidak membutuhkan pengaturan khusus di aplikasi. Ketika uang yang dibawa sudah habis, seseorang dapat berhenti berbelanja atau mempertimbangkan kembali sebelum mengambil uang tambahan. Bagi orang yang sedang berusaha lebih disiplin mengatur keuangan, sistem seperti ini masih terasa praktis.
Pembayaran cash belum sepenuhnya ditinggalkan, bukan karena masyarakat tidak mengenal teknologi pembayaran digital. Justru, semakin banyaknya pilihan pembayaran membuat orang memiliki kebebasan untuk memilih metode yang paling sesuai dengan situasi. QRIS, mobile banking, dan dompet digital menawarkan kecepatan serta kepraktisan, sementara uang tunai masih memberikan kemudahan dalam kondisi tertentu.
Bayar cash masih dipilih di era transaksi digital karena metode pembayaran tersebut tidak bergantung pada internet maupun baterai ponsel, dapat digunakan di tempat yang belum menerima pembayaran digital, dan membantu sebagian orang mengontrol pengeluaran. Pada akhirnya, cara seseorang membayar dapat berbeda-beda tergantung kebutuhan, kebiasaan, kondisi tempat, dan kenyamanan masing-masing. Selama uang tunai masih memberikan manfaat dalam situasi tertentu, keberadaannya kemungkinan tetap menjadi bagian dari aktivitas transaksi sehari-hari.