Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bayar Joki Baca Buku, tapi Siapa yang Sebenarnya Mendapat Ilmu?

6 min read
Bayar Joki Baca Buku, tapi Siapa yang Sebenarnya Mendapat Ilmu?
ilustrasi anggota book club melingkar dan baca buku bersama (freepik.com/freepik)
  • Skor membaca PISA 2025 Indonesia naik menjadi 365, tetapi hanya 27 persen murid usia 15 tahun mencapai kompetensi minimum Level 2, dibanding rata-rata OECD 69 persen.
  • Literasi mencakup memahami, mengevaluasi, merefleksikan, dan menggunakan teks; rangkuman dari joki dapat memindahkan informasi, tetapi tidak otomatis memindahkan proses memahami serta mengkritik gagasan.
  • Rangkuman bermanfaat sebagai pengantar atau bahan tinjauan, namun untuk pemahaman mendalam dan berpikir kritis, pembaca perlu terlibat langsung mengolah gagasan buku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masalah membaca di Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa skor membaca murid Indonesia naik enam poin dibandingkan PISA 2022 menjadi 365 poin dari sebelumnya 359 poin. Meski mengalami peningkatan, hanya sekitar 27 persen murid Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai kompetensi membaca minimal Level 2, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69 persen

Data tersebut tidak membuktikan bahwa joki baca buku menyebabkan rendahnya kemampuan membaca. Namun, temuan itu mengingatkan kita bahwa tantangan literasi bukan sekadar seberapa banyak buku yang selesai dibaca, melainkan seberapa baik seseorang memahami informasi di dalamnya. Lantas, ketika membaca bisa diserahkan kepada orang lain, apakah kita benar-benar sedang belajar atau hanya membayar agar pekerjaan membaca selesai?

  1. 1. Membaca bukan sekadar menamatkan buku

    ilustrasi membaca buku
    ilustrasi membaca buku (pexels.com/Sóc Năng Động)

    Membaca sering kali diukur melalui hal-hal yang mudah terlihat. Seseorang dianggap gemar membaca karena mampu menyebutkan puluhan judul buku, memiliki rak buku yang penuh, atau rutin membagikan kutipan di media sosial. Padahal, ukuran tersebut belum tentu menggambarkan seberapa jauh seseorang memahami gagasan yang dibacanya. Ada perbedaan antara menyelesaikan sebuah buku dan menjadikan isinya sebagai bagian dari cara berpikir.

    Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, dan terlibat dengan teks untuk mencapai tujuan serta mengembangkan pengetahuan dan potensi diri. Artinya, membaca tidak berhenti pada kegiatan menerima informasi dari tulisan. Ada proses memahami makna, menilai gagasan, dan menggunakan informasi sesuai kebutuhan.

    Jika mengacu pada pengertian tersebut, jasa joki baca buku menyisakan persoalan menarik. Ketika seseorang membayar orang lain untuk membaca sebuah buku dan menyusun rangkumannya, informasi memang dapat berpindah melalui dokumen yang diterima. Namun, pengalaman memahami teks, mempertanyakan pendapat penulis, dan menghubungkan isinya dengan pengetahuan sebelumnya tidak otomatis berpindah bersama dokumen itu.

  2. 2. Ilmu bisa dirangkum, tetapi pemahaman perlu dibangun

    ilustrasi bertanya
    ilustrasi bertanya (unsplash.com/Marcos Luiz Photograph)

    Menyusun rangkuman buku sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Dalam situasi tertentu, adanya rangkuman dapat membantu pembaca mengenali gagasan utama sebelum memutuskan untuk membaca buku secara utuh. Ringkasan juga bisa menjadi media belajar yang berguna, terutama jika disusun dengan baik dan digunakan untuk mengulang materi.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: Applied pada 2024 oleh Fieke Ophuis-Cox et al., meneliti pengaruh strategi merangkum dan latihan mengingat informasi terhadap pemahaman teks serta retensi pengetahuan faktual. Penelitian tersebut melibatkan 57 murid kelas tiga dan empat sekolah dasar. Hasilnya, menunjukkan bahwa latihan mengingat informasi memberikan hasil lebih baik dalam retensi pengetahuan faktual dibandingkan merangkum maupun membaca ulang. Sementara itu, strategi merangkum memberikan hasil pemahaman teks yang lebih baik dibandingkan latihan mengingat dalam penelitian tersebut.

    Penelitian ini tidak secara langsung menguji jasa joki baca buku pada orang dewasa. Namun, hasilnya memberikan gambaran bahwa kegiatan setelah membaca turut menentukan hasil belajar. Informasi yang sudah diringkas belum tentu melekat dalam ingatan, apalagi dapat digunakan ketika seseorang menghadapi persoalan yang berbeda.

    Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Seseorang bisa menerima rangkuman yang sangat rapi, tetapi belum tentu mampu menjelaskan kembali argumen utama buku tanpa melihat catatan. Ia mungkin mengetahui kesimpulan yang telah disarikan penulis, tetapi belum memahami alasan di balik kesimpulan tersebut. Ketika diminta mengkritik gagasan atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, pemahamannya pun belum tentu memadai. Artinya, rangkuman dapat memindahkan informasi, tetapi tidak menjamin seluruh proses belajar ikut berpindah.

  3. 3. Orang yang membaca justru bisa mendapat lebih banyak informasi yang didapatkan

    ilustrasi berbagi cerita kepada teman sesama book club atas buku yang berhasil dibacanya
    ilustrasi berbagi cerita kepada teman sesama book club atas buku yang berhasil dibacanya (pexels.com/Damian Santos)

    Coba bayangkan dua orang yang berhadapan dengan buku yang sama. Orang pertama membayar jasa joki untuk membaca buku tersebut dan menerima rangkuman lengkap. Orang kedua membaca buku itu sendiri, menandai bagian yang dianggap penting, mencatat pertanyaan, dan mencoba menghubungkan gagasannya dengan pengalaman pribadi.

    Orang pertama mungkin lebih cepat mengetahui garis besar isi buku. Dalam konteks tertentu, hal itu cukup membantu. Namun, orang kedua memiliki kesempatan untuk menjalani proses berpikir selama membaca, termasuk menghadapi bagian yang sulit, menguji pemahamannya, dan menyusun interpretasi sendiri.

    Kerangka ICAP yang dikembangkan Michelene T. H. Chi dan Ruth Wylie dalam artikel ilmiah berjudul The ICAP Framework: Linking Cognitive Engagement to Active Learning Outcomes pada 2014 membedakan keterlibatan belajar menjadi empat kategori, yaitu Interactive, Constructive, Active, dan Passive. Kerangka tersebut mengajukan hipotesis bahwa semakin tinggi keterlibatan kognitif seseorang dalam proses belajar maka semakin baik pula hasil belajar yang dapat dicapai.

    Artikel yang diterbitkan dalam jurnal Educational Psychologist itu menekankan pentingnya aktivitas yang mendorong seseorang membangun pemahaman, seperti membuat peta konsep (mind map) dan menjelaskan materi menggunakan bahasanya sendiri. Kerangka ini bukan bukti langsung bahwa setiap orang yang menggunakan joki akan belajar lebih sedikit. Namun, kerangka tersebut membantu menjelaskan mengapa sekadar menerima hasil pekerjaan orang lain tidak selalu setara dengan terlibat langsung dalam proses belajar.

  4. 4. Apakah joki baca buku selalu merugikan?

    ilustrasi suasana silent read dalam book club
    ilustrasi suasana silent read dalam book club (freepik.com/freepik)

    Jawabannya, tidak juga. Menyimpulkan bahwa setiap penggunaan jasa joki baca buku pasti membuat seseorang kehilangan kesempatan belajar merupakan penilaian yang terlalu sederhana. Manfaatnya bergantung pada tujuan penggunaan, bentuk layanan, dan bagaimana hasil bacaan tersebut dimanfaatkan.

    Misalnya, jika seseorang menggunakan rangkuman sebagai pengantar untuk mengenali buku yang relevan maka layanan tersebut bisa membantunya menentukan bacaan prioritas. Rangkuman juga dapat berfungsi sebagai bahan peninjauan setelah membaca buku secara mandiri. Dalam situasi seperti ini, hasil kerja orang lain justru bisa mendukung proses belajar.

    Masalah muncul ketika rangkuman dianggap sebagai pengganti mutlak pengalaman membaca, terutama jika tujuan awalnya adalah memperdalam pemahaman. Seseorang bisa saja merasa sudah mempelajari sebuah buku hanya karena telah membaca catatannya. Padahal, perasaan memahami belum tentu sama dengan kemampuan menjelaskan, mengevaluasi, atau menerapkan pengetahuan tersebut.

    Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah joki baca buku boleh digunakan. Pertanyaannya adalah apa yang ingin dicapai melalui layanan tersebut. Jika hanya membutuhkan gambaran awal tentang isi buku, rangkuman mungkin sudah cukup. Namun jika ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami teori secara mendalam, atau membentuk sudut pandang baru, membaca dan mengolah gagasan secara langsung tetap memiliki peran penting.

  5. 5. Jangan sampai membayar untuk melewatkan proses belajar

    ilustrasi menandai poin-poin penting yang ada di dalam buku menggunakan highlighter
    ilustrasi menandai poin-poin penting yang ada di dalam buku menggunakan highlighter (pexels.com/Shashank Verma)

    Pada akhirnya, joki baca buku memperlihatkan perbedaan antara memiliki akses terhadap pengetahuan dan benar-benar menguasainya. Membeli buku memberi kita akses terhadap gagasan si penulis, sedangkan membeli rangkuman membantu kita memahami gambaran umum isinya. Namun, keduanya tidak otomatis membuat kita mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami dunia di sekitar.

    Kita memang hidup di masa, di mana waktu menjadi sesuatu yang berharga. Banyak orang harus membagi perhatian antara pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan berbagai tuntutan lainnya. Menghemat waktu bukanlah sebuah kesalahan. Namun, ketika tujuan kita belajar, proses membaca, mempertanyakan gagasan, dan membangun pemahaman sendiri tidak seharusnya dianggap sebagai pekerjaan yang sekadar perlu diselesaikan.

    Jika tujuan membaca hanya untuk menambah daftar buku yang telah dituntaskan, membayar orang lain mungkin terasa seperti jalan pintas. Namun, jika membaca bertujuan mengubah cara kita memahami suatu persoalan, proses berpikir tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada orang lain.

    Pada akhirnya, orang yang mengeluarkan uang belum tentu menjadi orang yang memperoleh pengetahuan paling banyak. Lantas, siapa yang sebenarnya mendapatkan ilmu? Orang yang membayar untuk menerima rangkuman atau orang yang membaca, berpikir, dan berusaha memahami setiap gagasan di dalamnya? Sebab, buku boleh selesai dibaca oleh orang lain, tetapi pemahaman tetap harus dibangun dari diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More