ilustrasi bercanda dengan teman-teman (freepik.com/odua)
Bayangkan sebuah tongkrongan yang sudah berteman bertahun-tahun. Mereka tahu siapa yang paling sering terlambat, siapa yang pernah gagal PDKT, siapa yang selalu salah pesan makanan, dan siapa yang punya kebiasaan aneh. Ketika satu orang menjadi bahan candaan, orang lain memahami bahwa jokes tersebut muncul dari sejarah hubungan yang sudah mereka bangun bersama.
Kondisi seperti itu membuat komunikasi terasa jauh lebih mudah. Nada suara, ekspresi wajah, tawa setelah kalimat tertentu, bahkan cerita yang terjadi beberapa menit sebelumnya ikut membantu orang memahami maksud sebuah candaan. Jadi, ketika seseorang berkata, "Wah, paling rajin nih," semua orang bisa tahu apakah itu pujian sungguhan atau sindiran bercanda.
Masalahnya, media sosial menghilangkan banyak petunjuk tersebut. Penelitian mengenai komunikasi digital menyebut fenomena ini sebagai "context collapse", ketika berbagai konteks sosial dan kelompok audiens bertemu dalam satu ruang.
"Istilah context collapse diperkenalkan dalam studi media oleh Marwick dan Boyd (2011) melalui penelitian mengenai komunikasi di Twitter; istilah ini didefinisikan sebagai proses di mana teknologi media sosial 'meleburkan beragam konteks sosial menjadi satu'. Dalam fenomena runtuhnya konteks ini, individu-individu yang berasal dari konteks sosial yang biasanya terpisah dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari jejaring sosial daring, tempat mereka 'harus berhadapan dengan kelompok orang yang biasanya tidak mereka pertemukan, seperti kenalan, teman, rekan kerja, dan keluarga'," jelas Jannis Androutsopoulos, profesor linguistik di University of Hamburg dalam penelitiannya berjudul Languaging when contexts collapse: Audience design in social networking dikutip dari ScienceDirect.