Ada banyak sekali kata umpatan baik dalam bahasa Indonesia, daerah, maupun asing. Tentu, apa pun yang katanya tidak sopan untuk dikatakan. Namun, bagi sebagian orang, belum puas rasanya kalau belum mengumpat. Apalagi ketika mereka kesal.
Meniadakan Kebiasaan Mengumpat saat Kesal, Ekspresikan dengan Sopan

- Kebiasaan mengumpat saat kesal dinilai tidak sopan, dapat terbawa ke percakapan biasa, dan membuat orang lain memandang pelakunya sebagai pribadi kasar.
- Emosi negatif bisa disampaikan tanpa makian, misalnya dengan kata netral atau positif, mengungkapkan keluhan secara jelas, serta beristighfar atau menyebut nama Tuhan.
- Mengurangi pergaulan dengan pengumpat, mengatur napas, dan menelan ludah dapat membantu mengendalikan emosi sebelum kata-kata kasar terlontar.
Apakah kamu juga begitu? Bahkan saking seringnya dirimu memaki saat emosi meninggi, itu terasa refleks saja. Kamu kesulitan buat menahannya. Dirimu juga menganggap mengumpat sebagai ekspresi emosi negatif yang wajar.
Kamu harus menghentikan kebiasaan mengumpat walau sedang sebal karena sesuatu. Kesukaan mengucapkan kata-kata negatif bukan hanya terdengar tidak sopan. Namun, hal itu juga membentukmu menjadi orang toksik yang pantas dijauhi. Cara meniadakan kebiasaan mengumpat saat kesal bisa kamu pahami melalui enam poin berikut ini.
1. Kesal gak harus mengumpat dan umpatan bisa jadi kebiasaan

ilustrasi kesal (pexels.com/Tiger Lily) Semua orang pasti pernah kesal. Namun, tidak setiap orang pernah mengumpat walau hanya sekali seumur hidupnya. Mungkin mereka mengomel panjang, tetapi tidak ada satu pun kata makin. Seperti sialan, berengsek, apalagi yang lebih kasar daripada itu.
Omelannya hanya berisi unek-unek serta apa yang sesungguhnya diharapkan. Sementara itu, orang tidak harus dalam kondisi jengkel buat mengumpat. Kalau memaki sudah menjadi kebiasaan, dalam obrolan biasa atau candaan pun bisa terlontar.
Beberapa temanmu yang juga terbiasa dengan kata-kata negatif barangkali tidak merasa terganggu. Mereka bahkan ikut tertawa ketika kamu bermaksud hanya bercanda. Akan tetapi, percayalah bahwa lebih banyak orang merasa itu tidak pantas.
2. Semua orang mendengar dan menilaimu

ilustrasi kesal (pexels.com/Sanket Mishra) Melanjutkan penjelasan poin pertama. Jangankan kata-kata yang telontar dari lisanmu. Kamu duduk diam tanpa mengatakan atau berbuat apa pun juga telah dinilai oleh orang-orang yang kebetulan melihatmu. Seperti apakah dirimu terlihat rapi, baik, atau berbahaya?
Apalagi setelah kamu mengumpat. Sudah pasti semua mata seketika tertuju padamu sebagai reaksi keterkejutan. Walau mereka cepat-cepat memalingkan wajah dan bersikap seolah-olah tak pernah mendengarnya, tidak ada keadaan yang berubah.
Umpatanmu sudah mengudara. Sekalipun cuma satu kata, orang-orang telah menarik banyak kesimpulan tentangmu. Bahkan meski kalian tidak saling mengenal. Kesimpulan itu, misalnya, kamu pribadi yang kasar atau kurang berpendidikan sehingga tak tahu mana yang pantas dan gak pantas.
3. Ganti umpatan dengan kata-kata yang lebih sopan

ilustrasi banyak pikiran (pexels.com/Picas Joe) Kamu punya lebih banyak pilihan daripada yang disadari untuk mengekspresikan diri. Selama ini, dirimu hanya melihat mengumpat sebagai satu-satunya reaksi yang masuk akal saat marah. Padahal, kamus bahasa Indonesia memuat begitu banyak kata yang dapat dirangkai untuk membahasakan perasaanmu.
Contoh, daripada kamu mengumpat dengan kata berengsek atau keparat, katakan saja ya ampun. Ya ampun, sudah menunjukkan betapa sesuatu sebenarnya di luar kemampuanmu menoleransi dan tidak terduga. Misalnya, kamu dijelek-jelekkan oleh teman sendiri.
Bilang saja, "Ya ampun, kenapa dia bisa sejahat itu? Padahal, aku tidak pernah melakukan tuduhannya." Untukmu yang Muslim juga jauh lebih baik langsung beristighfar. Buat penganut agama lain dapat menyebut nama Tuhan. Selain lebih sopan, kata-kata positif atau netral tersebut membantu mempertahankan kendali dirimu.
4. Kamu jengkel karena situasi, orang lain merasa dimaki

ilustrasi kesal (pexels.com/Vitaly Gariev) Contohnya, kamu lagi mengemudi dan ada teman yang nebeng. Jalanan macetnya minta ampun, lebih dari biasanya. Dirimu seketika mengumpat. Umpatan itu barangkali ditujukan pada pengemudi lain di depanmu yang menyebabkan kemacetan panjang. Atau kamu kesal pada petugas yang tidak segera bisa mengatur lalu lintas serta mengurai kemacetan. Namun, kawanmu yang nebeng bisa langsung gak enak hati.
Terlepas dari dia yang minta nebeng atau dirimu yang menawari, tetap saja rasanya ia kena makian itu. Kalau tahu akan begini, mungkin tadi mending dia gak ikut kendaraanmu. Ini bukan soal orang lain yang kelewat baper. Akan tetapi, umpatan memang bukan kata yang nyaman didengarkan siapa pun.
5. Jangan bergaul dengan pengumpat

ilustrasi kesal (pexels.com/Gustavo Fring) Bila kamu dikelilingi oleh pengumpat, sudah pasti kata-kata negatif terdengar sangat biasa. Mau konteksnya kalian lagi marah, ngobrol biasa, atau bercanda, selalu ada umpatan yang terucap. Itu normal bagi kalian.
Namun, sangat tidak etis bagi lebih banyak orang. Bila dirimu ingin memperbaiki kualitas serta caramu membawa diri, kamu kudu ganti circle. Kurangi aktivitas bareng orang-orang yang gemar mengumpat. Salah satunya, nongkrong bareng.
Pelan-pelan kamu masuk ke lingkaran pergaulan yang orang-orangnya lebih santun. Gak usah banyak bicara daripada tahu-tahu kebiasaanmu mengumpat keluar lagi. Dengarkan dan perhatikan cara mereka berkomunikasi dulu. Lalu, ikuti sampai kebiasaan mengumpat hilang sepenuhnya, digantikan dengan gaya bicara yang lebih baik.
6. Atur napas dan telan ludah bantu menurunkan emosi

ilustrasi kesal (pexels.com/Roberto Hund) Mungkin kamu bertanya-tanya. Apabila dirimu tidak boleh lagi mengumpat, bagaimana cara praktis untuk menahan diri ketika lagi emosi? Kata-kata gak pantas rasanya telah memenuhi mulut.
Sedikit saja kamu membukanya, bakal langsung terdengar makian. Ada cara sederhana yang bisa dipraktikkan. Yaitu, dengan mengatur napas agar dirimu tenang kembali. Sebab saat emosi mulai tersulut, pasti napas memburu.
Seperti orang yang habis lari jauh. Responsmu juga menjadi asal cepat tanpa terlebih dahulu dipikirkan. Selain mengatur napas, menelan ludah satu atau beberapa kali juga membantu. Seolah-olah kamu dengan sadar memutuskan buat menelan kembali satu per satu kata makian yang sudah siap di ujung lidah.
Mengumpat bukan tindakan yang sopan apa pun situasinya. Memaki juga hanya akan membuatmu terlihat tidak berkelas. Bukan emosimu yang salah, melainkan cara mengekspresikannya yang perlu tetap dikendalikan. Supaya kamu bisa meniadakan kebiasaan mengumpat saat kesal, enam poin di atas bisa coba dimulai terlebih dahulu.










![[QUIZ] Seberapa Beruntung Kamu Bulan Ini?](https://image.idntimes.com/post/20250527/upload_51176a408a9bd2370a744fb550e3cb81.jpg)
![[QUIZ] Dari Zodiakmu, Kami Tahu Sikapmu saat Mulai Ilfeel Sama Orang](https://image.idntimes.com/post/20250818/1000072999_f702a80c-8ec6-48e1-8973-f725e36b0de4.jpg)
![[QUIZ] Dari Zodiakmu, Kami Tebak Kenapa Hubunganmu Selalu Terasa Blur](https://image.idntimes.com/post/20260518/1000027851_ea15457d-8938-41eb-a12e-b83a95d3d8f9.jpg)

![[QUIZ] Dari Pertemanan Upin Ipin, Ini yang Bikin Orang Suka denganmu](https://image.idntimes.com/post/20260816/1000018130_180da4cd-1ef1-4f20-888c-15bb380ce167.jpg)

![[QUIZ] Kata-Kata Inspiratif dari Upin Ipin buatmu yang Sedih dan Capek](https://image.idntimes.com/post/20260820/1000018462_a5b007f4-17dc-4329-9742-9d65e244227e.jpg)




