Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Belajar dari Upin dan Ipin, Anak Gak Harus punya Banyak Mainan

Belajar dari Upin dan Ipin, Anak Gak Harus punya Banyak Mainan
Upin dan Ipin sedang membaca komik (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin)
Share Article

Upin dan Ipin tumbuh sebagai anak-anak yang ceria meski dalam kesehariannya tak menunjukkan ada banyak mainan di sekitarnya. Dalam berbagai episode kartun tersebut, kita bisa mengetahui bahwa Upin dan Ipin pada dasarnya tak punya banyak mainan sehingga cenderung lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Bahkan, beberapa kali bocah kembar itu membuat mainan bersama teman-temannya untuk mengisi waktu luang. Dari kehidupan Upin dan Ipin, orangtua bisa melihat bahwa anak tetap dapat tumbuh aktif dan kreatif tanpa harus memiliki banyak mainan. Lantas, apa saja pelajaran yang bisa diterapkan dalam keseharian anak?

  1. 1. Riset: Punya lebih sedikit mainan, bikin anak lebih bahagia

    Upin dan Ipin membuat layang-layang bersama Tok Dalang (youtube.com/Les' Copaque Production)
    Upin dan Ipin membuat layang-layang bersama Tok Dalang (youtube.com/Les' Copaque Production)

    Menurut studi pada 2018, berjudul "The influence of the number of toys in the environment on toddlers’ play", balita bermain lebih lama dan lebih bahagia ketika ada lebih sedikit mainan untuk dipilih. Para peneliti juga menemukan fakta bahwa lebih sedikit mainan berarti lebih banyak kesempatan untuk menunjang kreativitas, imajinasi, dan pengembangan keterampilan.

    Riset tersebut membuktikan bahwa kuantitas mainan yang dimiliki anak tak membuktikan bahwa kebahagiaan mereka justru semakin besar. Sama halnya dengan Upin dan Ipin yang memiliki mainan dengan jumlah terbatas, namun kedua tokoh fiksi ini tidak menunjukkan sikap murung atau sedih.

  2. 2. Tidak menumpuk barang, membuat area eksplorasi lebih luas

    mainan masa kecil Upin dan Ipin (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin)
    mainan masa kecil Upin dan Ipin (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin)

    Secara psikologis, memiliki lebih sedikit mainanan dapat mempersingkat waktu untuk memilih. Ruangan juga terasa lebih lega karena tak ada banyak barang, sehingga area untuk mengeksplorasi terasa lebih lega. Terapis okupasi, Dr. Alexia Metz dalam Today menerangkan hubungan logis antara dua hal itu. Baginya, anak-anak akan merasa lebih tenang saat bermain di area yang lebih lapang.

    Memahami hal ini, Metz menyarankan untuk tidak mengumpulkan barang-barang anak tanpa memikirkan manfaatnya. Misalnya mengumpulkan hampers, hadiah, atau pernak-pernik gratis lalu memenuhi ruangan dengan menyimpannya. Metz menekankan agar orangtua selektif dalam memilih mainan yang memiliki nilai jangka panjang daripada hanya mengumpulkan barang-barang yang tidak terlalu bermanfaat.

    "Eksplorasi itu sangat cepat sehingga mereka tidak punya waktu untuk duduk dan menjelajahi semua hal yang dapat dilakukan oleh mainan sebelum mereka perlu beralih ke yang berikutnya," jelas Metz.

  3. 3. Sedikit mainan bikin anak lebih kreatif

    cuplikan Ipin sedang bermain (dok. Les' Copaque/Upin dan Ipin)
    cuplikan Ipin sedang bermain (dok. Les' Copaque/Upin dan Ipin)

    Bermain tidak hanya dipandang sebagai kegiatan untuk menumbuhkan kesenangan. Dalam proses bermain ada banyak sisi positif yang berguna untuk menunjang tumbuh kembang anak. Melansir laman Toledo university, memiliki sedikit mainan ternyata dapat menumbuhkan daya kreativitas yang lebih tinggi untuk anak.

    Metz meneliti balita berusia 18 hingga 30 bulan untuk mengamati pola bermain pada anak-anak, hasilnya, "Ketika ada lebih sedikit mainan, mereka bermain dengan lebih banyak cara."

    Tak heran jika Upin dan Ipin tumbuh menjadi sosok yang memiliki daya kreativitas tinggi. Ia membuktikan bahwa dengan sedikit mainan tak lantas membatasi diri untuk melakukan eksplorasi. Dengan jumlah mainan yang sedikit, Upin dan Ipin justru memutar otak untuk bisa memanfaatkan secara maksimal benda-benda yang dimilikinya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More