Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Belajar Memaafkan Diri Sendiri bersama Universitas Pelita Harapan
Dr. Andry M. Panjaitan, S.T., M.T., CPHCM., Associate Vice President of Student Development, Alumni and Corporate Relations UPH. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  • Universitas Pelita Harapan menggelar Media Gathering 2026 bertema “Merawat Kebersyukuran melalui Seni dan Jurnalisme yang Berdampak” dengan workshop psikologi tentang memaafkan diri sendiri di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat.
  • Workshop interaktif menghadirkan empat aktivitas reflektif—menulis, mewarnai, journaling, dan menggambar—untuk membantu peserta memahami makna pengampunan serta menumbuhkan rasa syukur terhadap diri sendiri.
  • Karel Karsten Himawan menegaskan bahwa memaafkan diri membuka ruang bagi rasa syukur dan kedamaian batin, sekaligus menjadi langkah penting sebelum mampu memaafkan orang lain sepenuhnya.
    Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Memaafkan adalah hal yang lazin dilakukan pada saat Lebaran. Setelah sebulan lamanya berpuasa, satu sama lain saling bermaaf-maafan dan mulai kembali hubungan dari nol. Namun, sebelum memaafkan orang lain, pernahkah kamu memaafkan diri sendiri terlebih dahulu?

Pada Jumat (6/3/2025), Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Media Gathering 2026 di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat. Acara yang dihadiri oleh sejumlah awak media ini mengusung tema “Merawat Kebersyukuran melalui Seni dan Jurnalisme yang Berdampak”. Sesi yang paling menarik adalah workshop interaktif yang dipandu tim Program Studi (Prodi) Psikologi UPH.

Dalam workshop kesehatan mental tersebut, peserta diminta untuk menulis, menggambar, dan mewarnai lewat beberapa kartu. Semuanya untuk memproses rasa syukur dan memaafkan diri sendiri. Bagaimana caranya?

1. Siapkan empat kartu atau kertas dengan aktivitas yang berbeda-beda

Kartu aktivitas Mental Health Workshop UPH (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Aktivitas pada kartu pertama adalah menulis. Namun sebelum menulis, peserta diminta memilih kartu bergambar yang sudah diletakkan secara acak di meja. Kartu tersebut diletakkan terbalik sehingga gambar di baliknya tidak bisa diketahui lebih dulu. Gambar tersebut juga disertai satu kata.

Jika sudah mengambil dan membuka kartu bergambarnya, peserta baru diminta mengisi kartu aktivitas. Instruksinya adalah "Dari kartu yang saya pilih, saya memaknai pengampunan sebagai". Kartu bergambar dan kata di dalamnya tadi, akan jadi pijakan atau benang merah soal jawabanmu di sini.

Beranjak ke kartu aktivitas kedua, peserta diminta untuk mewarnai. Gambar yang berhubungan dengan memaafkan sudah disediakan di balik kartu aktivitas. Peserta boleh mewarnainya dengan warnanya apa pun dengan pensil warna yang tersedia. Di sini, tidak ada penilaian mengenai gambar siapa yang lebih bagus atau siapa yang jelek.

Di kartu aktivitas ketiga, peserta diminta menulis. Hal yang ditulis adalah keputusan atau kesalahan apa yang masih disesali masing-masing peserta. Selain itu, peserta juga diminta menuliskan apa yang menghambat masing-masing personal untuk mengikhlaskan hal itu.

Aktivitas keempat atau terakhir adalah menggambar. Peserta diminta menggambarkan apa saja yang membuatnya bersyukur di kondisi saat ini, terutama soal memaafkan diri sendiri. "Memaafkan adalah hadiah yang kita berikan pada diri sendiri," kata Karel Karsten Himawan, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog., Ketua Program Studi Psikologi UPH.

2. Masing-masing kartu aktivitas memiliki tujuan refleksi yang spesifik

Kartu aktivitas Mental Health Workshop UPH (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Lewat kartu aktivitas yang pertama tadi, peserta diminta untuk merefleksikan bagaimana kartu "Point of You" yang dipilih menginspirasi dan membentuk pemahaman mengenai pengampunan. Melalui kartu yang dipilih secara personal, setiap peserta diajak merefleksikan makna di balik gambar dan kata yang muncul. Proses ini membantu peserta memahami bagaimana pengalaman, luka, dan proses pengampunan membentuk cara pandang terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Dalam aktivitas kartu kedua atau "Colouring", peserta diajak perlahan mengingat dan memproses pengalaman masa lalu yang mungkin menyakitkan atau masih menyisakan beban emosional. "Membuat otak berada di keadaan relaksasi terfokus untuk dengan tenang memikirkan kesalahan masa lalu yang dibenci dan melukai diri," kata Karel soal tujuan kartu aktivitas kedua tentang warna.

Kartu ketiga bisa disebut "Journaling". Melalu tulisan, peserta menata ulang cara pikir terhadap pengalaman memaafkan yang pernah atau sedang dialami. Dengan menumpahkan pikiran dan perasaan dalam bentuk kata-kata, peserta belajar menengok kembali peristiwa silam dari perspektif lebih sehat dan bermakna.

Kartu keempat "Drawing" bertujuan untuk menggambarkan apa yang paling mewakili rasa syukur ketika dapat memaafkan diri sendiri. "Ini bukan tentang apa yang kamu katakan tentang masalah tersebut, tetapi tentang apa yang masalah itu katakan tentangmu," ujar Karel soal keseluruhan sesi workshop.

3. Selama kita belum memaafkan diri sendiri, kita akan sulit memaafkan orang lain

Karel Karsten Himawan, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog., Ketua Program Studi Psikologi UPH. (IDN Times/Febriyanti Revitasari)

Menurut Karel, pengampunan membuka ruang bagi rasa syukur. Selama kita masih menghukum diri, kita akan sulit membebaskan orang lain. Ia pun mengutip kata-kata dari penyair, penulis memoar, dan aktivis hak sipil terkemuka Amerika Serikat bernama Maya Angelou, yang sesuai dengan konteks memaafkan dan rasa syukur.

"Sejarah, meskipun penuh dengan rasa sakit yang memilukan, tidak dapat dihilangkan begitu saja, tetapi jika dihadapi dengan keberanian, tidak perlu diulangi lagi," Karel membacakan kutipan tersebut.

Ia pun menambahkan empat manfaat mengampuni, yakni mengurangi stres, mengurangi risiko depresi, memulihkan relasi, dan merasakan damai di hati atau inner peace. Untuk mengampuni, manusia biasanya melalui empat tahap, yakni Hate, Hurt, Heal, dan Hope (Benci, Luka, Sembuh, dan Harapan).

Di akhir workshop pun, ia menekankan bahwa memaafkan bukan sekedar melupakan luka, melainkan membuka ruang baru untuk rasa syukur. "Syukur sering lahir dari jarak antara siapa aku dulu dan siapa aku sekarang," pungkasnya.

Setelah membaca artikel ini, bagaimana dengan dirimu? Apakah kamu sudah siap mengampuni diri sendiri sebelum hari Lebaran tiba?

Editorial Team