Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Gen Z Mengatur Uang di Tengah Harga yang Naik

5 Cara Gen Z Mengatur Uang di Tengah Harga yang Naik
Ilustrasi mengatur keuangan sesuai kebutuhan (pexels.com./Tima Miroshnichenko)
Share Article

Rupiah makin terhimpit, harga kebutuhan pokok naik, biaya transportasi, hingga harga sewa tempat tinggal membuat banyak anak muda harus lebih cermat dalam mengelola keuangan. Gen Z yang kini mulai memasuki dunia kerja menghadapi tantangan berbeda dibanding generasi sebelumnya. Di satu sisi mereka ingin menikmati hasil kerja keras, tetapi di sisi lain biaya hidup terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kondisi tersebut membuat banyak Gen Z mulai mengubah kebiasaan finansial mereka. Jika sebelumnya pengeluaran sering dilakukan secara impulsif, kini semakin banyak anak muda yang memanfaatkan aplikasi pencatat keuangan, mencari sumber penghasilan tambahan, hingga mulai berinvestasi sejak dini.

1. Membuat anggaran yang realistis dan fleksibel

ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Langkah pertama yang banyak dilakukan Gen Z adalah membuat anggaran bulanan yang sesuai dengan kondisi keuangan mereka. Dengan mengetahui berapa pemasukan dan pengeluaran setiap bulan, seseorang dapat menghindari kebiasaan belanja berlebihan yang sering kali tidak disadari.

Metode budgeting seperti 50/30/20 masih banyak digunakan, tetapi kini banyak yang menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing. Sebagian memilih mengalokasikan porsi lebih besar untuk kebutuhan pokok karena harga barang dan jasa yang terus meningkat. Yang terpenting bukan mengikuti rumus secara kaku, melainkan memahami arus keluar masuk uang.

"Penganggaran berbasis nol adalah metode terbaik karena menetapkan tugas pada setiap uang dan menghilangkan pengeluaran berlebihan. Aturan 50/30/20 adalah metode populer, tetapi persentase tersebut tidak cocok untuk sebagian besar orang," ujar Dave Ramsey, pakar keuangan dan penulis buku keuangan pribadi, dikutip dari laman Ramsey Solutions.

2. Menunda belanja impulsif yang dipengaruhi media sosial

ilustrasi belanja di waktu tertentu (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi belanja di waktu tertentu (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Media sosial sering menjadi pemicu munculnya keinginan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tren fashion, gadget terbaru, hingga rekomendasi produk dari influencer dapat membuat seseorang mengeluarkan uang tanpa perencanaan yang matang.

Banyak Gen Z kini mulai menerapkan aturan sederhana seperti menunggu beberapa waktu bahkan hari sebelum membeli barang yang diinginkan. Cara ini memberi waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat.

"Membeli secara impulsif berkaitan dengan kecemasan dan ketidakbahagiaan, dan mengendalikannya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis kamu," kata Ian Zimmerman, Ph.D., psikolog eksperimental yang mempelajari perilaku konsumen dalam Psychology Today.

3. Menyiapkan dana darurat sebelum berinvestasi

Kamu memiliki dana darurat (Free image by freepik.com)
Kamu memiliki dana darurat (Free image by freepik.com)

Kesadaran tentang pentingnya dana darurat semakin meningkat di kalangan Gen Z. Banyak anak muda mulai memahami bahwa investasi memang penting, tetapi perlindungan terhadap kondisi tak terduga harus diprioritaskan terlebih dahulu.

Dana darurat dapat membantu menghadapi situasi seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kebutuhan keluarga yang tidak direncanakan. Dengan memiliki dana cadangan, seseorang tidak perlu berutang ketika menghadapi masalah keuangan.

4. Mencari penghasilan tambahan dari skill yang dimiliki

ilustrasi freelancer (pexels.com/Canva Studio)
ilustrasi freelancer (pexels.com/Canva Studio)

Di tengah kenaikan biaya hidup, banyak Gen Z tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Mereka memanfaatkan keterampilan yang dimiliki untuk mendapatkan penghasilan tambahan melalui pekerjaan freelance, pembuatan konten digital, desain grafis, penerjemahan, atau bisnis online.

Perkembangan teknologi membuat peluang memperoleh penghasilan sampingan semakin terbuka. Bahkan banyak pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah dengan modal perangkat digital dan koneksi internet yang memadai.

5. Mulai berinvestasi secara bertahap dan konsisten

ilustrasi berinvestasi (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi berinvestasi (pexels.com/Liza Summer)

Setelah kebutuhan dasar dan dana darurat terpenuhi, banyak Gen Z mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi. Tujuannya bukan untuk cepat kaya, melainkan membangun aset dalam jangka panjang agar nilai uang tidak tergerus inflasi.

Instrumen seperti reksa dana, obligasi pemerintah, dan saham menjadi pilihan yang cukup populer karena dapat dimulai dengan modal relatif kecil. Namun para ahli mengingatkan bahwa investasi harus dilakukan sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

"Pasar saham adalah alat untuk mentransfer uang dari orang yang tidak sabar kepada orang yang sabar," kata Warren Buffett, seorang investor sekaligus CEO dalam investopedia.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesabaran dan konsistensi lebih penting dibanding mengejar keuntungan cepat. Jadi, memulai berinvestasi bisa menjadi salah satu cara untuk menjaga kestabilan keuangan atau asetmu.

Mengatur keuangan di tengah kenaikan harga bukanlah hal yang mudah, terutama bagi Gen Z yang masih berada pada tahap awal membangun karier dan kestabilan finansial. Namun berbagai langkah sederhana seperti membuat anggaran, mengurangi belanja impulsif, menyiapkan dana darurat, dan mencari penghasilan tambahan dapat membantu menghadapi tekanan ekonomi dengan lebih baik.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

7 Tips Mengatasi Minder saat Merantau dari Desa ke Kota

08 Jun 2026, 11:58 WIBLife