Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bisakah Empath dan Narcissist Menjalin Hubungan yang Sehat?

Bisakah Empath dan Narcissist Menjalin Hubungan yang Sehat?
ilustrasi pasangan sedang berkendara (pexels.com/rdne)
Intinya Sih
  • Empath sangat peka terhadap emosi orang lain, sedangkan narcissist cenderung membutuhkan perhatian, validasi, dan mengutamakan diri sendiri; pada kasus tertentu, sifat ini dapat terkait NPD.
  • Hubungan keduanya rentan tidak seimbang: empath banyak memberi waktu dan energi, sementara narcissist lebih banyak menerima tanpa timbal balik yang setara.
  • Empath perlu mengenali kebutuhan sendiri, menetapkan batasan, menghindari kelelahan emosional dan gaslighting, serta menjaga relasi sosial, hobi, dan self-care di luar hubungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Empath dan narcissist kerap dianggap sebagai dua pribadi yang saling berlawanan, tetapi justru sering tertarik satu sama lain dalam sebuah hubungan. Empath dikenal penuh empati dan sangat peduli terhadap orang lain, sementara narcissist cenderung berpusat pada diri sendiri dan membutuhkan banyak perhatian serta validasi dari sekitarnya.

Perbedaan karakter yang begitu besar membuat hubungan di antara keduanya rentan menjadi tidak seimbang. Lantas, mengapa keduanya bisa saling tertarik dan bagaimana cara menjaga hubungan tetap sehat? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

1. Empath merupakan sosok yang sangat peka terhadap perasaan orang lain

ilustrasi pasangan duduk di taman
ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

Empath merupakan sosok yang sangat peka terhadap emosi orang lain dan memiliki intuisi yang kuat. Mereka mampu memahami perasaan orang di sekitarnya dengan baik sehingga sering menjadi tempat bercerita yang nyaman bagi teman maupun keluarga. Kepekaan emosional inilah yang membuat empath dikenal penuh perhatian dan peduli terhadap orang lain.

Meski demikian, penelitian masih belum dapat memastikan apakah empath merupakan kondisi yang secara biologis berbeda dengan orang lain. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya mirror neurons atau neuron cermin yang membantu seseorang memahami emosi orang di sekitarnya. Sebagian orang diketahui memiliki neuron ini dalam jumlah lebih banyak sehingga diduga memiliki tingkat empati yang lebih tinggi.

2. Narcissist cenderung mengutamakan dirinya sendiri

ilustrasi pasangan berdebat
ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)

Narcissist merupakan individu yang sangat menyukai perhatian dan validasi dari orang lain. Mereka cenderung mengutamakan dirinya sendiri serta kesulitan memahami kebutuhan emosional orang di sekitarnya. Tak jarang, mereka juga merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain.

Dalam beberapa kasus, sifat narcissist dapat berkembang menjadi Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik. Kondisi ini ditandai dengan kebutuhan yang tinggi akan kekaguman, kurangnya empati, serta kecenderungan menunjukkan sikap arogan dan manipulatif.

3. Hubungan empath dan narcissist sering kali menjadi hubungan yang tidak seimbang

ilustrasi pasangan yang bertengkar
ilustrasi pasangan yang bertengkar (pexels.com/alex-green)

Empath dan narcissist sama-sama memiliki kecerdasan emosional yang baik, tetapi menggunakannya dengan cara yang berbeda. Empath cenderung menggunakan kemampuannya untuk memahami dan merawat orang lain, sedangkan narcissist lebih banyak memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan emosional dirinya sendiri.

Dikutip dari Verywell Mind, Dr. Sabrina Romanoff, PsyD, menjelaskan bahwa hubungan antara empath dan narcissist rentan menjadi tidak seimbang karena keduanya merasa nyaman dengan perannya masing-masing. Hal ini membuat empath lebih banyak memberi, sementara narcissist cenderung lebih banyak menerima.

"Empath cenderung merasa bertanggung jawab untuk merawat orang lain dan berusaha keras memenuhi kebutuhan seorang narcissist. Di sisi lain, narcissist merasa berhak untuk terus menerima. Mereka menerima berbagai pemberian dari empath, seperti waktu, energi, tindakan yang menunjukkan perhatian, hadiah, maupun kata-kata afirmasi, tanpa banyak memberikan timbal balik," ujar Dr. Romanoff.

4. Empath sering kali kesulitan meninggalkan hubungan yang tidak sehat

ilustrasi pasangan yang sedang bersedih
ilustrasi pasangan yang sedang bersedih (pexels.com/rdne)

Dikutip dari Verywell Mind, Ricki Romm, LCSW, seorang psikoterapis, menjelaskan bahwa pada awal hubungan, seorang empath dapat tertarik dengan rasa percaya diri dan pesona yang dimiliki narcissist. Namun seiring waktu, kebutuhan narcissist akan perhatian dan validasi yang semakin besar dapat membuat hubungan menjadi tidak seimbang.

Menurut Sabrina Romanoff, empath akan cenderung mengabaikan kebutuhan emosionalnya sendiri dan rentan mengalami gaslighting dalam hubungan. Karena itu, mereka perlu belajar memvalidasi emosinya dan menyadari bahwa kebutuhannya juga layak untuk dipenuhi.

"Penting untuk diingat bahwa memiliki empati terhadap orang lain dan merasakan penderitaan mereka bukan berarti kamu wajib memprioritaskan atau mengelola perasaan mereka. Kamu juga merupakan seseorang yang berhak mendapatkan rasa aman dan saling menghormati dalam hubungan," kata Ricki Romm, LCSW.

5. Empath perlu belajar menetapkan batasan yang sehat

ilustrasi pasangan yang sedang mengadu berargumen
ilustrasi pasangan yang sedang mengadu berargumen (pexels.com/keira-burton)

Empath perlu belajar menetapkan batasan yang sehat ketika menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki sifat narcissist. Salah satunya adalah tidak memberikan lebih dari yang mampu mereka berikan agar tidak mengalami kelelahan emosional.

Selain itu, empath juga perlu mengenali kebutuhan emosionalnya sendiri, mempercayai intuisi yang dimiliki, dan tetap menjalani kehidupan di luar hubungan. Menjaga hubungan sosial, menjalankan hobi, dan meluangkan waktu untuk self-care dapat membantu mereka melindungi diri dan menjaga keseimbangan emosional.

"Empath sering kali memikul beban kesalahan dengan meyakini bahwa kebutuhan mereka terlalu besar atau tidak masuk akal untuk dipenuhi oleh seorang narcissist. Untuk menghindari hal tersebut, mereka dapat menyampaikan secara jelas apa yang mereka butuhkan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menunjukkan bahwa mereka juga hadir bagi dirinya," jelas Dr. Sabrina Romanoff.

Pada akhirnya, empati tidak berarti harus selalu mengorbankan diri sendiri. Kamu juga berhak menjalani hubungan yang membuatmu merasa aman, dihargai, dan bahagia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More