- Berapa pemasukan aktif dan pasif?
- Fixed vs variable expenses.
- Rasio tabungan terhadap pengeluaran.
- Pola impulsive spending.
Bisakah Millennial dan Gen Z Raih Kesejahteraan Finansial? Cek Sini!

- Kesejahteraan finansial dimulai dari kesadaran diri terhadap kondisi keuangan, termasuk memahami pemasukan, pengeluaran, dan kebiasaan finansial agar keputusan tidak reaktif.
- Pengelolaan cash flow di era digital penting dilakukan dengan disiplin melalui pemantauan transaksi dan penggunaan fitur dompet digital seperti DANA untuk membantu perencanaan keuangan.
- Layanan keuangan digital perlu sederhana, aman, dan relevan agar masyarakat mudah memahami serta percaya diri dalam mengelola keuangannya demi memperkuat ekonomi digital berkelanjutan.
Ada pepatah bijak mengatakan, “jika kamu dapat rezeki 10, maka simpan 4. Dapat 5, maka simpan 2. Dapat 2, maka simpan 1. Sedikit demi sedikit, niscaya kamu akan kaya”. Mengelola keuangan memang kunci kesejahteraan finansial. Tetapi, hal itu perlu berbagai langkah dan kebiasaan yang menuntut kita semua butuh memahami ilmunya.
Kesejahteraan finansial adalah sebuah konsep yang gak hanya tentang pendapatan dan tabungan, tapi gimana caranya kita memiliki kontrol penuh dan kepercayaan diri dalam mengelola keuangan. Faktanya hanya 66,4 persen masyarakat Indonesia yang memiliki literasi keuangan.
Chief Finance Officer DANA Indonesia, Yattha Saputra, melihat kebutuhan masyarakat ke layanan keuangan digital makin berkembang. Jika sebelumnya dompet digital banyak digunakan untuk transaksi seperti bayar dan transfer, kini pengguna mulai memanfaatkannya untuk memahami pola pengeluaran, mengatur cash flow, hingga mengakses layanan finansial secara lebih bertahap dan sesuai kebutuhan.
So, gimana kita semua bisa raih kesejahteraan finansial? Cek lengkapnya di bawah, ya!
1. Financial wellness berawal dari memahami kondisi keuangan diri sendiri

Banyak orang ingin langsung ‘naik level’ secara finansial. Mulai investasi, cari side hustle, atau mengejar passive income. Tapi sering melewatkan satu fondasi penting: financial awareness.
Memahami kondisi keuangan berarti tahu secara detail:
Tanpa baseline ini, semua keputusan finansial cenderung reaktif. Misalnya, investasi tanpa tahu profil risiko, atau menabung tanpa target yang jelas.
Dalam perspektif Yattha, memahami kondisi diri bukan hanya soal angka, tapi juga perilaku. Karena seringkali masalah finansial bukan berasal dari kurangnya pendapatan, melainkan dari kebiasaan yang tidak disadari. “Yang terpenting adalah memahami data historis transaksi, misalnya, per bulan itu sudah sebuah langkah besar untuk menuju ke kesejahteraan finansial,” jelas Yattha.
2. Mengelola cash flow jadi kebiasaan penting di era digital

Langkah selanjutnya adalah mengerti mengelola cash flow. Di era digital, friksi dalam bertransaksi hampir nol. Ini membuat konsumsi menjadi effortless tapi juga berisiko tidak terkontrol.
Yattha melihat bahwa kebiasaan kecil seperti rutin mengecek laporan pengeluaran atau menetapkan limit bulanan bisa menjadi behavioral shift yang signifikan dalam jangka panjang.
Cash flow management bukan sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran, tapi memastikan pengeluaran selaras dengan prioritas hidup dan ada alokasi untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dompet digital seperti DANA saat ini sebenarnya sudah sangat membantu mulai dari histori transaksi otomatis hingga insight pengeluaran. Namun, teknologi hanya mempercepat proses, bukan menggantikan disiplin. Setelah itu kamu bisa masuk ke level selanjutnya untuk mencapai kesejahteraan finansial.
“Financial wellbeing dimulai dari kemampuan memahami cash flow: dari mana uang berasal, ke mana digunakan, dan apa yang bisa direncanakan ke depan. Teknologi dapat membantu memberikan visibilitas, tetapi pada akhirnya keputusan finansial yang sehat tetap membutuhkan kesadaran dan kedisiplinan dari pengguna,” kata Yattha.
3. Layanan keuangan digital perlu sederhana, relevan, dan mudah dipahami

Salah satu hambatan terbesar dalam inklusi keuangan untuk mencapai kesejahteraan finansial adalah kompleksitas produk. Banyak orang merasa layanan keuangan digital ‘terlalu teknis’, sehingga memilih untuk tidak terlibat sama sekali.
Di sinilah peran platform digital menjadi krusial: menyederhanakan tanpa mengurangi esensi. Mulai dari tampilan antarmuka sampai penggunaan fitur layanan yang dibutuhkan. Yattha menjelaskan misalnya, DANA saat ini tidak hanya menjadi alat transaksi untuk pembayaran tetapi berkembang menjadi platform untuk mencapai tujuan keuangan.
“Produk keuangan sering kali terasa rumit atau jauh dari keseharian masyarakat. Karena itu, tantangan bagi platform digital adalah menghadirkan pengalaman yang sederhana, relevan, dan bertahap. Di DANA, misalnya, pengguna yang ingin mulai mengenal investasi bisa memulainya dari emas digital melalui eMAS. Sementara itu, pengguna yang punya tujuan keuangan tertentu, seperti mempersiapkan kebutuhan pribadi atau keluarga, bisa merencanakannya dengan lebih terarah melalui DANA Goals. Jadi, layanan finansial bisa terasa lebih dekat, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna,” jelas Yattha.
Oh iya, DANA eMAS bisa membantu pengguna mulai berinvestasi dengan cara yang lebih sederhana dan nominal kecil mulai sekitar 0,0001gram atau Rp200an sesuai harga emas saat transaksi. Kamu juga bisa pakai DANA Goals yang dirancang khusus untuk memudahkan kamu mencapai impian dengan cara yang praktis dan efisien.
Salah satu keuntungan utama dari DANA Goals adalah tidak ada biaya admin, serta tidak ada batasan jumlah minimum yang harus dipenuhi. Fitur ini juga menjadi solusi yang aman dan terjamin berkat dukungan perlindungan dari fitur DANA Protection.
Saldo yang dimiliki dalam DANA Goals merupakan bagian dari Saldo DANA dan memiliki limit maksimum sebesar Rp20.000.000. Kamu dapat membuat hingga 10 impian dengan total target yang bervariasi, yaitu maksimal Rp16.000.000 bagi pengguna DANA Premium, dan Rp1.500.000 bagi pengguna Akun DANA. Mantap ‘kan?
Yattha juga mengungkap inovasi platform keuangan digital Indonesia masih bisa terus didorong. Apalagi, Indonesia adalah negara berkembang yang masih memiliki ruang untuk terus bertumbuh.
4. Rasa aman adalah fondasi dalam mengambil keputusan finansial

Tidak ada financial wellness tanpa rasa aman. Ini berlaku baik dari sisi sistem maupun psikologis pengguna. Dari sisi sistem, Yattha mengungkapkan di DANA memasang keamanan berlapis. Seperti melindungi data pribadi, sistem deteksi fraud, dan OTP (On-Time Password).
“Financial wellness tidak bisa dibangun tanpa rasa aman. Karena itu, keamanan bagi DANA bukan hanya soal melindungi transaksi, tetapi juga membangun kepercayaan pengguna agar mereka lebih percaya diri mengambil keputusan finansial di ruang digital. Upaya ini kami lakukan melalui teknologi berlapis, deteksi risiko berbasis AI, fitur seperti DANA Protection dan Scam Checker, serta edukasi berkelanjutan agar pengguna semakin mampu mengenali risiko digital,” jelas Yattha.
Sementara dari sisi pengguna, rasa aman muncul ketika mereka memahami produk yang digunakan dan tidak merasa ‘terjebak’ dalam keputusan finansial. Karena itu, DANA juga memperkuat edukasi keamanan digital secara langsung melalui Posko Bantuan Keliling. Pada pelaksanaan perdana di 2025, program ini mencatat tingkat penyelesaian masalah sebesar 100 persen, dengan 91 persen pengaduan berhasil diselesaikan dalam kurang dari 30 menit, serta memperoleh tingkat kepuasan pengunjung sebesar 4,7 dari 5. Tahun ini, DANA memperluas jangkauan Posko Bantuan Keliling dari 26 kota di 10 provinsi menjadi 36 kota di 20 provinsi, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat dengan edukasi anti-scam, konsultasi kendala akun dan transaksi, serta pengenalan fitur keamanan seperti Scam Checker. Sebab, financial wellness ternyata memiliki dampak lebih besar bukan hanya diri sendiri tapi untuk bangsa.
5. Financial wellness ikut memperkuat ekonomi digital yang berkelanjutan

Financial wellness sering dianggap sebagai tujuan personal, padahal dampaknya sistemik. Ketika individu memiliki kontrol finansial yang baik konsumsi menjadi lebih sehat (tidak impulsif), risiko gagal bayar menurun, partisipasi dalam produk finansial meningkat.
Ini menciptakan siklus yang positif bagi ekonomi digital. Platform keuangan tidak hanya menjadi fasilitator transaksi, tapi juga katalis pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam pandangan Yattha, masa depan ekonomi digital Indonesia sangat bergantung pada kualitas keputusan finansial masyarakatnya. Semakin tinggi literasi dan kesejahteraan finansial, semakin kuat pula fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan. (WEB/BAP)



















