Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Efektif Mengurangi Stress akibat Penggunaan Media Sosial
ilustrasi perempuan mengakses instagram (freepik.com/lifeforstock)

Stress akibat media sosial sering datang tanpa suara. Awalnya cuma membuka satu story saat istirahat makan siang, lalu tanpa sadar kamu sudah melihat pencapaian orang lain, liburan teman, sampai kabar yang bikin kepala terasa penuh. Rasanya biasa saja, tapi suasana hati berubah pelan-pelan.

Perubahan itu sering bikin hari terasa lebih berat meski gak ada masalah besar yang benar-benar terjadi. Pikiran mulai sibuk membandingkan hidup sendiri dengan potongan hidup orang lain yang terlihat sempurna. Yuk, simak beberapa cara digital detox ringan yang bisa membantu menjaga kesehatan mental tanpa harus benar-benar menghilang dari media sosial.

1. Beri jeda sebelum membuka media sosial setelah bangun tidur

ilustrasi perempuan membuka jendela (pexels.com/cottonbro studio)

Begitu alarm berhenti berbunyi, tangan sering otomatis mencari ponsel sebelum mata benar-benar terbuka. Lima menit yang awalnya buat melihat jam berubah jadi setengah jam karena terus menggulir feed tanpa tujuan. Suasana hati pun sudah dipenuhi informasi orang lain bahkan sebelum harimu dimulai.

Kebiasaan kecil ini membuat otak langsung menerima banyak rangsangan sejak pagi. Kalau kamu memberi jeda sekitar 20 sampai 30 menit sebelum membuka media sosial, pikiran punya kesempatan menyesuaikan diri lebih dulu. Langkah sederhana ini bisa membantu mengurangi stress akibat media sosial sejak awal hari.

2. Batasi penggunaan media sosial dengan aturan yang realistis

ilustrasi perempuan rileks (freepik.com/benzoix)

Sering kali kamu membuka aplikasi hanya untuk membalas satu pesan. Beberapa menit kemudian, kamu sudah berpindah ke video pendek, komentar orang asing, lalu berakhir melihat akun yang bahkan gak kamu kenal. Waktu terasa hilang tanpa benar-benar disadari.

Daripada memaksa berhenti total, lebih mudah kalau kamu mulai batasi penggunaan media sosial dengan aturan yang masuk akal. Misalnya hanya membuka aplikasi setelah jam makan siang atau maksimal satu jam setiap malam. Batas kecil seperti ini jauh lebih mudah dipertahankan dibanding larangan yang terlalu ketat.

3. Berhenti mengikuti akun yang diam-diam menguras energi

ilustrasi mengakses instagram (pexels.com/ready made)

Ada akun yang setiap kali muncul selalu membuatmu merasa hidupmu tertinggal. Bukan karena mereka berbuat salah, tetapi setiap unggahan memicu keinginan untuk terus membandingkan pencapaian, penampilan, atau gaya hidup sendiri. Lama-lama rasa lelah itu menumpuk tanpa disadari.

Kamu gak harus mengikuti semua orang demi menjaga hubungan baik. Melakukan unfollow, mute, atau menyembunyikan unggahan tertentu juga termasuk bentuk menjaga kesehatan mental. Lingkungan digital yang lebih nyaman akan membuat pikiran terasa jauh lebih ringan setiap kali membuka aplikasi.

4. Isi waktu kosong dengan aktivitas yang membuatmu benar-benar hadir

ilustrasi perempuan mencatat (freepik.com/freepic.diller)

Momen menunggu kopi diseduh, antre pembayaran, atau duduk sebentar setelah bekerja sering langsung diisi dengan membuka media sosial. Padahal beberapa menit itu sebenarnya cukup untuk mengembalikan napas dan memberi ruang bagi pikiran. Sayangnya, kebiasaan menggulir layar membuat jeda itu hilang begitu saja.

Cobalah mengganti sebagian waktu tersebut dengan berjalan sebentar, menulis catatan kecil, atau menikmati lagu favorit tanpa membuka aplikasi lain. Bentuk digital detox seperti ini terasa ringan, tetapi perlahan mengurangi kebutuhan untuk terus mencari distraksi dari layar.

5. Ingat bahwa yang kamu lihat hanyalah potongan cerita

ilustrasi mengakses media sosial (freepik.com/lifeforstock)

Saat melihat teman berganti pekerjaan, menikah, atau liburan hampir setiap minggu, muncul perasaan seolah semua orang sedang melaju lebih cepat. Sementara itu, harimu mungkin hanya diisi pekerjaan, perjalanan pulang yang macet, dan cucian yang belum selesai. Perbandingan itu terasa nyata meski sebenarnya gak utuh.

Media sosial memang menampilkan momen yang dipilih untuk dibagikan, bukan keseluruhan hidup seseorang. Saat kamu mengingat hal itu, tekanan untuk mengejar kehidupan yang terlihat sempurna akan berkurang. Pikiran pun lebih mudah menerima bahwa ritme hidup setiap orang memang berbeda.

Mengurangi stress akibat media sosial bukan berarti membenci teknologi atau menghilang dari dunia digital. Yang paling penting adalah memberi dirimu ruang untuk bernapas tanpa terus-menerus dibanjiri kehidupan orang lain. Saat hubunganmu dengan media sosial terasa lebih sehat, kamu juga punya kesempatan menikmati hidupmu sendiri dengan lebih utuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article