Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Membangun Kebiasaan Journaling Setiap Hari, Banyak Manfaatnya!

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Alina Vilchenko)
Intinya sih...
  • Mulailah dengan menulis satu paragraf per hari tentang hal yang kamu syukuri. Kuncinya konsistensi dan meningkatkan durasi pelan-pelan.
  • Tentukan waktu terbaik untuk menulis berdasarkan eksperimen beberapa hari. Jadikan itu ritual tetap untuk membentuk kebiasaan.
  • Journaling tidak harus formal. Gunakan format yang personal dan sesuai dengan preferensimu. Jangan kejar "sempurna", tapi kejar jujur dalam menulis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah, gak, sih, kamu niat banget mau mulai journaling, tapi ujung-ujungnya buku catatanmu malah jadi pajangan di meja? Kamu gak sendirian, kok. Banyak orang pengen punya kebiasaan journaling karena tahu manfaatnya besar, tapi yang susah itu justru konsisten. Awal-awal mungkin semangat banget nulis, tapi begitu hari keempat atau kelima, mulai muncul rasa, “Ah, besok aja, deh.” Dari situ, rutinitas journaling pelan-pelan lenyap.

Padahal, journaling gak harus jadi kegiatan berat yang butuh waktu lama. Justru, kalau kamu bisa menjadikannya bagian kecil dari keseharian, journaling bisa terasa ringan, bahkan menyenangkan. Kuncinya ada pada cara membangun kebiasaan yang bukan sekadar niat, melainkan kebiasaan yang otomatis terbentuk. Yuk, bahas satu per satu gimana cara biar kamu bisa konsisten journaling setiap hari tanpa drama.

1. Mulai dari sedikit halaman

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/Tara Winstead)

Jangan langsung pasang target tinggi, seperti harus langsung menulis lima halaman tiap malam. Pasang target terlalu tinggi cuma bikin kamu cepat capek dan akhirnya menyerah. Mulailah dari yang simpel, seperti tulis satu paragraf per hari tentang hal yang kamu syukuri hari ini. Tujuannya bukan banyak-banyakan kata, tapi melatih otak dan tubuh buat terbiasa menulis secara rutin. Setelah beberapa minggu, kamu bisa tingkatkan durasi atau jumlah tulisan pelan-pelan.

Kebiasaan kecil ini penting karena otak manusia menyukai sesuatu yang sederhana. Kalau terlalu berat, otak langsung memberikan sinyal “ribet” dan kamu cenderung menunda. Jadi, biarkan journaling jadi kegiatan kecil, tapi konsisten. Lama-lama, satu kalimat bisa berubah jadi satu halaman tanpa kamu sadari.

2. Pilih waktu yang paling santai

ilustrasi bersantai di kamar
ilustrasi bersantai di kamar (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Setiap orang punya waktu produktif yang berbeda-beda. Ada yang suka menulis pagi sambil ngopi, ada juga yang lebih jernih pikirannya malam sebelum tidur. Gak ada aturan baku, yang penting kamu tahu kapan waktu paling santai dan minim distraksi. Kalau kamu paksakan journaling pada waktu yang salah, misalnya pas lagi sibuk atau mengantuk, konsistensi bakal susah terbentuk.

Coba eksperimen beberapa hari, misalnya tulis pagi hari selama 1 minggu, lalu malam hari pada minggu berikutnya. Dari situ, kamu bakal tahu kapan waktu terbaik untuk kamu pribadi. Begitu ketemu jam ideal, jadikan itu ritual tetap. Otakmu akan terbiasa dan mulai otomatis siap menulis pada jam itu tanpa perlu dipaksa.

3. Gunakan format yang kamu suka

ilustrasi jurnal
ilustrasi jurnal (pexels.com/cottonbro studio)

Journaling itu gak harus formal atau penuh aturan. Kamu gak perlu memikirkan tata bahasa atau paragraf sempurna. Justru, semakin personal gaya menulismu, semakin kuat koneksi emosionalnya. Kamu bisa pakai bullet journal, gratitude journal, bahkan doodle journal kalau kamu tipe visual.

Kalau kamu lebih suka digital, manfaatkan aplikasi notes atau journaling app biar bisa menulis kapan saja. Namun, kalau tipe yang suka sensasi pena di atas kertas, kamu perlu investasi sedikit pada buku dan pulpen warna-warni. Percaya, deh, hal sekecil itu bisa banget meningkatkan mood menulis.

4. Jangan kejar “sempurna”, kejar jujur

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (unsplash.com/Content Pixie)

Banyak orang berhenti journaling karena merasa tulisan harus bagus. Padahal, journaling itu bukan untuk dibaca orang lain. Isinya boleh acak-acakan, curhatan random, bahkan sekadar emotikon atau gambar. Tujuan utamanya ialah menumpahkan isi kepala dan hati.

Ketika kamu berhenti menilai tulisanmu sendiri, journaling jadi lebih bebas. Tulisan yang jujur justru lebih berharga daripada yang indah, tapi dibuat-buat. Ingat, jurnal itu tempat paling aman untuk jadi diri sendiri, jadi gak ada penilaian maupun standar.

5. Buat pemicu biar lebih otomatis

ilustrasi menulis jurnal
ilustrasi menulis jurnal (unsplash.com/Prophsee Journals)

Agar journaling jadi kebiasaan, kamu butuh “pemicu”. Sebagai contoh, kamu selalu menulis setelah menyikat gigi malam atau sambil minum kopi pagi. Hubungkan journaling dengan kebiasaan yang sudah otomatis kamu lakukan setiap hari. Cara ini efektif untuk membangun rutinitas baru.

Selain itu, kamu juga bisa pasang pengingat kecil di HP atau meja kerja. Namun, yang paling penting ialah jangan bikin journaling terasa seperti kewajiban berat. Anggap saja itu sebagai me time singkat untuk waktu ngobrol sama diri sendiri sebelum lanjut ke kesibukan lain.

Membangun kebiasaan journaling setiap hari memang butuh waktu dan kesabaran. Namun, kalau mulai dari hal kecil, kamu akan segera menemukan ritme alami yang bikin journaling terasa ringan. Jadi, daripada menunggu “waktu sempurna” untuk mulai, ambil pena atau buka aplikasi catatan sekarang juga!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Pilihan Jurusan Kuliah untuk Orang Kreatif, Maksimalkan Ide-idemu!

01 Jan 2026, 22:06 WIBLife