Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Stoikisme Membantu Mengendalikan Emosi

5 Cara Stoikisme Membantu Mengendalikan Emosi
ilustrasi seseorang bersikap tenang (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Emosi muncul dari cara kamu menilai suatu kejadian, bukan dari kejadian itu sendiri.

  • Fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan dan lepaskan yang di luar kendali.

  • Biasakan jeda sebelum bereaksi agar respons lebih tenang dan rasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pada era modern yang serbacepat seperti sekarang, emosi sering kali terasa seperti kereta luncur. Sedikit masalah di tempat kerja bisa membuat stres seharian, komentar negatif di media sosial bisa merusak mood, bahkan hal kecil seperti macet di jalan pun bisa memicu kemarahan. Tidak heran kalau banyak orang merasa sulit mengendalikan emosi.

Salah satu filosofi kuno yang justru terasa sangat relevan untuk masalah ini adalah stoikisme. Filsafat yang berkembang di Yunani dan Romawi Kuno ini mengajarkan cara berpikir yang membantu seseorang tetap tenang di tengah situasi sulit. Alih-alih menekan emosi atau berpura-pura tidak merasakannya, stoikisme membantumu memahami emosi dengan lebih rasional. Menariknya, prinsip-prinsip stoikisme sebenarnya cukup sederhana dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Memahami bahwa emosi dipicu oleh caramu menilai sesuatu

ilustrasi sedih
ilustrasi sedih (pexels.com/Liza Summer)

Stoikisme mengajarkan bahwa peristiwa itu sendiri sebenarnya netral. Yang membuatmu marah, sedih, atau kecewa ialah caramu menilai peristiwa tersebut. Kamu bisa melihat contohnya saat seseorang mengkritik pekerjaanmu. Jika langsung menganggap kritik itu sebagai serangan pribadi, emosi negatif akan muncul. Namun, jika kamu melihatnya sebagai masukan untuk berkembang, perasaan yang muncul bisa jauh lebih tenang.

Stoikisme mengajarkanmu untuk memberi jarak antara peristiwa yang terjadi dan reaksi emosional yang muncul. Saat menyadari bahwa emosi sering kali berasal dari cara menilai suatu kejadian, kamu bisa melihat bahwa reaksi tersebut sebenarnya bisa dikendalikan. Kesadaran ini memberimu kesempatan untuk menata ulang cara berpikir sebelum emosi mengambil alih.

2. Membedakan hal yang bisa dan tidak bisa kamu kendalikan

ilustrasi laki-laki sedang marah
ilustrasi laki-laki sedang marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Salah satu konsep paling terkenal dalam stoikisme ialah gagasan bahwa hidup terdiri dari dua kategori: hal yang berada dalam kendali dan hal yang tidak. Yang bisa kamu kendalikan, seperti pikiran, sikap, keputusan, dan tindakanmu sendiri. Sementara, yang tidak bisa kamu kendalikan antara lain opini orang lain, cuaca, masa lalu, dan kejadian tak terduga.

Banyak emosi negatif muncul karena kamu mencoba mengendalikan hal yang sebenarnya berada di luar kuasamu. Ketika kamu mulai menerima kenyataan ini, tekanan emosional biasanya berkurang secara signifikan. Daripada marah karena orang lain bersikap buruk, stoikisme mengajarkanmu untuk fokus pada bagaimana kamu meresponsnya.

3. Melatih jeda sebelum bereaksi

ilustrasi laki-laki belajar diam saat marah
ilustrasi laki-laki belajar diam saat marah (pexels.com/AlphaTradeZone)

Salah satu penyebab emosi meledak karena reaksi yang terlalu cepat. Kamu mungkin sering merespons sesuatu secara impulsif sebelum sempat berpikir. Nah, stoikisme justru menekankan pentingnya jeda mental sebelum bereaksi.

Saat seseorang mengatakan sesuatu yang menyinggung, misalnya, kamu bisa melatih diri untuk berhenti sejenak. Tarik napas, pikirkan situasinya, lalu tentukan respons yang lebih bijak. Jeda kecil ini sering kali menjadi perbedaan antara konflik besar dan percakapan yang tetap terkendali.

4. Mengingat bahwa banyak hal bersifat sementara

ilustrasi perempuan sedang menangis
ilustrasi perempuan sedang menangis (unsplash.com/Thought Catalog)

Emosi sering terasa sangat kuat karena kamu menganggap situasi saat ini akan berlangsung lama. Kenyataannya, banyak hal dalam hidup bersifat sementara. Masalah pekerjaan yang terasa besar hari ini mungkin tidak lagi penting beberapa bulan ke depan. Hal yang membuatmu marah sekarang bisa terasa sepele pada masa mendatang.

Stoikisme mendorongmu untuk melihat masalah dari perspektif yang lebih luas, tidak hanya dari sudut pandang saat ini. Ketika mencoba memandang suatu situasi dalam konteks yang lebih besar, kamu bisa menyadari bahwa masalah tersebut mungkin tidak sebesar yang kamu bayangkan. Dengan cara ini, emosi yang awalnya terasa sangat intens biasanya akan perlahan mereda dan menjadi lebih mudah dikendalikan.

5. Fokus pada pengembangan diri, bukan pada pengakuan orang lain

ilustrasi belajar
ilustrasi belajar (pexels.com/Monstera)

Banyak emosi negatif sebenarnya berasal dari keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Kamu mungkin merasa kesal ketika tidak dihargai, kecewa ketika tidak dipuji, atau marah ketika dikritik. Stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan seharusnya tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Sebaliknya, stoikisme mengajarkanmu untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar berada dalam kendalimu, terutama usaha untuk menjadi versi diri yang lebih baik setiap hari. Perhatian tidak lagi terlalu terarah pada penilaian atau pengakuan dari orang lain, melainkan pada perkembangan diri sendiri. Ketika standar kebahagiaan berasal dari dalam diri, emosimu biasanya menjadi lebih stabil dan tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan di luar kendali.

Dengan memahami cara kerja pikiran, membedakan hal yang bisa dan tidak bisa kamu kendalikan, serta melatih jeda sebelum bereaksi, kamu bisa menghadapi berbagai situasi hidup dengan lebih tenang. Meski berasal dari filsafat kuno, stoikisme tetap relevan hingga saat ini. Dalam dunia yang penuh tekanan dan ketidakpastian, prinsip-prinsip sederhana ini bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk menjaga keseimbangan emosi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us