ilustrasi dianggap tidak ada (pexels.com/Keira Burton)
Tiba-tiba ada orang yang merasa tahu banyak hal tentang dirimu. Mereka punya pendapat tentang keputusan yang kamu ambil, memahami alasan di balik tindakanmu, bahkan merasa tahu seperti apa kondisi hidupmu saat ini. Masalahnya, semua kesimpulan itu tidak pernah berasal dari ngobrol langsung sama kamu. Mereka mendengarnya dari orang lain, dari potongan cerita yang berpindah dari satu orang ke orang berikutnya, lalu membentuk gambaran sendiri tentang siapa dirimu.
Akibatnya, banyak orang merasa mengenalmu, padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar mendengarkan versimu. Situasi seperti ini sering membuat seseorang merasa hadir sekaligus tidak hadir dalam waktu yang bersamaan. Namamu masih disebut, keberadaanmu masih diketahui, tetapi versi kamu sendiri tidak pernah menjadi bagian penting dari cerita yang beredar.
Ciri-ciri kamu sengaja dianggap tidak ada gak selalu terlihat dalam bentuk perlakuan kasar atau penolakan yang terang-terangan. Justru lebih sering muncul lewat kejadian-kejadian kecil yang tampak biasa saja ketika terjadi satu kali. Namun, saat kejadian yang sama terus berulang dalam berbagai situasi, perasaan itu perlahan menjadi semakin sulit diabaikan.