Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cognitive Dissonance: Mengapa Sulit Pergi dari Hubungan Tak Sehat?

4 min read
Cognitive Dissonance: Mengapa Sulit Pergi dari Hubungan Tak Sehat?
ilustrasi mengalami masalah mental (pexels.com/Mart Production)
  • Cognitive dissonance adalah ketegangan psikologis saat keyakinan, nilai, perasaan, dan perilaku saling bertentangan, yang sering memicu ketidaknyamanan serta dorongan mencari pembenaran.
  • Kondisi ini dapat muncul setelah keputusan besar atau dalam hubungan tidak sehat, ketika kasih sayang terhadap pasangan berbenturan dengan kesadaran bahwa perlakuannya menyakitkan.
  • Konflik berkepanjangan bisa memicu stres, kecemasan, rasa bersalah, dan lelah emosional; penyikapannya mencakup mengenali konflik, membedakan fakta dari pembenaran, serta mencari dukungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu sadar sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya gak sesuai dengan apa yang kamu yakini, tapi tetap melakukannya? Misalnya, kamu tahu hubunganmu sudah gak sehat, sering terluka, bahkan sadar bahwa perlakuan yang kamu terima gak seharusnya terjadi, tapi kamu merasa sulit untuk pergi. Di sisi lain, mungkin dulu kamu pernah mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai yang selama ini kamu pegang.

Setelahnya, muncul rasa gak nyaman, bingung, atau sibuk mencari alasan supaya keputusan tersebut terasa benar. Kondisi seperti ini dalam psikologi dikenal sebagai cognitive dissonance. Hal ini bukan berarti bahwa kamu sedang berbohong kepada diri sendiri. Ini merupakan kondisi ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan, nilai, pikiran, perasaan, atau perilaku sehingga muncul ketegangan psikologis di dalam dirimu. Berikut ini penjelasan singkatnya!

  1. 1. Apa itu cognitive dissonance?

    Lembur
    ilustrasi bekerja hingga larut (pexels.com/cottonbro)

    Cognitive dissonance adalah kondisi ketika ada dua atau lebih hal dalam pikiran seseorang yang terasa bertentangan. Contohnya sederhana. Kamu percaya bahwa kesehatan adalah sesuatu yang penting, tapi hampir setiap hari kamu sengaja tidur sangat larut tanpa alasan penting. Kamu tahu kebiasaan tersebut kurang baik, tapi tetap mengulanginya.

    Konflik antara "aku harus menjaga kesehatan" dan "aku tetap begadang" bisa menimbulkan cognitive dissonance. Supaya rasa gak nyaman itu berkurang, kamu bisa mulai mengubah perilaku. Misalnya mulai tidur lebih awal. Namun, ada juga kemungkinan muncul pembenaran seperti, "Aku masih muda, jadi gak masalah," atau "Toh, besok juga bisa tidur siang." Pembenaran seperti ini bisa membuat ketegangan sementara tersebut terasa lebih ringan, tapi gak benar-benar menyelesaikan masalah.

  2. 2. Kenapa cognitive dissonance ini bisa terjadi?

    Bertengkar
    ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/keira-burton)

    Cognitive dissonance biasanya terpicu ketika ada benturan antara nilai yang kamu yakini dengan tindakan nyata yang kamu lakukan. Semakin penting nilai tersebut buatmu, makin kuat pula rasa bersalah atau cemas yang muncul. Ada beberapa pemicu utama di balik kondisi ini:

    • Efek setelah mengambil keputusan besar (forced choice): Setelah memilih satu hal berat, seperti resign dari pekerjaan atau mengakhiri hubungan, kamu sering kali meragukan pilihanmu sendiri. Pikiranmu bakal sibuk mencari-cari kelebihan dari pilihan yang kamu tinggalkan, sehingga memicu rasa penyesalan dan kebingungan kognitif.
    • Tekanan sosial dan lingkungan: Terkadang kamu terpaksa bersikap atau menyetujui sesuatu yang bertentangan dengan prinsip pribadimu demi diterima oleh kelompok, tuntutan pekerjaan, atau menghindari konflik dengan orang lain.
    • Upaya mempertahankan citra diri (self-image): Setiap orang ingin menganggap dirinya sebagai sosok yang baik, bijak, dan rasional. Ketika kamu menyadari telah melakukan kesalahan atau tindakan bodoh, otak secara otomatis bakal memicu dissonance dan memaksamu mencari pembenaran (justification) demi melindungi harga diri.

  3. 3. Apa dampaknya bagi kesehatan mental dan hubungan?

    Bersedih
    ilustrasi bersedih (pexels.com/augi)

    Cognitive dissonance dalam jangka pendek bisa bikin gak tenang. Kamu terus memikirkan sebuah keputusan, mencari alasan, mempertanyakan diri sendiri, atau merasa harus mendapatkan kepastian agar lega. Kalau konflik tersebut berlangsung lama, beban mentalnya bisa terasa semakin berat. Kamu bisa mengalami stres, kecemasan, rasa bersalah, frustrasi, atau kelelahan emosional.

    Bukan karena cognitive dissonance secara otomatis menyebabkan gangguan mental, tapi konflik batin yang terus-menerus memang bisa menjadi sumber tekanan psikologis. Dalam hubungan, efeknya juga bisa cukup rumit. Misalnya, kamu menyadari bahwa pasangan melakukan sesuatu yang menyakitkan, tapi pada saat yang sama kamu masih mengingat sisi baiknya. Pikiran seperti "dia sebenarnya sayang sama aku" dan "tapi perlakuannya membuatku terluka" dapat muncul bersamaan.

  4. 4. Cara menyikapi dan mengatasi cognitive dissonance

    Psikiater
    ilustrasi mental health specialist (pexels.com/shvets production)

    Langkah pertama adalah mengakui bahwa ada konflik dalam dirimu. Pisahkan antara, "Apa yang sebenarnya kamu percaya?" lalu bandingkan dengan "Apa yang sedang kamu alami?" Menuliskan dua hal tersebut bisa membuat masalah menjadi lebih jelas. Setelah itu, pisahkan fakta dari pembenaran. Misalnya, daripada hanya berpikir, "Dia sebenarnya orang baik," coba lihat perilaku yang benar-benar terjadi.

    Kalau ada perilaku yang menyakiti atau merugikanmu, keberadaan sisi baik seseorang gak otomatis menghapus dampak dari perilaku tersebut. Kamu juga gak perlu terburu-buru mengambil keputusan hanya untuk menghilangkan rasa gak nyaman. Beri waktu untuk berpikir. Kalau menyangkut hubungan yang penuh tekanan, kamu juga berhak mencari dukungan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional. Meminta bantuan bukan berarti kamu gagal menyelesaikan masalah sendiri.

    Menyadari adanya cognitive dissonance bisa menjadi langkah awal untuk lebih memahami diri sendiri. Bukan mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan untuk memberi ruang bagi diri sendiri dalam melihat situasi dengan lebih jernih dan mengambil keputusan yang lebih sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More