Pernah melihat sebuah produk atau konten yang mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang paling berbahaya, paling mengejutkan, atau paling fenomenal? Namun, setelah diperiksa ternyata tidak seheboh yang dibayangkan. Strategi ini dikenal dengan fenomena crying wolf yang kerap digunakan untuk menarik perhatian audiens di tengah persaingan promosi yang semakin ketat.
Istilah ini berasal dari cerita fabel tentang seorang anak penggembala yang berulang kali berteriak serigala datang, padahal tidak ada serigala yang menyerang. Ketika ancaman yang sebenarnya akhirnya muncul, orang-orang tak lagi percaya pada peringatannya. Dalam konteks promosi, pola ini dapat terjadi ketika sebuah merek, kreator konten, atau pihak tertentu terus menggunakan klaim dramatis demi mendapatkan perhatian, berikut penjelasannya.
