Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Konten Flexing Bisa Lebih Cepat Viral, Strategi Marketing?

5 Alasan Konten Flexing Bisa Lebih Cepat Viral, Strategi Marketing?
ilustrasi pamer kekayaan (pexels.com/WoodysMedia)
Intinya Sih
  • Konten flexing menarik perhatian karena memicu rasa penasaran, aspirasi, dan keinginan audiens untuk memahami gaya hidup mewah yang ditampilkan.
  • Fenomena ini diperkuat oleh efek social comparison dan visual estetik bernilai tinggi yang mendorong interaksi serta meningkatkan peluang viral.
  • Bagi influencer dan brand, flexing menjadi strategi branding untuk membangun citra sukses dan menarik kerja sama dengan produk premium.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Fenomena influencer yang suka flexing atau memamerkan gaya hidup mewah memang sering jadi perbincangan. Mulai dari mobil mahal, liburan eksklusif, sampai barang branded, konten seperti ini hampir selalu menarik perhatian netizen. Gak heran, banyak konten-konten mereka yang cepat viral dalam waktu singkat.

Di balik itu, ternyata ada pola psikologis dan strategi marketing yang membuat konten flexing begitu efektif. Bahkan, gak sedikit brand yang memanfaatkannya untuk meningkatkan exposure. Yuk, kita bahas lima alasan kenapa flexing bisa cepat viral!

1. Memicu rasa penasaran dan keinginan

ilustrasi main sosmed (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi main sosmed (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Konten flexing secara alami memicu rasa penasaran setiap orang yang melihatnya. Orang ingin tahu bagaimana seseorang bisa mencapai gaya hidup tersebut, dari mana sumber penghasilannya, dan seperti apa kehidupan sehari-harinya. Rasa ingin tahu ini membuat orang betah menonton hingga akhir video.

Selain itu, flexing juga memunculkan keinginan atau aspirasi. Banyak orang membayangkan diri mereka berada di posisi yang sama, sehingga konten terasa relatable dalam bentuk mimpi. Inilah yang membuat konten tersebut sering diulang dan dibagikan.

2. Efek psikologis “social comparison”

ilustrasi main sosmed (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi main sosmed (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, sebuah konsep yang dikenal sebagai Social Comparison Theory. Apalagi di era sekarang, hampir setiap orang selalu membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Saat melihat konten flexing, audiens secara gak sadar melakukan perbandingan tersebut.

Perbandingan ini bisa memicu berbagai emosi, mulai dari kagum, iri, hingga termotivasi. Emosi yang kuat inilah yang mendorong interaksi seperti komentar dan share. Semakin tinggi interaksi, semakin besar peluang konten menjadi viral.

3. Visual yang menarik dan “high value”

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ivan Samkov)
ilustrasi konten kreator (pexels.com/Ivan Samkov)

Konten flexing biasanya dikemas dengan visual yang estetik dan terlihat mahal. Mulai dari lokasi, outfit, hingga kualitas video, semuanya dirancang untuk memberi kesan high value. Inilah yang akhirnya membuat konten tersebut terlihat lebih eye-catching di antara banyaknya konten lain.

Dalam dunia marketing, visual yang kuat memang punya peran besar dalam menarik perhatian. Bahkan dalam beberapa detik pertama, audiens sudah bisa memutuskan apakah akan lanjut menonton atau tidak. Flexing unggul di aspek ini karena tampilannya yang mencolok.

4. Algoritma media sosial menyukai engagement tinggi

ilustrasi TikTok (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi TikTok (pexels.com/cottonbro studio)

Platform seperti Instagram dan TikTok sangat mengandalkan engagement untuk mendistribusikan konten. Semakin banyak like, komentar, dan share, semakin besar peluang konten masuk ke lebih banyak audiens.

Konten flexing cenderung memancing reaksi cepat, baik positif maupun negatif. Banyak yang memuji, tapi gak sedikit juga yang mengkritik. Namun, semua interaksi ini tetap dihitung sebagai engagement, yang justru mempercepat viralitas.

5. Digunakan sebagai strategi branding dan positioning

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi konten kreator (pexels.com/Karolina Grabowska)

Bagi sebagian influencer, flexing bukan sekadar pamer, tapi bagian dari strategi branding. Mereka ingin diposisikan sebagai sosok sukses, mapan, dan “aspiratif”. Citra ini kemudian menarik brand yang ingin menargetkan pasar tertentu.

Dalam marketing, ini disebut sebagai positioning, yaitu bagaimana seseorang atau brand ingin dilihat oleh audiens. Dengan citra mewah, influencer bisa menarik kerja sama dengan produk premium. Jadi, di balik konten flexing, ada strategi bisnis yang cukup terarah.

Konten flexing memang sering menuai pro dan kontra, tapi gak bisa dimungkiri efektivitasnya dalam menarik perhatian. Dari sisi psikologi hingga algoritma, semuanya mendukung potensi viralnya. Kalau menurutmu, konten semacam ini cocoknya cuma buat sekadar buat pamer atau memang strategi marketing yang cerdas, guys?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us