Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Digital Minimalism: Cara Mengurangi Gadget Tanpa Ketinggalan Tren

Digital Minimalism: Cara Mengurangi Gadget Tanpa Ketinggalan Tren
Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio)
Share Article

Gadget sudah menjadi bagian dari hampir semua aktivitas sehari-hari. Bangun tidur mengecek notifikasi, bekerja atau belajar lewat laptop, mencari hiburan di media sosial, sampai berkomunikasi dengan teman semuanya membutuhkan layar. Masalahnya, penggunaan gadget yang awalnya bertujuan mempermudah kehidupan bisa berubah menjadi kebiasaan membuka aplikasi tanpa tujuan yang jelas.

Di sinilah konsep digital minimalism mulai relevan. Menjadi digital minimalist bukan berarti harus kembali hidup tanpa smartphone atau menghapus semua akun media sosial. Konsep ini lebih menekankan penggunaan teknologi secara sadar.

  1. 1. Pilih aplikasi yang benar-benar memberi nilai

    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

    Digital minimalism dimulai dengan mengubah pertanyaan dari “Aplikasi apa yang sedang populer?” menjadi “Aplikasi apa yang benar-benar berguna untuk hidup saya?”. Tidak semua platform yang sedang ramai harus kamu gunakan. Jika sebuah aplikasi hanya membuatmu menghabiskan waktu untuk scrolling tanpa tujuan, keberadaannya layak dievaluasi.

    "Minimalisme digital adalah filosofi yang membantu kamu mempertanyakan alat komunikasi digital (serta perilaku yang terkait dengannya) mana yang memberikan nilai paling besar bagi hidup kamu," jelas Cal Newport, profesor ilmu komputer di Georgetown University dalam lamannya.

    "Filosofi ini didasari oleh keyakinan bahwa menyingkirkan gangguan digital yang kurang bermanfaat secara sengaja dan tegas, serta mengoptimalkan penggunaan alat-alat yang benar-benar penting, dapat meningkatkan kualitas hidup secara signifikan," tambah Cal.

    Jadi, kamu bisa mulai dengan membuat audit sederhana terhadap aplikasi di smartphone. Kelompokkan menjadi tiga kategori: wajib digunakan, berguna tetapi tidak harus setiap hari, dan sebenarnya tidak dibutuhkan. Aplikasi untuk pekerjaan, perbankan, komunikasi keluarga, transportasi, atau belajar mungkin tetap dipertahankan. Sementara aplikasi hiburan bisa dibatasi penggunaannya sesuai kebutuhan.

  2. 2. Matikan notifikasi yang tidak penting

    Ilustrasi merasa positif (pexels.com/Alexey Demidov)
    Ilustrasi merasa positif (pexels.com/Alexey Demidov)

    Salah satu cara termudah mengurangi ketergantungan pada gadget adalah berhenti membiarkan smartphone terus-menerus memanggil perhatian. Notifikasi dari marketplace, media sosial, game, berita, atau aplikasi hiburan sebenarnya tidak selalu membutuhkan respons segera.

    Ketika semuanya berbunyi atau muncul di layar, kamu terdorong untuk terus memeriksa smartphone. Jadi mulailah dengan praktik sederhana. Pertahankan notifikasi untuk hal-hal penting seperti telepon, pesan keluarga, pekerjaan, kalender, atau transaksi keuangan.

    Matikan notifikasi yang hanya mendorong kamu membuka aplikasi. Dengan begitu, kamu tidak harus selalu mengecek smartphone setiap kali ada bunyi atau getaran. Kamu yang menentukan kapan ingin membuka aplikasi, bukan notifikasi yang menentukan kapan kamu harus melihat layar.

     

  3. 3. Tetap ikuti tren, tetapi jangan mengikutinya real-time

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

    Salah satu alasan orang sulit mengurangi gadget adalah takut ketinggalan informasi. Ada rasa khawatir ketika teman membicarakan tren TikTok, meme terbaru, berita viral, atau topik yang sedang ramai di media sosial. Padahal, mengikuti tren tidak selalu berarti harus online sepanjang hari.

    "Melewatkan sesuatu bukanlah hal yang negatif. Banyak penganut paham maksimalisme digital, mereka yang menghabiskan hari-harinya tenggelam dalam rutinitas yang dipenuhi aplikasi dan klik. Jauh lebih masuk akal untuk mengukur nilai yang diperoleh dari aktivitas yang benar-benar kamu jalani, lalu berupaya memaksimalkan nilai positif tersebut," saran Cal Newport.

    Kamu bisa menerapkan sistem scheduled checking. Misalnya, cek media sosial pada siang dan malam hari selama 15–30 menit, bukan setiap beberapa menit. Jika ada tren penting, biasanya informasi tersebut tetap akan muncul kembali melalui teman, berita, atau percakapan sehari-hari.

  4. 4. Ganti waktu scrolling dengan aktivitas menarik

    Ilustrasi membaca (unsplash.com/Photo by Kailun Zhang)
    Ilustrasi membaca (unsplash.com/Photo by Kailun Zhang)

    Mengurangi gadget akan terasa sulit kalau waktu kosong tidak digantikan dengan kegiatan lain. Ketika bosan, tangan secara otomatis mencari smartphone karena otak sudah terbiasa mendapatkan stimulasi cepat dari video pendek, notifikasi, dan konten baru.

    Oleh karena itu, digital minimalism tidak cukup hanya dengan mengurangi screen time, tetapi juga perlu menciptakan alternatif yang menarik. Cobalah membuat daftar aktivitas pengganti yang bisa dilakukan tanpa smartphone.

    Membaca buku, memasak, menggambar, olahraga, berkebun, merapikan kamar, bermain alat musik, berjalan kaki, atau bertemu teman secara langsung bisa menjadi pilihan. Semakin banyak aktivitas offline yang terasa menyenangkan, semakin kecil kemungkinan kamu menggunakan smartphone hanya karena sedang bosan.

  5. 5. Buat zona dan waktu bebas gadget

    Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/cottonbro studio)

    Kamu tidak harus menjalani satu hari penuh tanpa smartphone untuk mendapatkan manfaat digital minimalism. Cara yang lebih realistis adalah membuat phone-free zone atau waktu tertentu ketika gadget tidak digunakan. Misalnya, meja makan, tempat tidur, ruang belajar, atau satu jam pertama setelah bangun tidur bisa menjadi area bebas smartphone.

    “Dua area yang paling berdampak untuk ditetapkan sebagai phone-free zone adalah meja makan dan kamar tidur, karena ruang-ruang tersebut memiliki pengaruh terbesar terhadap komunikasi dan kualitas tidur,” ujar terapis Jake Bergstedt dikutip dari Real Simple.

    “Tujuannya bukan sekadar menjauh dari perangkat, melainkan mengisi waktu secara sengaja dengan kegiatan yang memulihkan serta menjadikan momen lepas dari gawai sebagai pengalaman yang positif. Zona bebas ponsel ini memberikan waktu bagi otak kamu untuk beristirahat dari stimulasi yang terus-menerus, yang seiring waktu dapat membantu mengurangi stres,” tambahnya.

    Oleh karena itu, tujuan akhirnya bukan menjadi orang yang anti-gadget. Justru sebaliknya, kamu ingin memiliki hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Tetap boleh membuka TikTok untuk melihat tren, menggunakan Instagram untuk berkomunikasi, menonton YouTube untuk hiburan, atau mengikuti berita melalui smartphone. Bedanya, kamu melakukannya karena memang memilih untuk melakukannya, bukan karena merasa harus selalu online.

    Digital minimalism bukan tentang hidup tanpa teknologi, melainkan tentang mengembalikan kendali kepada diri sendiri. Kamu tetap bisa mengikuti tren tanpa harus mengikuti semua tren, tetap terhubung dengan teman tanpa selalu online, dan tetap menggunakan gadget tanpa membiarkannya menguasai waktumu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More