Comscore Tracker

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini Mendunia

akan diuji pada misi luar angkasa ke bulan dan Planet Mars

Fahmi Mubarok merupakan ilmuwan sekaligus pengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Fahmi berhasil menemukan thermal spray coating teknologi yang semula dianggap mustahil untuk ditemukan. 

Dalam wawancara khusus bersama Fahmi Mubarok pada Senin (6/6/22), ia menjelaskan lebih lanjut mengenai hasil penelitiannya bersama ahli kimia dan insinyur asal Spanyol. Yuk, simak artikel di bawah ini untuk mengenal lebih jauh sosok Fahmi mubarok!

1. Penemuan jenius Fahmi semula dianggap mustahil oleh ahli di bidangnya

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini MenduniaFahmi Mubarok, Ilmuwan Material. (dok.EPO)

Teknologi thermal spray coating atau teknologi semprot thermal adalah suatu teknologi untuk melapisi suatu bahan. Teknologi ini menggunakan termperatur tinggi sehingga bahan yang akan dilapisi harus dilelehkan. Tujuan dari proses ini adalah meningkatkan karakteristik dari benda aslinya. 

Penemuan jenius ini telah ada selama hampir seratus tahun karena dianggap mustahil oleh ahli dalam bidang tersebut. Penelitian ini bermula dari tantangan yang diberikan Nuria Espallargas, ahli kimia dan insinyur material asal Spanyol, yang kala itu menjadi professor pada program doktor (S3) Fahmi di Norwegian University of Science and Technology di Norway. 

Fahmi bercerita bahwa rekan-rekannya telah menyerah dalam percobaan tersebut. "Mereka mengatakan bahwa ini adalah teknologi yang sangat sulit untuk berkembang karena banyak sekali tantangan di sana. Dan itu kemudian yang kita coba ambil tantangannya dan kita mencoba berbagai cara. Saya membutuhkan hampir dua tahun dan di antara dua tahun ini, memang banyak sekali kegagalan," katanya.

2. Mencintai sains sejak duduk di bangku sekolah, ketertarikan Fahmi akan dunia ini terus berkembang hingga saat ini

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini MenduniaFahmi Mubarok, Ilmuwan Material. (dok.EPO)

Fahmi telah tertarik dengan dunia sains sejak duduk di bangku sekolah. Hal ini terinspirasi dari guru matematika semasa ia berada di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Jadi saya suka sains, suka IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) itu karena diajar matematika oleh guru saya waktu SMP. Cara mengajar beliau itu sangat asyik menurut saya, sangat menarik. Dan itu akhirnya yang membuat saya jatuh cinta lah istilahnya dengan bidang IPA. Akhirnya suka dengan matematika, dengan fisika, dengan kimia, dan sebagainya," cerita Fahmi. 

Kecintaan Fahmi terhadap dunia pendidikan dan sains terus tumbuh hingga ia duduk di bangku kuliah. Setelah lulus sarjana (S1), Fahmi semakin tertarik bergabung ke dunia pendidikan dan muncul keinginan untuk menjadi dosen.  

Fahmi mengawali karier sebagai dosen ITS pada tahun 2004 sekaligus melanjutkan pendidikan progam magister di tahun yang sama. Saat melakukan program magister ini, Fahmi meneliti tentang karbida yang kelak akan jadi senyawa penting dalam penelitiannya. 

"Karena memang saya punya basis waktu S2, saya juga meneliti tentang karbida juga. Karena ada dasar, terus profesor juga melihat, 'Kayaknya kamu mampu karena kamu punya basic. Jadi, ayo kita bergerak bersama-sama,'. Memang tantangannya banyak. Jadi, dua tahun kita habiskan dengan trial eror, mulai desperate juga. ‘Aduh, ini kalau gak update, ya sudah kita cari yang lain saja,’." kata Fahmi. 

Setelah masa percobaan sejak tahun 2010 hingga 2012, Fahmi dan partner, Nuria Espallagras berhasil menemukan apa yang dicarinya. Fahmi bersyukur setelah berbagai percobaan dan kegagalan, akhirnya teknologi yang ditelitinya bisa membuahkan hasil. 

3. Perjuangan panjang Fahmi yang tak mudah akhirnya memberikan jawaban positif

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini MenduniaFahmi Mubarok, Ilmuwan Material. (dok.EPO)

Perjuangan Fahmi tak selesai sampai di situ. Setelah berhasil melewati proses pengembangan di laboratorium, teknologi tersebut harus diuji coba ke industri terkait. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui apakah produknya benar-benar cocok untuk diterapkan dalam berbagai produk industri. 

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses tersebut tidaklah singkat. Pengembangan dan pengenalan kepada industri terkait memakan waktu hingga 6 tahun. Tak sedikit orang-orang yang pesimis dengan penemuan Fahmi karena pendahulunya telah banyak yang mengalami kegagalan.

Perjuangan panjang Fahmi dan tim berhasil meyakinkan para koleganya agar berkenan mencoba produk tersebut. "Nah, kemudian di tahun 2018 itu, mulai banyak yang benar-benar engage dengan produk kita. Terus 2020 sampai 2022 ini, bener-bener kita matangkan dengan industri sampai akhirnya ya 2022 ini baru terlihat hasil yang nyata bahwa industri percaya dengan produk kita. Mereka berani order dan sebagainya," kenangnya.

Baca Juga: Kisah Seru Intan, Wanita Indonesia Peneliti Nanoteknologi di Prancis

4. Fahmi berbagi keluh kesah dan momen terendah dalam kariernya sebagai peneliti di Indonesia

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini MenduniaFahmi Mubarok, Ilmuwan Material. (dok.EPO)

Bicara soal dunia penelitian di tanah air, Fahmi menceritakan keluh kesah berkecimpung di dunia ini. Jadi peneliti di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Ia menjelaskan bahwa di Indonesia, tantangan yang sering dihadapi adalah keterbatasan alat yang kurang terpusat di satu tempat. 

"Kalau di Indonesia sebagai peneliti, tantangan atau hambatan yang paling sering kita hadapi adalah masalah alat, akses alat. Karena memang kalau boleh dikatakan, di Indonesia ini, kita sangat terbatas untuk alat, terutama alat-alat teknologi tinggi. Jadi, tidak banyak memang. Ada tapi tidak banyak. Yang kedua adalah aksesnya relatif cukup sulit. Maksudnya, tidak semudah di luar negeri di mana satu kampus sangat lengkap. Jadi, kalau kita mau meneliti sesuatu, gak perlu ke mana-mana lagi, di situ saja," jelas dia.

Sejauh ini, masalah tersebut dapat teratasi dengan berbagai kolaborasi antar peneliti. Kolaborasi tersebut biasanya dilakukan oleh sesama teman peneliti demi menunjang penemuan satu sama lain. 

Fahmi juga berbagi momen terendah dalam kariernya. Ia bercerita pendapatan sebagai peneliti di Indonesia sangatlah berbeda dengan peneliti di luar negeri. Pendapatan tersebut tidak sebesar orang-orang yang berkecimpung di ranah industri profesional.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat Fahmi. "Kalau saya sendiri, kalau dulu waktu datang ke kampus, memang niat awal saya ingin sharing knowledge dengan mahasiswa. Jadi, istilahnya kalau buat saya, pendapatan akan ngikut di belakangnya. Maksudnya, dengan penelitian, penemuan itu kan sebenernya ada potensi tambahan pendapatan juga di sana," bebernya.

5. Sikap inilah yang perlu ditumbuhkan bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejak karier Fahmi sebagai seorang peneliti

Semula Dianggap Mustahil, Temuan Fahmi Mubarok Kini MenduniaFahmi Mubarok, Ilmuwan Material. (dok.EPO)

Fahmi juga berbagi mengenai sikap yang perlu dipersiapkan anak muda yang ingin mengikuti jejak kariernya sebagai ilmuwan. Sikap ingin tahu yang tinggi harus ditumbuhkan dalam jiwa seseorang yang ingin menjadi peneliti. 

"Kalau saya lihat, ada satu sikap  yang penting kalau ingin jadi seorang peneliti yaitu curiosity, rasa penasaran dan ingin tahu yang besar. Karena dengan rasa penasaran dan ingin tahu yang besar, kita jadi mencari tahu lebih jauh tentang itu. Nah, itu ketika mencari lebih jauh tentang hal tersebut, kita menemukan hal-hal baru," ujar Fahmi.

Berkat kerja keras Fahmi, ia berhasil menjadi salah satu finalis European Inventor Award 2022 untuk bidang SME (Small Medium Enterprise). Produk ini juga akan diuji pada European Space Agency/Badan Antariksa Eropa untuk digunakan pada misi luar angkasa ke bulan dan Planet Mars.

Kisah panjang dan penuh lika-liku Fahmi Mubarok bisa menginspirasi generasi muda yang ingin berkarier di dunia penelitian. Semoga kisah ilmuwan Indonesia yang mendapat penghargaan bergengsi di dunia bisa membuka jalan bagi generasi muda.

Baca Juga: Perjalanan Karier Agus Suwage, 3 Dekade Berkarya Sebagai Seniman

Topic:

  • Dina Fadillah Salma
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya