Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi dan Desy Bachir, Co-Chairperson Ideafest saat sharing session kepulangan pasca Eisenhower Fellowship. 4 Desember 2024. (IDN Times/Hani Safanja)
Hal pertama dan utama yang ditekankan oleh Hanna dan Desy adalah benefit program yang bisa mempertemukan mereka dengan tokoh-tokoh terkemuka dan impactful. Sebagai seorang profesional di ranah ekonomi kreatif, Desy mengungkapkan bahwa ia bersyukur bisa bertemu dengan founder dari South by Southwest, sebuah konglomerasi tahunan film paralel, media interaktif, festival serta konferensi musik.
"Kalau aku sih yang paling menarik banget ditemuin ya founder-nya South by Southwest, karena selama ini hanya ada di angan-angan aja. Aku juga sempat ke Boise, Ibu Kota Idaho. Uniknya, Boise ini merupakan kota yang progresif di state yang konservatif. Boise adalah city pertama yang punya cultural planner yang ada bagian dari government.
Itu adalah pertama kalinya kota di Amerika tuh ada yang seperti itu. Aku ketemu dengan salah satu city planner-nya, Matilda Bubb, dan disambut dengan antusias karena dia tahu bahwa Indonesia itu merupakan negara ketiga dengan ekonomi kreatif yang paling maju," tutur Desy, Co-chairperson Ideafest saat memaparkan mengenai pengalamannya selama mengikuti Eisenhower Fellowship di HQ Makna Coffee, Rabu (04/12/2024)
Menurutnya, di Boise, dampak ekonomi kreatif menjadi perhatian besar, hingga melibatkan universitas dalam riset mengenai pengaruhnya terhadap ekonomi. Salah satu hal yang dipelajarinya adalah pentingnya membuat laporan dampak (impact report) untuk menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang bagaimana kreativitas bisa membentuk roda ekonomi.
Sementara itu, Hanna juga menyampaikan bahwa dirinya berkesempatan bertemu dengan Joe Guinan, Executive Director dari Democracy Collaborative, sebuah pusat penelitian nirlaba tentang ekonomi politik. Dalam pertemuannya, ia pun saling membagikan dan berdiskusi mengenai pentingnya memanfaatkan sektor ekonomi di lingkup lokal.
"Movement ini awalnya mulai di Detroit, waktu kota itu lagi jaya-jayanya sama industri pabrik. Tapi, begitu pabrik-pabrik itu cabut, tiba-tiba banyak banget pekerja yang jadi nganggur. Nah, salah satu solusi dari movement ini adalah bisnis-bisnis yang ada itu dibangun dengan fokus memastikan semua sumber daya dan pekerjaannya datang dari lokal.
Menurutku, ini menarik banget karena Indonesia itu kan kepulauan, dan masing-masing daerah sebenarnya bisa mandiri. Tapi sering banget daerah harus bergantung ke Jakarta, yang bikin semuanya jadi mahal banget. Misalnya di NTT, terutama di Labuan Bajo. Kenapa gak produk-produk di sana lebih fokus ke potensi lokal? Bahan bakunya dari sana, pekerjanya juga dari lokal. Intinya, gimana caranya uang yang masuk itu tetap muter di daerah itu aja. Makanya waktu ngobrol sama Joe, semuanya tuh nyambung banget," ungkap Hanna Keraf, Co-Founder Krealogi saat menceritakan pengalamannya.