Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Stella Christie Ajak Tanoto Scholar Berpikir Kritis dalam Pemanfaatan AI

Stella Christie Ajak Tanoto Scholar Berpikir Kritis dalam Pemanfaatan AI
potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI (dok. Tanoto Foundation)
  • Wamen Diktisaintek Stella Christie mengajak 240 Tanoto Scholar tetap belajar dan berpikir kritis agar mampu menilai akurasi keluaran AI serta tidak bergantung penuh pada teknologi.
  • Stella menyoroti kemungkinan AI menjadi economic bubble dan tingginya kebutuhan energi serta air pusat data, dengan konsumsi AI diperkirakan mencapai 1–1,3 persen energi dunia.
  • Perguruan tinggi didorong memperkuat kemampuan menciptakan, mentransmisikan, dan mengkurasi pengetahuan; Tanoto Foundation mendukungnya melalui program TELADAN yang membuka Cohort 2027 hingga 7 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sekarang, hampir semua hal bisa ditanyakan kepada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Mulai dari mencari informasi, mengerjakan tugas, hingga membantu memecahkan berbagai persoalan, jawabannya bisa muncul dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini justru membuat manusia perlu lebih berhati-hati agar tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir dan menilai informasi secara mandiri.

Hal inilah yang menjadi salah satu pesan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Stella Christie kepada 240 penerima beasiswa Tanoto Foundation dalam ajang Tanoto Scholars Gathering di Riau Kompleks, PT RAPP, Pangkalan Kerinci, Riau, Kamis (23/7/2026). Stella membahas perkembangan AI sekaligus mengajak para Tanoto Scholar melihat dampaknya terhadap manusia dan pendidikan tinggi.

  1. 1. Berpikir kritis jadi bekal agar gak tergantikan AI

    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI
    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI (dok. Tanoto Foundation)

    Menurut Stella, secanggih apa pun AI, manusia tetap memiliki keunggulan selama mampu menilai hasil yang diberikan teknologi tersebut. Karena itu, generasi muda perlu tetap menjalani proses belajar dan tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.

    “Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan,” ujar Stella.

    Stella menjelaskan bahwa proses belajar tetap diperlukan untuk membentuk nalar, sehingga seseorang mampu membedakan informasi yang akurat dan tidak, serta menentukan mana yang baik dan tidak. Ia juga mengingatkan bahwa terlalu bergantung pada AI dapat membuat kemampuan berpikir menurun, terutama ketika seseorang harus menyelesaikan pekerjaan tanpa bantuan teknologi tersebut.

    “Sekarang sudah banyak bukti-bukti ilmiah yang memperlihatkan jika mahasiswa, murid SMA, SMP, SD menggunakan AI, kemampuannya untuk membuat pekerjaan itu menjadi lebih buruk. Karena begitu AI tidak ada, ia menjadi tergantung dan tidak terjadi proses berpikir bagaimana sulitnya membuat suatu pekerjaan,” tuturnya.

  2. 2. AI bisa jadi bubble sekaligus membutuhkan energi sangat besar

    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI
    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI (dok. Tanoto Foundation)

    Stella mengajak para Tanoto Scholar memahami bagaimana manusia bisa terbawa tren hingga terlalu bergantung pada sesuatu yang dianggap menjanjikan solusi. Ia mencontohkan tulip bubble di Belanda dan dotcom bubble saat internet berkembang.

    “Semua orang Belanda dan juga orang-orang Eropa bilang bahwa kita harus menanam tulip. Karena tulip saat itu harganya naik luar biasa. Jadi semua orang berinvestasi pada tulip,” jelas Stella.

    Dari fenomena tersebut, ia kemudian mengajak peserta mempertanyakan apakah perkembangan AI saat ini juga tengah berada dalam sebuah economic bubble. Economic bubble adalah fenomena yang membentuk kehidupan manusia di dunia ini.

    “Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa kita saat ini sedang berada di dalam bubble? AI ini bubble juga atau bukan?” kata Stella.

    Di balik perkembangan AI yang pesat, Stella juga menyoroti kebutuhan energi dan air untuk menopang pusat data perusahaan AI. Ia menyebut penggunaan energi AI diperkirakan mencapai 1-1,3 persen dan dapat meningkat hingga 4,5 persen dari konsumsi energi dunia. Bahkan, konsumsi energi AI pada tahun sebelumnya disebut setara dengan penggunaan energi selama satu tahun di Latvia.

    “Diperkirakan tahun 2030 tidak ada satu negara pun di Eropa yang pemakaian energinya selama satu tahun itu bisa dibandingkan atau menopang pemakaian energi AI,” katanya.

    Tak hanya listrik, penggunaan air juga menjadi perhatian. Stella menyebut penggunaan air pada salah satu mesin pemrosesan data perusahaan AI setara dengan kebutuhan air minum 1,2 juta orang, sedangkan konsumsi listriknya setara dengan penggunaan listrik 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.

  3. 3. AI bisa memberikan jawaban, tetapi belum tentu bisa menerapkannya

    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI
    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI (dok. Tanoto Foundation)

    Meski mampu menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat, Stella mengingatkan bahwa AI masih memiliki keterbatasan. Jawaban yang diberikan teknologi tersebut belum otomatis berarti solusi tersebut dapat diwujudkan di dunia nyata.

    “AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500,” ucapnya.

    Karena itu, manusia tetap memiliki peran dalam mengolah pengetahuan hingga menerapkannya. Kemampuan untuk menilai, memahami, dan menentukan bagaimana sebuah informasi digunakan menjadi bagian yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada AI.

  4. 4. Perguruan tinggi perlu memperkuat tiga kemampuan di era AI

    ilustrasi mahasiswa belajar menggunakan laptop
    ilustrasi mahasiswa belajar menggunakan laptop (pexels.com/matreding)

    Perkembangan AI membuat perguruan tinggi perlu memikirkan kembali perannya. Stella menyinggung lulusan computer science di Amerika Serikat yang mulai kehilangan pekerjaan dan menilai bahwa menghapus program studi bukanlah solusi. Sebaliknya, perguruan tinggi perlu memperkuat tiga kemampuan utama, yaitu menciptakan, mentransmisikan, dan mengkurasi pengetahuan.

    Dalam hal menciptakan pengetahuan, universitas perlu menentukan pengetahuan apa yang sebaiknya diciptakan manusia dan apa yang dapat dihasilkan AI. Stella menilai, ketidakmampuan menjawab pertanyaan tersebut dapat membuat manusia tergantikan oleh AI.

    “Pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh manusia dan pengetahuan seperti apa yang akan diciptakan oleh AI. Kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu, tentu saja manusia akan digantikan oleh AI,” kata Stella.

    Sementara itu, cara mentransmisikan dan mengkurasi pengetahuan juga perlu dipikirkan kembali karena masyarakat kini bisa mengakses informasi melalui perangkat digital. Stella bahkan mencontohkan kemungkinan AI menulis novel, yang kemudian memunculkan pertanyaan mengenai apakah kemampuan tersebut masih perlu diajarkan dengan cara yang sama di kampus sastra.

    “Ini pertanyaan pelik yang harus dijawab oleh universitas dan harus kalian jawab juga sebagai civitas dan menjadi bagian krusial dari universitas,” ujarnya.

    Menurut Stella, perguruan tinggi juga perlu mampu mengkurasi pengetahuan dengan memilah sekaligus memberikan makna pada informasi yang tersedia. Ia menegaskan bahwa kemampuan menciptakan, mentransmisikan, dan mengkurasi pengetahuan akan menjadi bekal penting agar manusia tetap memiliki peran di tengah perkembangan AI.

    “Jika seseorang dengan pendidikan tinggi tidak bisa menjawab pengetahuan apa yang harus diciptakan, pengetahuan apa yang harus ditransmisikan, dan bagaimana mengkurasinya, pendidikan tinggi tidak akan berkelanjutan di era AI,” paparnya.

    “Tapi sebaliknya, jika manusia-manusia unggulan ini mampu menciptakan, mentransmisi, dan mengkurasi pengetahuan, kalian pasti tidak akan tergantikan oleh AI atau teknologi apapun di dunia ini,” imbuh Stella.

  5. 5. Tanoto Foundation terus siapkan calon pemimpin masa depan

    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI
    potret Wamen Diktisaintek RI Prof. Stella Christie mengajak generasi muda untuk kritis dalam penggunaan AI (dok. Tanoto Foundation)

    Pesan mengenai pentingnya kemampuan manusia di tengah perkembangan AI tersebut sejalan dengan Program TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) dari Tanoto Foundation. Program ini memberikan dukungan finansial berupa biaya kuliah dan tunjangan hidup sekaligus pengembangan soft skills serta pelatihan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun, mulai semester dua hingga semester delapan.

    Saat ini, Tanoto Foundation kembali membuka pendaftaran TELADAN Cohort 2027 yang berlangsung pada 1 Juli hingga 7 September 2026. Informasi mengenai persyaratan, tahapan seleksi, perguruan tinggi mitra, serta mekanisme pendaftaran tersedia melalui bit.ly/JadiTELADAN2027 atau Instagram resmi @tanotoeducation.

    Pada akhirnya, AI mungkin bisa membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, tetapi kemampuan untuk berpikir dan menilai tetap berada di tangan manusia. Jadi, bukan soal siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan siapa yang tetap mampu berpikir kritis di tengah kecanggihan teknologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More