Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gaji Menjadi Titik Resah meski Kebutuhan Terpenuhi?

3 min read
Kenapa Gaji Menjadi Titik Resah meski Kebutuhan Terpenuhi?
ilustrasi gaji (vecteezy.com/Miftachul Huda)
  • Gaji kerap dipandang sebagai indikator perkembangan karier; ketika tanggung jawab bertambah tetapi kenaikannya minim, muncul rasa kecewa meski kebutuhan harian terpenuhi.
  • Perbandingan dengan teman seangkatan atau rekan yang mendapat penghasilan lebih besar dapat memicu pertanyaan tentang keputusan karier dan nilai pekerjaan sendiri.
  • Gaji yang kini cukup bisa terasa kurang saat rencana rumah, keluarga, bantuan orang tua, dan dana pensiun mulai dihitung bersama kemampuan menabung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Umur bertambah, masa kerja bertambah, tetapi angka di slip gaji sama sekali tak bertambah. Hal kecil seperti melihat nominal setelah menerima gaji bisa memunculkan overthinking soal berapa lama lagi harus bekerja untuk mencapai target tertentu.

Apalagi ketika mulai tahu teman seangkatan sudah punya penghasilan yang jauh lebih besar, pembicaraan soal gaji jadi makin susah dianggap hanya sekadar angka. Lalu, kenapa gaji menjadi titik resah meski kebutuhan terpenuhi?

  1. 1. Gaji mulai dianggap sebagai tanda perkembangan karier

    ilustrasi gaji
    ilustrasi gaji (pexels.com/Defrino Maasy)

    Nominal gaji sering ikut dibaca sebagai tanda apakah karier seseorang mengalami kemajuan. Lima tahun bekerja tentu membawa pengalaman dan tanggung jawab yang berbeda dibandingkan saat baru masuk kantor, sehingga kenaikan penghasilan ikut menjadi sesuatu yang diperhatikan. Ketika tanggung jawab bertambah tetapi angka di slip gaji hanya berubah sedikit, jelas akan muncul rasa kecewa meski kebutuhan sehari-hari masih tercukupi.

    Hal itu terasa lebih menyesakkan ketika tanggung jawab pekerjaan sudah jauh berbeda, bahkan bertambah banyak sejak awal masuk. Dulu mungkin hanya mengerjakan tugas sendiri, sekarang ikut memegang proyek, membimbing anggota tim, atau mengambil keputusan yang sebelumnya menjadi urusan atasan. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan apakah kenaikan penghasilan yang diterima sudah sepadan dengan pekerjaan yang sekarang.

  2. 2. Penghasilan teman bisa membuat gaji sendiri terasa berbeda

    ilustrasi penghasilan
    ilustrasi penghasilan (unsplash.com/Sasun Bughdaryan)

    Obrolan soal gaji dengan teman kerja atau teman kuliah kadang cukup untuk mengubah cara seseorang melihat penghasilannya sendiri. Kamu mungkin baru tahu bahwa orang yang lulus di tahun yang sama sudah mendapat angka dua kali lipat setelah beberapa kali pindah perusahaan. Informasi seperti itu sulit dilupakan begitu saja, terutama ketika pekerjaan dan pengalaman yang dimiliki terasa tidak jauh berbeda.

    Perbandingan juga gak selalu datang dari orang yang punya jabatan lebih tinggi. Teman yang masa kerjanya lebih singkat bisa saja mendapat tawaran lebih besar karena pindah perusahaan, sementara kamu masih menerima kenaikan tahunan dalam jumlah yang sama. Dari situ, keresahan soal gaji bisa melebar menjadi pertanyaan tentang keputusan karier yang selama ini diambil.

  3. 3. Gaji yang sekarang belum tentu cukup untuk rencana berikutnya

    ilustrasi slip gaji
    ilustrasi slip gaji (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

    Kebutuhan seseorang bisa berubah ketika memasuki fase kehidupan yang berbeda. Gaji yang cukup untuk membayar kos dan kebutuhan pribadi mungkin terasa berbeda ketika mulai memikirkan rumah, keluarga, membantu orang tua, atau menyiapkan dana pensiun. Bukan berarti semua rencana tersebut harus diwujudkan sekaligus, tetapi masing-masing membutuhkan biaya yang gak sedikit.

    Hal inilah yang membuat sebagian orang mulai memikirkan penghasilan bukan hanya dari jumlah yang diterima setiap bulan. Ada yang mulai menghitung berapa banyak uang yang bisa ditabung, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan dana tertentu, sampai apakah kenaikan gaji di tahun-tahun berikutnya cukup untuk mengejar kebutuhan tersebut. Perhitungan seperti ini bisa membuat gaji yang sebelumnya terasa cukup mulai dipertanyakan lagi.

    Gaji memang cuma satu bagian dari pekerjaan, tetapi nominalnya tetap berpengaruh ketika seseorang menilai kondisi kariernya. Oleh sebab itu, gaji menjadi titik resah meski kebutuhan terpenuhi. Meski begitu, rasa resah soal penghasilan juga gak selalu muncul karena ingin punya kehidupan yang lebih mentereng. Kadang, seseorang mulai merasa kurang puas karena kenaikan gajinya tidak banyak berubah, meski pekerjaan yang ditangani sudah bertambah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More