Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Menghindari Oversharing saat Ditanya soal Gaji hingga Jodoh

4 min read
5 Cara Menghindari Oversharing saat Ditanya soal Gaji hingga Jodoh
ilustrasi dua perempuan berbicara (unsplash.com/linkedinsalesnavigator)
  • Pertanyaan tentang gaji, hubungan, keluarga, atau rencana menikah bisa terasa tidak nyaman, terutama ketika datang dari orang yang tidak dekat dan terus menggali informasi.
  • Untuk menghindari oversharing, berikan jawaban singkat, alihkan topik, atau balik bertanya secara netral agar percakapan tetap berjalan tanpa membuka detail pribadi.
  • Jika pertanyaan tetap berlanjut, sampaikan batasan dengan tegas dan sopan; pertimbangkan sensitivitas informasi serta hubungan dengan orang yang bertanya sebelum menjawab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat ngobrol dengan seseorang, pertanyaan seputar pribadi bisa muncul kapan saja. Terkadang, bahkan dari orang yang sebenarnya gak terlalu dekat dengan kamu. Mulai dari pertanyaan soal gaji, hubungan asmara, keluarga, tempat tinggal, rencana menikah, sampai alasan belum punya anak.

Kadang pertanyaannya disampaikan seperti basa-basi biasa, tapi menjawabnya bisa bikin kamu gak nyaman. Apalagi kalau orang tersebut terus semakin menggali setelah kamu memberikan jawaban singkat. Sementara, menolak menjawabnya bakal dianggap jutek, tertutup, atau tidak ramah. Nah, berikut ini lima cara yang bisa kamu lakukan untuk menyikapinya.

  1. 1. Berikan jawaban singkat tanpa menjelaskan detail

    Berbicara
    ilustrasi berbicara (pexels.com/ Kampus Production)

    Cara paling mudah untuk menghindari oversharing adalah memberikan jawaban secukupnya. Kamu tak harus menjelaskan seluruh cerita hanya karena seseorang bertanya. Misalnya, ketika ditanya, "Sekarang gajimu berapa?" kamu bisa menjawab, "Masih sesuai dengan kebutuhan saat ini." Tidak perlu dilanjutkan dengan nominal, tunjangan, atau cicilan.

    Begitu juga ketika seseorang bertanya tentang hubungan asmara. Kamu bisa mengatakan, "Belum ada yang mau diceritakan," tanpa harus menjelaskan siapa yang sedang dekat denganmu, bagaimana hubungan tersebut, atau mengapa kamu belum ingin menikah. Kalau lawan bicara masih penasaran, kamu tak perlu merasa terpaksa untuk memberikan detail tambahan, cukup ulangi jawabanmu.

  2. 2. Gunakan teknik mengalihkan pertanyaan

    Nongkrong bareng teman
    ilustrasi kumpul bareng teman (pexels.com/elevate)

    Tidak semua pertanyaan pribadi harus dijawab secara langsung. Kalau kamu merasa topiknya terlalu sensitif, kamu bisa alihkan pembicaraan. Contohnya, ketika teman bertanya, "Kapan kamu mau menikah?" kamu bisa menjawab, "Belum kepikiran ke sana. Eh, ngomong-ngomong, pekerjaan barumu bagaimana?"

    Dengan begitu, kamu tetap memberikan respons tanpa membuka informasi yang sebenarnya tak ingin kamu bagikan. Teknik ini juga berguna ketika berada dalam situasi sosial, seperti acara keluarga, kumpul bersama teman, atau bertemu kenalan lama. Kamu bisa mengarahkannya ke topik yang lebih netral. Kalau dilakukan dengan santai, biasanya topik obrolan akan berpindah dengan sendirinya.

  3. 3. Balik bertanya dengan pertanyaan yang lebih netral

    Berbicara, ngobrol
    ilustrasi berbicara (pexels.com/august-de-richelieu)

    Ada kalanya kamu tak ingin memberikan jawaban panjang, tapi juga tak ingin percakapan langsung berhenti. Kalau begini, kamu bisa menggunakan teknik balik bertanya. Misalnya, seseorang bertanya, "Kamu kok belum punya pasangan?" Daripada menjelaskan kehidupan percintaanmu, kamu bisa menjawab, "Belum ada yang cocok. Kalau kamu sendiri, bagaimana?"

    Cara ini mengubah arah percakapan tanpa harus memberikan terlalu banyak informasi mengenai dirimu. Teknik tersebut juga bisa digunakan dalam berbagai situasi. Saat ditanya soal pekerjaan, misalnya, kamu bisa memberikan jawaban umum kemudian bertanya tentang pekerjaan mereka. Selain bikin obrolan tetap hidup, cara ini juga mengurangi kemungkinan kamu terdorong untuk menjelaskan sesuatu yang sensitif.

  4. 4. Sampaikan batasan dengan kalimat yang tegas dan sopan

    Teman
    ilustrasi kumpul bareng teman (unsplash.com/heftiba)

    Ada situasi ketika jawaban singkat atau pengalihan pembicaraan tak cukup. Jika seseorang terus bertanya meskipun kamu sudah memberikan sinyal bahwa topik tersebut gak nyaman, kamu berhak menetapkan batasan. Gak perlu menggunakan nada marah. Cukup katakan, "Aku agak kurang nyaman membahas hal itu," atau "Untuk yang satu itu, aku belum bisa cerita banyak".

    Kalimat seperti ini cukup jelas untuk menunjukkan bahwa kamu tak ingin melanjutkan pembicaraan. Kalau ingin terdengar lebih santai, kamu bisa menyesuaikannya dengan situasi. Menetapkan batasan bukan berarti kamu tidak menghargai orang lain. Justru, itu membantu orang lain memahami informasi apa yang boleh dan yang sebaiknya tidak ditanyakan.

  5. 5. Sadari mana informasi yang boleh dibagikan atau disimpan

    Sekumpulan pria
    ilustrasi pria bekerja (unsplash.com/austindistel)

    Tak semua informasi pribadi memiliki tingkat sensitivitas yang sama. Karena itu, sebelum menjawab, coba pikirkan apakah informasi tersebut memang aman untuk dibagikan atau tidak. Informasi seperti hobi, makanan favorit, film, atau kegiatan sehari-hari mungkin relatif ringan.

    Namun, informasi mengenai kondisi keuangan, masalah keluarga, konflik hubungan, atau data pribadi lainnya tentu gak boleh sembarangan dibagi. Kamu juga perlu memperhatikan siapa yang bertanya. Jawaban yang nyaman diberikan kepada sahabat belum tentu cocok dibagikan kepada rekan kerja atau kenalan yang baru ditemui.

    Menjawab pertanyaan pribadi tanpa oversharing bukan berarti kamu orang yang tertutup. Kamu tetap bisa bercanda, berbicara, dan membangun hubungan yang dekat dengan orang lain tanpa harus membuka seluruh kehidupan pribadi. Lima cara di atas bisa tetap menjaga privasimu tanpa membuat suasana menjadi canggung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More