"Salah satu perubahan terbesar yang terjadi saat kita bertambah dewasa adalah kita tidak lagi membutuhkan orangtua dengan cara yang sama seperti ketika masih anak-anak, dan itu bisa menjadi hal yang sulit bagi kedua belah pihak," kata Jocelyn Chamra-Barrera, pekerja sosial klinis, dikutip dari Real Simple.
Kenapa Ngobrol dengan Orangtua Masih Bisa Memicu Emosi meski Sudah Dewasa?

Kamu mungkin sudah terbiasa menghadapi tekanan pekerjaan, menyelesaikan masalah dengan pasangan, atau mengelola konflik dengan teman. Namun entah kenapa, percakapan sederhana dengan orangtua kadang masih bisa membuat emosi naik turun dalam hitungan menit.
Pertanyaan yang terasa terlalu mengatur, komentar yang terdengar menghakimi, atau nasihat yang memicu kesal mungkin terdengar familier. Jika kamu masih sering merasa seperti kembali menjadi anak kecil saat ngobrol dengan orangtua, ternyata ada penjelasan psikologis di baliknya. Kira-kira kenapa ngobrol dengan orangtua masih bisa memicu emosi meski sudah dewasa? Yuk, simak penjelasannya!
1. Hubungan dengan orangtua menyimpan sejarah yang panjang

Berbeda dengan hubungan pertemanan atau pasangan, hubungan dengan orangtua dibangun sejak kita lahir. Ada banyak pengalaman, ekspektasi, kebiasaan, hingga konflik yang tersimpan selama bertahun-tahun.
Ketika dulu kita sering meminta izin, nasihat, atau bantuan, kini kita lebih mandiri dan hanya menghubungi orangtua saat diperlukan. Perubahan ini terkadang membuat hubungan terasa canggung atau lebih sensitif dibanding sebelumnya.
2. Sistem saraf masih mengingat pola masa kecil

Pernah merasa langsung kesal hanya karena mendengar nada bicara tertentu dari orangtua? Menurut terapis keluarga Saba Harouni Lurie, dikutip dari Real Simple, sistem saraf manusia sangat pandai mengenali hal-hal yang terasa familier.
"Ketika kita berada di dekat seseorang yang memiliki sejarah panjang dan penting secara emosional dengan kita, sistem saraf dapat merespons isyarat yang bahkan tidak kita sadari, seperti nada suara tertentu, kalimat yang familiar, atau bahkan sebuah tatapan," jelasnya.
Artinya, tubuh dan otak kita masih menyimpan berbagai pola yang terbentuk sejak kecil. Karena itulah, komentar yang mungkin terdengar biasa dari orang lain bisa terasa jauh lebih mengganggu jika datang dari orangtua.
3. Kadang yang bereaksi bukan dirimu yang sekarang

Saat berbicara dengan orangtua, mungkin kamu tiba-tiba menjadi lebih defensif, mudah tersinggung, atau justru berusaha menyenangkan mereka secara berlebihan. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kamu merasa cukup percaya diri dan tenang.
"Itu adalah regresi, dan hal tersebut sangat umum terjadi. Banyak orang dewasa tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak bereaksi sebagai diri mereka yang dewasa. Mereka bereaksi sebagai versi diri mereka yang lebih muda," ujar Nina Batista, seorang terapis hubungan dan trauma, dikutip dari Real Simple.
Versi diri yang lebih muda ini masih membawa kebutuhan akan penerimaan, rasa aman, validasi yang dulu sangat bergantung pada orangtua. Itulah sebabnya kenapa meskipun kamu sudah dewasa, versi diri yang lebih muda ini masih hidup dalam trauma.
4. Reaksi yang terasa berlebihan bisa jadi berasal dari luka lama

Salah satu tanda bahwa emosi yang muncul berasal dari pola lama adalah ketika reaksi yang dirasakan terasa jauh lebih besar daripada situasi yang sebenarnya terjadi. Menurut Saba Harouni Lurie, hal tersebut sering menjadi petunjuk bahwa ada pengalaman masa lalu yang ikut tersentuh.
Misalnya, orangtua bertanya apakah kamu yakin dengan pilihan kariermu. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti perhatian biasa. Namun bagi mereka yang sejak kecil sering dikritik atau diragukan, pertanyaan tersebut bisa terasa seperti bentuk ketidakpercayaan.
5. Memberi jeda sebelum merespons bisa sangat membantu

Meski pola-pola lama masih muncul, bukan berarti hubungan dengan orangtua tidak bisa menjadi lebih sehat. Para ahli menyarankan untuk memberi jeda sejenak sebelum bereaksi. Menurut Batista, salah satu pertanyaan yang bisa membantu adalah, "Apa yang sebenarnya baru saja terjadi?" bukan "Ini mengingatkanku pada pengalaman apa?"
Dengan kata lain, cobalah membedakan antara situasi yang sedang berlangsung saat ini dengan pengalaman masa lalu yang mungkin ikut terbawa. Selain itu, menarik napas, menenangkan diri, atau mengambil waktu sejenak sebelum melanjutkan percakapan juga dapat membantu mengurangi respons emosional yang berlebihan.
Kalau ngobrol dengan orangtua masih sering memicu emosi, bukan berarti kamu belum dewasa. Bisa jadi, hubungan keluarga memang menyimpan pola dan luka lama yang membutuhkan waktu untuk dipahami serta dihadapi dengan lebih tenang.



















