Indonesia Summit 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
In This Economy, Gen Z dan Milenial Cemas Finansial hingga Tunda Nikah

- Lebih dari separuh Gen Z dan Milenial Indonesia merasa cemas soal keuangan, dengan 65,8 persen menahan pengeluaran karena takut kondisi finansial memburuk di masa depan.
- Sebanyak 46,4 persen responden menilai kemiskinan disebabkan faktor sistemik seperti ekonomi dan akses kerja, bukan semata kurangnya usaha individu.
- Kecemasan finansial membuat 38 persen Gen Z dan Milenial menunda pernikahan, sementara biaya hidup tinggi menjadi kekhawatiran utama di tengah pasar kerja yang belum stabil.
Jakarta, IDN Times - Punya ambisi untuk stabil secara finansial bukan hal yang asing bagi Gen Z dan Milenial Indonesia. Tapi yang bergeser belakangan ini bukan soal semangatnya, melainkan keyakinan bahwa kerja keras saja sudah cukup untuk menjamin masa depan. Semakin banyak yang merasa bahwa jarak antara kondisi saat ini dan stabilitas yang diharapkan masih terlalu jauh, meski berbagai upaya sudah dilakukan.
Kondisi ini punya nama, yakni peniaphobia. Bukan dalam pengertian klinis, tapi lebih sebagai orientasi dalam menghadapi ketidakpastian. Bagaimana seseorang membaca risiko dan membuat keputusan finansial di tengah masa depan yang terasa sulit diprediksi.
Temuan survei Indonesia Millenial and Gen Z Report 2027 oleh IDN Research Institute pun memperkuat fenomena ini. Sebanyak 65,8 persen responden menyatakan setuju bahwa mereka cenderung menahan atau menunda pengeluaran karena khawatir kondisi finansialnya bisa memburuk. Yuk, simak selengkapnya!
1. Lebih dari separuh Gen Z dan Milenial mengaku cemas pada kondisi finansial mereka

Kecemasan finansial bukan lagi sekadar perasaan sesekali, tapi sudah jadi kondisi yang melekat dalam keseharian Gen Z dan Milenial. Survei IMGR mencatat, sebanyak 65,8 persen responden mengaku cenderung menahan atau menunda pengeluaran karena khawatir kondisi finansial mereka bisa memburuk di masa depan. Artinya, lebih dari separuh merasa bahwa ancaman finansial itu nyata dan selalu ada.
Temuan menarik lainnya, kecemasan ini tidak selalu berujung pada satu pola perilaku yang seragam. Ada yang merespons dengan makin hati-hati dalam belanja dan memprioritaskan kebutuhan pokok. Ada juga yang justru melakukan pembelian kecil sebagai bentuk kontrol jangka pendek yang terasa lebih nyata. Tapi meski responnya berbeda-beda, akarnya sama, yaitu upaya menjaga rasa aman di tengah masa depan yang terasa makin sulit diprediksi.
2. Gen Z dan Milenial semakin sadar, kemiskinan berporos pada sistem, bukan individu

Selain perilaku konsumsi, ada pergeseran lain yang tak kalah menarik. Cara Gen Z dan Milenial memandang penyebab kemiskinan sekarang sudah mulai bergeser. Sebanyak 46,4 persen responden setuju bahwa kemiskinan lebih disebabkan oleh faktor sistemik, seperti kondisi ekonomi, akses pendidikan, peluang kerja, dan struktur sosial. Bukan berporos pada faktor individu seperti kemalasan atau kurang kerja keras.
Pergeseran perspektif ini punya implikasi yang cukup besar. Ketika seseorang melihat stabilitas finansial bukan sepenuhnya dalam kendali pribadi, kecemasan pun tak lagi hanya soal 'apakah aku sudah cukup berusaha?', tapi bergeser ke 'apakah sistemnya mendukung aku untuk berhasil?'. Ini juga yang membuat banyak dari mereka lebih tertarik pada konten financial management yang praktis dan bisa langsung diterapkan, dibanding konten yang menekankan risiko jatuh miskin.
3. Biaya hidup kini menjadi kekhawatiran utama

Kecemasan finansial Gen Z dan Milenial Indonesia bukan fenomena lokal semata. Secara global, survei Deloitte Gen Z & Millennial 2025 mencatat, bahwa 39 persen Gen Z mengakui biaya hidup adalah kekhawatiran utama mereka, bahkan mengalahkan isu kesehatan mental maupun pengangguran. Artinya, tekanan finansial sudah jadi bahasa universal yang dirasakan generasi ini di mana pun mereka berada.
Di Indonesia, tekanan itu terasa makin nyata di tengah kondisi pasar kerja yang belum sepenuhnya pulih. Data BPS Sakernas 2025 mencatat jumlah pengangguran terbuka per Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang, naik dibanding Februari 2025 yang sebesar 7,28 juta orang. Hal yang lebih mengkhawatirkan, hampir satu dari tiga pekerja Indonesia tidak bekerja penuh waktu. Dari 146,5 juta orang yang bekerja, sebanyak 47,9 juta atau 32,7 persen masuk kategori tidak bekerja penuh. Terjebak di pekerjaan informal, musiman, atau dengan jam kerja rendah.
4. Menunda nikah jadi pilihan

Salah satu dampak paling konkret dari kecemasan finansial ini adalah keputusan menunda pernikahan. Dalam hasil Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 pun, tercatat bahwa 38 persen Milenial dan Gen Z mengaku menunda pernikahan karena alasan finansial. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cerminan dari kalkulasi panjang yang dilakukan banyak anak muda sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup.
Pernikahan bukan lagi hanya soal kesiapan emosional, tapi juga kesiapan ekonomi yang terasa makin berat untuk dicapai. Di tengah biaya hidup yang terus naik dan kondisi kerja yang belum stabil, menunda jadi pilihan yang terasa paling rasional. Bahkan, bagi mereka yang sebetulnya sudah ingin menikah.
5. Gen Z dan milenial bukannya enggan untuk mengelola keuangan

Di balik semua kecemasan itu, ada sinyal positif yang menarik. Sebanyak 69,1 persen responden menyatakan lebih tertarik pada konten financial management yang praktis dan bisa langsung diterapkan, dibanding konten yang menekankan risiko jatuh miskin. Ini menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial bukan generasi yang pasrah, mereka justru aktif mencari cara untuk mendapatkan kendali atas kondisi finansialnya.
Tantangannya bukan soal motivasi, tapi soal ekosistem yang mendukung. Selama kualitas pekerjaan yang tersedia belum memadai dan akses terhadap informasi finansial yang relevan masih terbatas, kecemasan itu akan terus jadi latar belakang dari setiap keputusan finansial yang mereka buat.
Cemas finansial di kalangan gen Z dan milenial bukan tanda kelemahan, tapi respons logis terhadap kondisi yang memang tidak mudah. Hal yang mereka butuhkan bukan sekadar motivasi, tapi sistem dan informasi yang benar-benar bisa membantu mereka melangkah maju.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". Indonesia Summit 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.


















